Aceh Bangun Geothermal Seulawah

PROYEK GEOTERMAL: Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, menyaksikan penandatangan kerja sama proyek Geothermal Seulawah dengan PT. Pertamina dan PDPA di ruang kerja Gubernur, Banda Aceh, Senin (31/7). ISHAK/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, menandatangani kerjasama proyek Geothermal Seulawah yang diberi nama PT Geothermal Energy Seulawah yang akan dikelola PT Pertamina dan PDPA, sebagai pemilik modal dan pemenang tender yang memiliki saham terbesar. Proses penandatanganan kerja sama berlangsung di ruang kerja Gubernur, Senin (31/7).

Irwandi menyebutkan, ini momen enam tahun lalu yang sudah ditunggu. Dengan penandatangan ini sebuah gerak maju, sehingga alasan penting yang mendorong Pemerintah Aceh untuk segera merealisasikan pembangunan Pembangkit Listri Tenaga Panas Bumi Seulawah ini, terutama untuk memenuhi tenaga listrik di Aceh, sehingga produksi listrik tidak ada lagi kendala.

“Kita sudah sangat serius dalam hal ini dan akan segera kita realisasikan pelaksanaan proyek geothermal Seulawah sebagai pembangkit listrik yang bersumber dari tenaga panas bumi yang berbasis lingkungan,” kata Irwandi.

Menurut Irwandi, memang pengerjaan pembangkit listrik geothermal Seulawah sudah mencuat sejak tahun 2009. Pada Mei 2016 PDPA dan PT Pertamina Geothermal Energy telah menandatangani Shareholder’s Agreement atau Perjanjian Pemegang Saham sebagai bentuk kemitraan dalam mengerjakan proyek tersebut.

Pemerintah Aceh mendapat dukungan dana hibah dari Bank pembangunan Jerman KFW. Bahkan komitmen itu telah disampaikan tahun 2009 melalui Bappenas, dengan nominal sebesar 7.720 juta euro atau setara Rp108 miliar atas prakarsa Pemerintah Aceh yang diberi nama Aceh Green.

Adapun batas waktu yang diberikan KFW bagi Pemerintah Aceh untuk merealisasikan projek tersebut akhir tahun ini. Jika tidak, dana itu akan ditarik dan jika itu terjadi, maka dukungan untuk keberlanjutan proyek ini akan sulit terpenuhi.

Ketersediaan energi listrik di Aceh yang sampai saat ini masih dalam kondisi kritis. Beban puncak kebutuhan listrik di Aceh berkisar 325 megawatt (MW), untuk melayani kebutuhan dengan baik, idealnya PLN memiliki cadangan energi 50 persen dari kebutuhan itu, atau sekitar 500 MW.

Namun nyatanya, saat ini energi yang tersedia hanya 340 MW. Makanya, jika ada sedikit masalah, pemadaman langsung terjadi, keterbatasan energi itu membuat PLN hanya mampu melayani sebatas kebutuhan rumah tangga, sementara untuk kebutuhan di atas 33 KVA tidak terlayani.

Sehingga dalam mendorong masuknya investasi di Aceh, akibat keterbatasan ketersediaan energi listrik tidak mungkin bisa mengundang investor untuk hadir di Aceh jika tidak sanggup menyediakan kebutuhan energi listrik yang maksimal.

Irwandi meminta PT Pertamina dan PDPA agar dapat menyelesaikannya dalam waktu tiga tahun setengah atau paling lambat empat tahun sudah berproduksi.

“Mudah-mudahan kita bisa menggunakan dana hibah dari pemerintah Jerman itu tanpa syarat, atau silahkan perusahaan mencari modal kerja yang rendah bunganya, boleh di pasar bebas, karena pemerintah Jerman tidak akan mengkait-kaitkan dana hibahnya ke lain-lain hal, karena hibah tidak pernah terkait-kait,” tutur Irwandi.

Sementara Direktur PT. Pertamina Geotherma Energi Irfan Zainuddin, pihaknya akan menyelesaikan proyek tersebut dalam jangka waktu empat tahun ke depan. Sebelumnya proyek-proyek yang mereka kerjakan selesai lima tahun hingga enam tahun.

“Tetapi di sini dengan dukungan penuh masyarakat dan semua pihak akan kita selesai dalam waktu empat tahun, semoga ini semua tidak ada kendala yang terjadi,” kata Irfan Zainuddin.
Soal pendanaaan, menurutnya selama ini peroyek yang mereka kerjakan didanai oleh Bank Dunia dan Jaika, jadi terkait dengan hal tersebut sangat baik untuk ditindak lanjuti yang pernah dilakukan dengan bank tersebut.

Selain itu, pihak Pertamina juga berharap dalam mempercepat proses ini diharapkan kepada Dinas Pertambangan Aceh dapat memproses yang diperlukan dengan segera, karena proses akhir di tingkat SDM Pusat. “Setelah proses ini selesai baru dapat aktif melakukan kegiatan di lapangan,” kata Irfan.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansayah, Ketua DPRA Tgk. Muharuddin, Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda, Dirut PT. Pertamina Geotherma Energi Irfan Zainuddin, Dirut PDPA Muchsin, Direktur Migas Hasballah, dan Direktur Industri dan Perdagangan serta Kepala Dinas terkait lainnya.(mag-71/mai)