Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

INTERNASIONAL · 15 Jul 2017 02:36 WIB ·

Si Cantik Rayakan Ultah Bareng Korban Perang Iraq


 Aktivis muda Malala Yousafzai dari Pakistan. Foto: AFP Perbesar

Aktivis muda Malala Yousafzai dari Pakistan. Foto: AFP

HARIANRAKYATACEH.COM, MOSUL – Malala Yousafzai genap berusia 20 tahun pada 12 Juli lalu. Bertepatan dengan hari kelahirannya, gadis asal Pakistan tersebut melawat Iraq.

Tepatnya Kota Erbil dan Kota Mosul. Dalam kunjungan bertajuk Girl Power Trip itu, dia menemui anak-anak yang terpaksa putus sekolah gara-gara perang.

“Kami menghadapi situasi yang sama. Saat masih di Swat Valley dulu, saya dan teman-teman terpaksa mengungsi karena ancaman teroris dan ekstremis,” kata Malala di Kamp Hassan Shami.

Saat itu, dia dan keluarganya terpaksa mengungsi selama tiga bulan untuk menghindari Taliban.

Sedangkan anak-anak asal Mosul yang mengungsi ke Kamp Hassan Shami itu baru tiba pekan lalu.

Nayir, salah seorang remaja yang ikut menemui Malala di Kamp Hassan Shami, menyatakan bahwa dirinya putus sekolah sejak sebelum meninggalkan Mosul.

“Pada tahun pertama pendudukan ISIS, saya masih bersekolah. Tapi, pada tahun kedua, ISIS mengganti kurikulum dan saya tidak lagi ke sekolah,” ujar perempuan 13 tahun tersebut.

Meski putus sekolah sejak 2015, dia baru bisa kabur dari Mosul beberapa pekan lalu.

Menurut guru-guru di Mosul, ISIS mengambil alih sekolah mereka dengan paksa.

Pelajaran di sekolah diganti dengan doktrinasi ISIS.

“ISIS mengganti apel yang biasanya kami gunakan untuk membantu siswa dalam pelajaran berhitung dengan peluru. Pelajaran bahasa Arab berubah menjadi acara mendongengkan kisah remaja pelaku bom bunuh diri,” kata salah seorang guru di Mosul.

Kehadiran ISIS di sekolah itu membuat para orang tua enggan menyekolahkan anak mereka.

Maka, Nayir dan teman-teman sebayanya memilih putus sekolah.

Tapi, di kamp pengungsi, mereka kembali ke bangku pendidikan.

Meski terpaksa menuntut ilmu di dalam tenda dengan temperatur udara yang mencapai 40 derajat Celsius, Nayir dan teman-temannya bersemangat.

“Kami perlu menegaskan ini kepada keluarga para pengungsi di sini. Bahwasanya pendidikan adalah yang terpenting untuk anak-anak mereka,” ujar Malala.

Pekan lalu, gadis yang kini tinggal di Inggris itu baru menamatkan pendidikan SMA.

Sejak kisah heroiknya melawan Taliban demi mengenyam pendidikan tersiar ke seluruh dunia, Malala menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk mencetak prestasi.

Selain melawat Kamp Hassan Shami di pinggiran Mosul, penerima Nobel Perdamaian 2014 itu menyapa anak-anak di Irbil. (time/nbcnews/hep/c21/any/jpnn)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Kadisdik Tekankan Pesan Mulia Himne Aceh pada Pembukaan Rakor DAK Fisik SMA dan SLB

22 June 2024 - 14:13 WIB

7 Jemaah Haji Asal Provinsi Aceh Meninggal Dunia di Arab Saudi

21 June 2024 - 15:19 WIB

Lionel Messi Pecahkan Rekor Penampilan Terbanyak pada Ajang Copa America

21 June 2024 - 15:11 WIB

Jadi Perampok, Tiga Oknum Personel Polrestabes Medan Buron, 12 Langgar Kode Etik

20 June 2024 - 15:01 WIB

80 Ribu Anak-anak Di Bawah Usia 10 Tahun Tercatat Memainkan Judi Online

20 June 2024 - 14:58 WIB

Beneran Nih??? 15 Oknum Anggota Polrestabes Medan Jadi Buron Kasus Perampokan

19 June 2024 - 15:48 WIB

Trending di UTAMA