TUNGGU IKAN: Warga mulai mendatangi tempat pendaratan ikan menunggu boat nelayan pulang di tepi pantai Ujung karang, Sawang, Aceh Selatan, Selasa (30/5). Sudirman Hamid/Rakyat Aceh

TAPAKTUAN (RA) – Memasuki awal bulan ramadan tahun ini harga ikan kian mahal di Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (30/5). Selain persoalan harga, ikan juga sulit diperoleh dan langka di sejumlah pasar.

Seorang pedagang ikan, Zaimar mengatakan, kenaikan harga saat ramadan sudah menjadi kebiasaan, karena para nelayan belum banyak yang melaut. Sehingga persediaan ikan jadi berkurang.

“Jika ikan karang jenis ekspor, seperti kerapu merah, geuruntong, tenggiri dan kakap merah malah lebih tinggi dan nyaris tidak terjangkau pembali. Hari biasa Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram, saat ini paling murah Rp110.000 per kilogram. Itupun tidak ada barang (tidak ada ikanya),” kata Zaimar kepada Rakyat Aceh.

Menurut Zaimar, kenaikan harga ikan dipengaruhi faktor cuaca buruk yang melanda perairan Aceh Selatan sejak dua pekan jelang ramadan. Angin kecang dan ombak besar membuat nelayan takut dan enggan melaut.

“Buntutnya, ikan basah menjadi langka,” tambahnya.
Sementara seorang pawang boat, Hendri menambahkan, kelangkaan ikan dikarenakan masih banyaknya nelayan yang belum melaut. Saat ini, hanya boat pancing dan sampang yang melaut. Ia yakin harga ikan ke depan akan kembali normal.

“Sudah mentradisi bagi nelayan Aceh Selatan, awal bulan puasa tidak turun melaut. Kita baru berlayar pada hari keempat atau kelima ramadan. Kondisi ini dilakukan supaya berkesempatan menunaikan ibadah puasa dan salat tarawih bersama keluarga. Bila sudah beraktivitas di laut,” katanya.
Saat ini, sejumlah kapal nelayan jenis 20-35 GT masih bersandar di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Lhok Pawoh, PPI Sawang Bau, PPI Pasie Meukek dan Labuhanhaji. (dir/lin)