Marak Pengelapan Raskin Pelakunya, Sekdes Hingga Mantan Geuchik

ist

BANDA ACEH (RA) – Aksi penyelewengan beras bantuan masyarakat miskin (Raskin) marak terjadi di sejumlah kabupaten. Ironisnya, pelaku merupakan perangkat desa yang seharusnya menyalurkan beras tepat sasaran.

Di Gayo Lues, polisi menangkap Sekdes Desa Lumut, Kecamatan Isak Aceh Tengah berinisial Rs (47). Ia diduga menjual beras Raskin ke penadah di Kutacane. Kemarin siang, polisi langsung menetapkannya sebagai tersangka.

Kasat Reskrim Polres Gayo Lues, Iptu Eko Rendi Oktama, menyebutkan penangkapan dilakukan di rumah tersangka, Kamis (27/7).
Sekdes Rsd menjual beras Raskin sebanyak 1,5 ton pada toke beras berinisial Bsr (42). Kasus tersebut terungkap setelah polisi mendapat informasi dari warga, Rabu (26/7).

“Informasinya akan melintas sebuah pick up dengan BL 8353 HB. Saat itu juga tim turun ke lintas Blangkejeren -Takengon. Tak lama, didapat sebuah mobil di seputaran Kota Blangkejeren, dilakukan penyetopan dan penggeledahan. Didapat beras Raskin sebanyak 1,5 ton,” jelasnya, Jumat (28/7).
Dari hasil pemeriksaan, diketahui beras tersebut tidak dilengkapi surat hingga polisi menangkap sopir berinisial Bsr. Pada petugas tersangka mengaku beli beras dari Rsd (47), Sekdes Desa Lumut, rencananya beras akan dijual di Ketambe, Aceh Tenggara.

Sementara itu, Polres Nagan Raya menetapkan mantan Geuchik Gampong Tuwi Buya, Kecamatan Darul makmur, T Ibnu Sakdan (47) sebagai DPO.
Menurut Kapolres Nagan Raya, AKBP Mirwazi, tersangka diduga terlibat dalam pengelapan Raskin di wilayah Kecamatam Darul Makmur tahun anggaran 2014-2015 lalu.

Dalam kasus tersebut, berdasarkan audit BPKP RI Perwakilan Aceh dengan kerugian negara sebesar Rp929 juta lebih.
Kasus penyelewengan Raskin ini melibatkan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai penyalur Raskin di Kantor Camat Darul Makmur, BM (45) dan seorang warga JM (25). Kedua tersangka itu sudah ditangkap polisi, saat ini sedang proses sidang di Pengadilan Negeri Meulaboh.

“T Ibnu Sakdan tidak memenuhi pangilan penyidik dan sudah melarikan diri, sekarang ini kita sudah menetapkan sebagai DPO polisi Jumat 23 Juni 2017 dalam kasus Raskin,” kata Mirwazi.

Ia berharap T Ibnu Sakdan menyerahkan diri pada polisi, guna mengukuti proses hukum dalam kasus yang dilakukannya.
“Kita menghimbau pada keluarganya, atau pada T Ibnu Sakdan selaku DPO polisi untuk menyerah. Tapi bila terus melarikan diri yang akhirnya tertangkap juga itu akan mendapat hukum yang lebih berat lagi,” ujarnya.

Kasat Reskrim Polres Nagan Raya, AKP Iswar mengatakan, dalam kasus tersebut, T Ibnu Sakdan (ketika basih menjabat sebagai Geuchik Gampong Tuwi Buya), menebus Raskin sama penyalur Raskin di Kantor Camat Darul Makmur, BM (45). Kemudian Raskin tidak dibagikan pada masyarakat, tapi dijual pada orang lain demi mendapatkan keuntungan pribadi.

“Hasil menjual Raskin itu ikut dibagikan pada BM petugas penyalur Raskin di Kantor Camat setempat,” kata Iswar.
Dijelaskanya, kasus Raskin di tahun 2014, dengan jumlah raskin yang ditubus dari Bulog 1.085.700 Kg, yang salurkan ke masyarakat 1.002.345 Kg.
Sedangkan tahun 2015, dengan jumlah Raskin yang ditebus dari Bulog 1.025.385 Kg. Dan disalurkan ke masyarakat 367. 065 kg.
“Tahun 2014 kerugian negara Rp537 juta lebih dan 2015 Rp392 juta,” kata AKP Iswar.(yud/ibr/mai)