Teganya, Maute Paksa Anak-Anak Jadi Militan

Presiden Filipina Rodrigo Duterte (tengah). (Presidential Communications Operations Office, Malacanang Palace via AP)

Harianrakyataceh.com – Nyaris dua bulan pertempuran di Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Kepulauan Mindanao, berlangsung. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Padahal, Militer Filipina (AFP) mengklaim sudah menewaskan lebih dari 300 anggota Maute, kelompok militan yang menguasai kota tersebut. Karena itu, kelompok militan yang loyal terhadap ISIS tersebut mulai memaksa anak-anak warga Marawi yang terjebak untuk menjadi anggotanya.

Saat ini masih ada sekitar 2.000 warga yang terjebak di Marawi, termasuk 300 orang yang disandera. Sementara itu, 400 ribu warga lainnya sudah membanjiri kamp-kamp pengungsi di sekitar kota tersebut. Lalu, ada 80–100 anggota Maute yang masih bersembunyi dan terus melancarkan serangan ke AFP. Nah, dari jumlah tersebut, AFP yakin ada anak-anak warga setempat yang dipaksa Maute ikut mengangkat senjata dan menembaki tentara.

Juru Bicara AFP Brigjen Restituto Padilla mengungkapkan, informasi miris tersebut didapat dari para penduduk yang berhasil melarikan diri. Sejauh ini, belum jelas apakah di antara anak-anak yang dipaksa angkat senjata itu ada yang menjadi korban tewas dalam pertempuran. AFP sulit membedakan karena sebagian anggota Maute yang asli juga berusia belasan tahun. Mereka dilatih menjadi militan sejak masih anak-anak.

’’Pasukan kami berusaha sebaik-baiknya agar anak-anak yang dipaksa menjadi militan itu tak menjadi korban,’’ ujar Padilla. Caranya adalah menembak di area tertentu agar persenjataannya bisa dilucuti dan mereka ditolong. ’’Mereka membawa senjata dan terlibat dalam pertempuran. Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Hal itu juga berlaku untuk tawanan yang dipaksa bertempur,’’ tambahnya. AFP pernah menyatakan bahwa para tawanan itu dipaksa untuk membantu Maute membawa amunisi, militan yang luka, serta menjarah kota.

Serangan udara hampir setiap hari membuat Marawi kini mirip kota hantu. Bangunan-bangunan yang tinggi dan diduga ditempati penembak jitu Maute dihancurkan. Asisten Sekretaris Urusan Komunikasi Kepresidenan Filipina Marie Banaag mengungkapkan, jumlah korban jiwa konflik di Marawi melonjak menjadi 507 orang. Perinciannya, 379 orang adalah militan, 89 orang anggota AFP, dan 39 orang penduduk sipil.

Jumlah korban jiwa mungkin bisa lebih tinggi. Sebab, militan maupun penduduk sipil yang tewas di desa-desa yang masih dikuasai Maute belum dihitung.

Hingga kemarin, Presiden Filipina Rodrigo Duterte belum bisa menginjakkan kaki di Marawi. Pemimpin yang akrab dipanggil Digong itu sudah tiga kali berusaha mengunjungi prajuritnya di medan perang. Yaitu pada 8 Juni, 30 Juni saat memperingati setahun pemerintahannya, dan yang terakhir pada Jumat (7/7). Ketiganya gagal karena masalah cuaca. Padahal, dalam kunjungan terakhir, Duterte terlihat seperti tengah bersiap ikut perang. Dia mengenakan baju kamuflase khas tentara.

Duterte hanya pernah mengunjungi prajuritnya yang luka-luka di Iligan. Kota yang berbatasan dengan Marawi itu kini tak lagi mau menampung jenazah korban tewas di medan perang. Pemerintah setempat kewalahan karena sekitar 20 ribu penduduk Marawi yang melarikan diri kini tinggal di berbagai kamp pengungsian di Iligan.

Sanitasi minim membuat pengungsi sakit-sakitan. Departemen Kesehatan Filipina menyatakan, lebih dari 3 ribu orang terkena masalah pernapasan, diare, hipertensi, demam, dan berbagai masalah lainnya. Sekitar 31 orang akhirnya meninggal, termasuk bayi yang tewas karena dehidrasi akibat diare.

Agar tak lagi membebani Iligan dan sekitarnya, Kepolisian Nasional Filipina menyiapkan laboratorium keliling. Dengan begitu, jenazah yang dievakuasi tak perlu lagi dibawa ke kota yang terletak di wilayah utara Mindanao itu. Pemerintah Provinsi Lanao del Sur juga melatih penduduk sipil untuk menjadi relawan evakuasi. Mereka akan diterjunkan bersama dengan tim penyelamat begitu konflik usai nanti.

’’Kita harus bersiap. Kita harus selangkah lebih maju atas apa yang mungkin terjadi nanti,’’ terang Juru Bicara Komite Manajemen Krisis Provinsi Lanao del Sur Zia Alonto Adiong.

Mereka kini tengah menunggu fatwa dari ulama tentang bagaimana memperlakukan jenazah dalam Islam. Mayoritas penduduk Marawi adalah muslim. Adiong berharap, ketika konflik selesai nanti, mereka semua siap untuk langsung bergerak.

Di semua pusat evakuasi kini sudah ada bagian khusus untuk orang-orang yang merasa kehilangan keluarganya. Mungkin mereka menjadi salah satu korban. Keluarga yang masih hidup tinggal memberikan sampel untuk tes DNA. Jika ada yang cocok, jenazah diserahkan agar dimakamkan secara layak. (AFP/Philstar/Inquirer/sha/c19/any)