Ubi Jemur Pengusir Lapar

Meulaboh (RA)-Hanya lima pohon sawit, bekalnya menjalani hari di usia senja. Acap kali, sebagai pengusir lapar, dirinya terpaksa menyantap ubi jemur. Namun Toyimah tak berhenti bersyukur.

Deni Sartika-Maulaboh

Tiang-tiang kayu terlihat lapuk dimakan usia. Sementara retak, nyaris menguasai seluruh lantainya. Begitulah kondisi gubuk yang dihuni Toyimah, warga Desa Persiapan Pasir Putih, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat.
Duafa berusia 88 tahun itu, ditinggal meninggal suaminya tahun 2002 lalu. Selain terpuruk ekonomi, ia juga tinggal sendiri di gubuk reyotnya. Ia mengaku terkadang kesepian.

Hanya saja Toyimah tak ingin dikasihani keluarga apalagi tetangga. Kesehatannya yang menurun, ia tutup dengan beraktifitas saban hari. “Kedua anak saya telah menikah dan punya anak. Biar dia urus keluarganya saja,” katanya.

Kesendirian pulih hanya dengan bercengkrama dengan cucunya bila datang membesuk. Anak Toyimah yang paling kecil, Jemjem, memang sering mengunjunginya. Sepulang dari kabun, Jemjem pasti terlihat menyempatkan diri untuk melihat kondisi ibunya.

Serupa dengan ibunya Jemjem juga jelata. Setiap hari dirinya bertani mengurus sayur dan ubi. Toyimah dan anaknya, setiap hari konsumsi nasi beras Raskin tanpa lauk.

“Cukup ditaburi sedikit garam tanpa minyak, itu menu istimewa,” kata sang nenek.
Hidup semakin runyam, bila beras yang dibagikan untuk rakyat miskin itu macet tiga bulan. Toyimah terpaksa makan ubi sebagai pengganti nasi. Ubi itu berasal dari kebun Jemjem. Dicuci sampai bersih, dijemur hingga kering, lalu dikukus.

Cukup dengan hanya ditaburin garam atau gula, dikonsumsi tiga kali sehari. “Bentuknya macam tepung gitu. Enak lho nak, tapi jangan pakai cabe, bisa mules perut kita,” ungkap Toyimah.
Pendapatannya, tergantung dari lima batang sawit yang tumbuh di perkarangan rumah. “Tapi sekarang mulai murah dibeli buah sawit. Hanya Rp800 rupiah/kilogram. Sekali panen cuma dapat 20-30 kilogram, paling banyak dapat uang Rp30 ribu uang. Alhamdulillah juga,” ucapnya bersyukur.(mai)