23 Gajah Rusak Kebun Warga

ANCAMAN: Camat Bukit tinjau lokasi pekerbunan masyarakat yang dirusak gajah liar di Kampung Negri Antara Kecamatan Pintu Rime Gayo Sabtu (16/7). MASHURI RAKYAT ACEH

REDELONG (RA) – Gajah liar kembali memasuki lahan perkebunan warga dan merusak tanaman sehingga warga di Daerah Pante Pesangan, Pantanlah dan Sayeng, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah resah.

“Gajah-gajah saat ini berada di derah perkebunan masyarakat. Pihak CRU juga menyamapaikan ada gerombolan gajah yang baru terlihat sebayak 23 ekor,” kata Iwan Pasa, Camat Pintu Rime Gayo, Sabtu (15/7).

Ditemani pemuda dan Sekdes Negri Antara dibantu pihak CRU, camat beserta Sekwan berupaya menghadang gajah dengan menggunakan petasan agar gajah tidak masuk kepemukiman.

“Ketika gajah mendegar petesan perlahan bergeser dan menjauh dari lokasi perkebunan warga,” ujar Iwan.
Menurut Iwan, pihaknya belum mendata berapa banyak kebun warga yang telah dirusak gajah. Namun yang jelas, tanaman pohon pisang, pinang dan kelapa di kebun milik Burhanudin (50) warga Kampung Negri Antara yang berantakan.

“Ketika kami lihat, bekas gajah masih sangat baru. Burhanudin juga mengatakan gajah berada di kebunnya saat malam dan memakan tanaman yang ada dikebunnya. Saat gajah datang Burhan juga pergi ke rumah saudaranya,” kata Iwan.

Disebutkanya, berdasarkan informasi yang ia himpun dari pihak CRU sebelumnya hanya ada tiga kawanan gajah yang ada di daerah tersebut. Kawanan pertama sebanyak sembilan ekor, kawanan dua sebanyak 19 ekor dan kawanan tiga sebanyak 43 ekor.

Sementara kawanan yang baru terlihat sebayak 23 ekor itu, dikabarkan lebih besar dan ganas. Berat dugaan hijrah dari tempat lain akibat angin kencang dan masuk ke area perkebunan akibat galian penghadang gajah sudah tertutup.

“Ada empat titik jalan gajah yang disampaikan pihak CRU sudah tertutup akibat tertimbun tanah sehingga gajah bisa masuk. Selain itu, lubang yang sebelumnya dibuat juga tidak terlalu lebar dan dalam, dan ketika tanah tertimbun sedikit gajah bisa masuk,” terang Iwan Pasa.
Iwan berharap, konflik antara gajah dengan manusia dapat diselesaikan sehingga warga dapat beraktifitas dengan tenang. “Kami juga berharap, kedepannya jika ada pekerjaan untuk pembangunan lubang penghadang gajah, melibatkan pihak CRU yang mengetahui medan dan tempat-tempat yang sering dilalui,” ujarnya.(mag-70/mai)