SELUDUPAN: Bea Cukai Aceh menggagalkan upaya penyelundupan ribuan batang bibit dan pohon kurma serta barang ilegal lainnya di perairan timur Pulau Sumatera saat konferensi pers di kantor Bea Cukai Aceh, Selasa (30/5). HENDRI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH ( RA) – Patroli laut Bea Cukai kapal BC 30002 tergabung dalam Tim Operasi Jaring Sriwijaya, berhasil gagalkan upaya penyelundupan ribuan batang bibit dan pohon kurma ilegal di perairan timur pulau sumatera.

Kepala Kanwil Aceh, Rusman Hadi mengatakan, penindakan pertama dilakukan pada KM Sahabat Jaya I berbendera Indonesia di perairan Aceh Tamiang, Sabtu (6/5). Selain kapal, turut pula ditahan nahkoda berinisial D dan dua orang Anak Buah Kapal (ABK) berinisial S dan R. Barang bukti yang disita 1.231 batang bibit pohon kurma.

“Tak berselang lama di sekitar lokasi yang sama, kapal BC 30002 menindak KM Harapan Tujuh. Kapal berbendera Indonesia dan dinahkodai M dan empat orang ABK, yaitu Z, R, SY, dan SN. Di sana, petugas mendapatkan barang impor ilegal berupa 80 batang pohon kurma, 5,35 ton beras serta 61 kotak makanan kucing,” sebutya, Selasa (30/5).

Ia mengatakan, saat dideteksi keberadaannya, kedua kapal di atas berusaha melarikan diri dan tidak mengindahkan peringatan petugas untuk berhenti. Namun setelah dikejar, akhirnya KM Sahabat Jaya I dan KM Harapan Tujuh berhasil ditangkap. Berikutnya diamankan di Dermaga Bea Cukai Sumatera Utara di Belawan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Dari pemeriksaan awal, diketahui bahwa kedua kapal tersebut mengangkut bibit dan pohon kurma, beras, serta barang ilegal lainnya dari pelabuhan Satun, Thailand dengan tujuan Aceh Tamiang,” ujarnya.

Selanjutnya, barang tidak dilengkapi dengan dokumen dan kedua nahkoda dijadikan tersangka tindak pidana penyelundupan impor, melanggar pasal 102 huruf a UU Nomor 10.1995 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 17/2006 tentang Kepabeanan.

Barang bukti kasus ini telah disita di Sumatera Barat dan hingga kini kasusnya masih dalam proses penyidikan kantor wilayah Bea Cukai Aceh. “Kasus ini masih kita selidiki,” katanya.

Selain itu, Bea Cukai Aceh berhasil menyita 1,181 juta rokok ilegal yang beredar di Serambi Mekkah. Jutaan barang ilegal itu dari berbagai merek rokok tanpa menggunakan pita cukai resmi dari pemerintah.

Penyitaan rokok ilegal beragam merek ini hasil Operasi Patug Ampadan I sejak 15 Mei 2017 lalu hingga sekarang. Dari hasil penyitaan ini, Bea Cukai telah berhasil gagalkan peredaran rokok palsu senilai Rp1,5 miliar lebih.

Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh, Rusman Hadi mengatakan, barang ilegal itu didapatkan dari Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh dan Kota Langsa.

“Pelanggaran yang dilakukan adalah dilekati pita cukai palsu, ada yang bekas dan juga dilekati pita cukai yang bukan peruntukannya serta rokok yang seharusnya bisa beredar di Kawasan Bebas Sabang,” kata Rusman Hadi.

Disebutkannya penyitaan dilakukan dari sebuah rumah Dusu Balee Cut, Gampong Lambheu, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Ahad (21/5). “Ini penyitaan terbesar dan ini kami peroleh informasi dari masyarakat,” tukasnya.

Setelah melakukan pengintaian selama beberapa hari, sebutnya, setelah mendapatkan bukti yang cukup, petugas langsung melakukan penyitaan rokok ilegal di rumah tersebut sebanyak 67.990 bungkus rokok ilegal.

Petugas menemukan modus yang dipergunakan rokok yang hanya bisa diperjualbelikan di Sabang. Kemudian menggunakan pita palsu dan menjual di daratan, seperti di Banda Aceh dan sejumlah daerah lainnya.

“Pelaku memang sengaja menjual rokok tersebut tanpa membayar cukai untuk meraup keuntungan yang lebih besar,” sebutnya.
Kata Rusman, kasus ini sekarang sedang dalam proses penyidikan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PNNS) Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh. Pelaku melanggar Pasal 54 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995. Pelaku atas beberapa kasus tersebut ada ditangkap 3 orang yang masih sedang dilakukan penyelidikan.

“Kita tengarai masih banyak rokok ilegal yang beredar di Aceh. Selama 2017 ini berhasil kita sita 3 juta batang rokok dengan potensi penerimaan cukai Rp1 miliar lebih,” imbuhnya.(ibi/mai)