Kompleks PKA Terbengkalai

Disarankan Jadi Tempat Wisata

Salah satu anjungan di PKA yang terletak di Taman Ratu Safiatuddin, Lamprit, terkesan diabaikan dan dimanfaatkan hanya event-event tertentu. (rakyat aceh/ist)

BANDA ACEH (RA) – Sejumlah anjungan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang terletak di Taman Ratu Safiatuddin, Lamprit, terkesan diabaikan dan dimanfaatkan hanya event-event tertentu. Sehingga, bangunan yang megah menjadi luput terkena hujan. Untuk itu, Peubeudoh Sejarah Adat dan Budaya Ace (Peusaba) meminta pemerintah Aceh menjadikan Komplek PKA Galeri Adat dan Budaya Aceh.

Ketua Peusaba, Mawardi Usman meminta pemerintah Aceh memperhatikan kompleks PKA yang sudah terbengkalai tanpa perawatan. Kompleks PKA (Pekan kebudayaan Aceh) dapat dijadikan galeri seni, adat dan budaya dan dapat diolah menjadi sebuah ikon wisata yang dapat dikunjungi wisatawan.

“Apalagi PKA juga merupakan situs yang selamat dari tsunami dahsyat 2004. Ini bisa digunakan jadi pembelajaran tentang back to basic, kembali ke rumah adat Aceh yang kaya budaya. Peusaba miris melihat arena PKA terbengkalai dan kumuh tiada yang mengurus alangkah lebih baik dijadikan tempat wisata, sehingga PKA jadi ikon Aceh yang kaya budaya,” ungkapnya didampingi sekretaris Muammar Al-Farisi, Selasa (13/6).

Dari Peusaba, lanjutnya, sangat menyayangkan bangunan yang bagus hanya dipakai lima tahun sekali, setelah itu dibiarkan begitu saja. Dikatakan, Peusaba dan komunitas budaya lainnya juga siap memberi masukan dan bekerjasama dengan pemerintah untuk menjadikan PKA sebagai salah satu ikon Aceh.

Dikatakan, bulan ramadan memiliki penuh sejarah bagi orang di Aceh. Pasalnya, bulan ramadan adalah bulan penuh berkah di Aceh ditandai pada tanggal 1 Ramadan 601 sebagai terbentuk kerajaan Aceh Darussalam yang berpusat di Kampung Pande dengan pendirinya Sultan Johan Syah As Seljuki Al Bagdadi turunan sultan Ilik Khan dari

Turkistan, kedua adalah Bulan wafatnya Sultan Malik As Salih Sultan pertama di Samudera Pasai, sultan yang terkenal sebagai sultan pengirim Dai ke seluruh nusantara yang wafat pada bulan Ramadan 696 H.

Peusaba mengharapkan Pemerintah Aceh kedepan mengagendakan peringatan kedua tokoh besar Aceh itu dalam bulan Ramadan, sebab mereka adalah Tokoh Perintis Islam di Asia Tenggara. (adi/rif)