Dibakar Belanda Hingga Dihancurkan Bencana

Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Banda Aceh, DESI BADRIANA/RAKYAT ACEH

Banda Aceh (RA) – Masjid Jami’ Ulee Lheue dibangun abad ke-17 di era Sultan Aceh. Belanda membakarnya tahun 1873. Sejak itu namanya berganti Baiturrahim. Gempa dahsyat 1983 menjatuhkan kubahnya. Episode terakhir gelombang raya datang menyapu.

Desi Badrina – Banda Aceh

Lelaki itu duduk di sebuah kursi kayu di pekarangan Masjid Baiturrahim. Ia baru saja melaksanakan salat Ashar bersama puluhan jamaah lainnya. “Saya senang melihat masjid sekarang indah-indah sekali,” ujar Adi. Pandangannya tertuju ke arah bangunan depan masjid yang polesan cat putihnya sudah mulai memudar.
Adi salah seorang pengurus Masjid Baiturrahim. Desember nanti, genap 13 tahun ia mewakafkan diri untuk masjid peninggalan Sultan Aceh. “Masjid ini berdiri abad 17. Banyak cerita di dalamnya. Termasuk gubernur pertama Aceh, Teuku Nyak Arif, lahir di masjid ini,” kata lelaki yang lahir 43 tahun silam.

Meski memiliki banyak sejarah, namun bagunan yang memiliki satu kubah itu, terlihat sederhana dan memancarkan aura kemegahan masa lampau. “Dulu bentuk Masjid Baiturrahim, sama seperti masjid di Indrapuri. Lalu pada 1882, baru diperluas arsitek dari Belanda. Mereka menyebutnya, masjid tanpa besi. Ukuruannya 500 meter persegi,” kata Adi.

Masjid yang sempat menjadi pusat peribadatan muslim di Banda Aceh ini, pernah dibakar Belanda pada 1873. Nilai sejarah itu, membuat banyak wisatawan berkunjung menjadikan masjid ini banyak dikunjungi wisatawan luar.

Adi mengatakan, ketika tsunami 2004 lalu, hanya dua bangunan yang tersisa di Ule Lhee, Kecamatan Meuraxsa, Banda Aceh ini. “Masjid Baiturrahim dan rumahnya imam masjid, Teungku Abdullah,” kata Adi sambil menunjuk rumah berbahan papan di balik pagar masjid.

Ia mengisahkan, bagaimana kedahsyatan gelombang tsunami setinggi 20 meter di bibir pantai Ule Lhee itu menyapu bersih semua bagunan yang berada 300 meter dari pantai. “Dulu masjid 300 meter dari bibir pantai, sekarang tinggal 60 meter lagi,” ujarnya. Ia melanjutkan, dari 6000 jiwa manusia yang terdaftar di kantor kependudukan, yang tersisa hanya 451 jiwa lagi.

“Dari masjid ini pula dulu, para jaamaah haji berangkat ke Mekkah, melalui Sabang. Mereka menempuh perjalanan dengan kapal laut selama tiga bulan,” kisah Adi.

Kini, meski bentuk masjid berkubah, namun kesan perpaduan antara bagunan eropa dan Aceh, masih terasa jika para jamaah berada di lantai dua masjid, yang terkesan mirip dengan masjid tua Indrapuri. “Masjid Baiturrahim bisa menampung lebih kurang 1500 orang jamaah sampai ke lantai dua,” terang Adi.

Masjid Baiturrahim dilengkapi dengan museum mini. Begitu Adi menyebutnya. Museum mini itu sebenarnya galeri yang berisi banyak potret sejarah terkait Masjid Baiturrahim. Tak hanya itu, berbagai souvenir, seperti task khas Aceh, kerudung, sandal dan kerajinan lainnya juga tersedia untuk para wisatawan yang ingin membeli buah tangan dari masjid itu.

“Galeri itu di bangun sekitar tahun 2014. Hasil dari sana, akan dibagi tiga. Satu bagian untuk pengelola, dan dua bagian untuk masjid,” jelas Adi. Nantinya, uang dari galeri itu akan digunakan untuk kepentingan masjid, seperti membayar listrik, air, dan operasional lainnya.

Selama Ramadan, seperti masjid lainnya di Aceh, Baiturrahim juga menyelenggarakan program Nuzul Quran. “Warga Ule Lhee memang tak banyak lagi. Dari 451 yang tinggal itu sudah banyak yang dipindahkan ke Desa Nehen, dan daerah lainnya sesuai dengan rumah bantuan yang diberikan pemerintah Aceh. Tapi menariknya, saat Ramadan seperti ini, banyak dari mereka yang awalnya tinggal di sini, pulang kembali hanya untuk iktikaf di masjid,” katanya sambil tertawa.

Ia yang dulu melaut sebelum tsunami, kini fokus menjadi pengurus masjid. Dalam bayangannya pun, yang masuk sebagai orang yang di tuakan di gampong itu, kesan masjid indah di pinggir pantai tak bisa hilang dari ingatannya.

Seorang Imam rawatip Masjid Baiturrahim Ule Lhee, Ustad Zega asal Nias, mengakui sejarah masjid itu. “Pernah ada yang berceramah di sini, dan bilang bahwa besar kemugkinan, orang zaman dulu yang membangun masjid ini benar-benar ikhlas, makanya Allah melihatkan kuasanya lewat masjid ini, yang tidak hancur saat tsunami,” ujar Masrin Zega. Ia sendiri sudah empat tahun menjadi pengurus masjid.
Meski berasal dari luar Aceh, namun dia bangga bisa menjadi bagian dari masjid yang punya banyak nilai sejarah itu. (mai)