Aceh Menunggu Penghukuman Allah SWT

Istana dan Makam Ulama  Dijadikan Pembuangan Tinja

 

Para undangan, guru dan pelajar dengan khitmat mendengarkan Hikayat Aceh Turkestan yang disampaikan Muammar Al Farisi pada acara peringatan acara 1055 Tahun Hubungan Aceh Turkistan di Titik Nol Banda Aceh, di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Selasa (25/7). (al amin/rakyat aceh)

BANDA ACEH (RA) – Pernyataan Wakil Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah yang menyatakan peninggalan masa lalu merupakan tonggak bagi kehidupan saat ini untuk  melangkah lebih baik lagi ke depan, tampaknya tak berlaku untuk kawasan Gampong Jawa Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Di kawasan yang terkenal sebagai titik nol terbentuknya Kota Banda Aceh itu kini berubah menjadi kawasan tempat pembuangan sampah dan kotoran manusia atau tinja. Padahal di lokasi tersebut dulunya diyakini bekas Istana Darul Makmur dan bekas balai pelatihan haji, juga banyak terdapat makam para ulama.

Karenanya Konsorsium Peubeudoh Adat dan Budaya Aceh (PEUSABA) mengharapkan proyek pembuangan sampah dan tinja di kawasan Gampong Jawa Gampong Jawa Kecamatan Kutaraja dihentikan.

Hal ini disampaikan Ketua Peusaba Mawardi Usman kepada wartawan usai acara peringatan acara 1055 Tahun Hubungan Aceh Turkistan di Titik Nol Banda Aceh, di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Selasa (25/7).

“Kawasan ini dulunya bekas Istana Darul Makmur dan bekas balai pelatihan haji, tapi kini menjadi tempat pembuangan sampah dan tinja. Kita mengharapkan proyek dihentikan, apalagi masih banyak ulama yang makamnya masih ada dalam kompleks itu,” tukas Mawardi yang juga ketua panitia acara.

Dr. Kamal Arif selaku pemateri pada acara itu menyampaikan tentang sejarah dibangunnya plakat titik nol dan juga sejarah singkat Sultan Johan Syah. “Situs ini seharusnya dilindungi dan mungkin di Aceh dapat dikembangkan sistem GEO Radar yang dapat melihat isi dalam tanah jadi tiap tempat ada makam lama  jangan didirikan bangunan disana,” tukas Kamal Arif.

Pada kesempatan yang sama, sejarahwan Aceh Abu Raman Kaoy, mengatakan dosa besar menjadikan makam Sultan dan ulama Islam menjadi tempat sampah dan tempat pembuangan tinja.

“Jika tidak tahu masih diterima taubatnya oleh Allah jika tahu tapi sengaja maka dia akan dikutuk Allah SWT,” kata Abu Raman Kaoy.

Disampaikannya, kewajibannya sebagai yang mengetahui sejarah kawasan bersejarah itu yakni menyampaikan. Makanya dia berharap, pemerintahan di Aceh dapat bijaksana dalam membangun daerahnya harus juga memandang nilai-nilai di kawasan tersebut.

“Jika sudah tahu namun masih saja membuang sampah dan tinja di kompleks makam ulama, maka Allah SWT yang maha perkasa yang akan menghukumnya,” ucapnya penuh amarah.

Sementara itu dalam hikayat yang dibawa Muammar Al Farisi kelakuan orang yang  menjadikan makam ulama sebagai tempat buang tinja hanya dilakukan para pasukan salib yang menguasai Palestina sebelum dibebaskan Sultan Salahuddin Al Ayyubi

Acara diisi juga dengan diskusi dan foto bersama acara dihadiri oleh guru dan siswa siswi SMA 1 Banda Aceh, Kapolsek, koramil, dosen, ahli sejarah, BPCB, insan pers dan masyarakat umum. (min)