Walikota Banda Aceh, Bapak H.Aminullah Usman bersama Direktur BFLF, Michael Oktaviano

Ketika dunia berbondong-bondong membantu Aceh pasca tsunami 2004, seorang pegawai Bapeda Aceh, Michael Oktaviano, 36 tahun, mulai berpikir bagaimana cara Aceh dapat bangkit dan membalas jasa itu.

Desi Badrina-Banda Aceh

Michael percaya, hal yang paling mungkin dilakukan untuk membalas semua itu, Aceh harus membantu dirinya sendiri usai bantuan berakhir. Namun ia tak terpikir bentuk balas jasa itu, akan lahir dari sebuah lembaga sosial non provit yang bergerak di bidang penggalangan darah. Lembaga yang menyediakan fasilitas rumah singgah bagi pasien di Aceh yang berobat ke Rumah Sakit Umum Zainol Abidin.

“Galang darah itu dimulai, ketika seorang tetangga saya di Lam Gugop pada 2010 meninggal dunia, karena tak mendapatkan darah. Saya pikir, galang darah dari masyarakat untuk masyarakat bisa membantu Aceh bangkit,” kisah bapak tiga anak itu.

Bekerja sebagai Kasubbag Umum dan Kepegawaian di Bapeda Aceh, jadilah ia mengajak sekitar 100 pegawai di bawahnya. Hampir seluruh pegawai Bapeda Aceh yang berjumlah 250 orang, ikut kegiatan sosial tersebut.

“Setelah dua tiga kali kegiatan itu berlangsung, kemudian tercetus ide, mengapa kami tak bentuk lembaga saja, agar geraknya lebih bebas,” kenang Micheal.

Bertepatan dengan peringatan tsunami, 26 Desember 2010 lahirlah Blood For Life Foundation atau BFLF lembaga yang murni lahir dari masyarakat Aceh, dengan cita-cita dari Aceh untuk dunia.

“Kami sengaja memilih namanya dalam bahasa Inggris, agar bisa go internasional. Kami berharap, pada ketika tsunami, Aceh banyak dibantu oleh provinsi bahkan negara luar, kedepannya ada sebuah lembaga dari Aceh yang bisa membantu seluruh lembaga di Indonesia dan membantu bencana di seluruh dunia,” harap lelaki yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Suami Dokter Indonesia (ISDI) itu.

Selain itu, dia juga melihat, Syariat Islam yang dikenal dunia, sejauh ini hanya sebatas urusan pakaian dan cambuk saja. Ia ingin memberikan image Syariat Islam Aceh tetap memiliki nilai humanis, yaitu orang Aceh punya banyak kebaikan untuk dibagikan kepada siapapun yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Desember 2017 nanti, usia BFLF genap 7 tahun, dan lembaga satu itu kini sudah memiliki 20 cabang di di 20 kabupaten kota di Aceh. Selain itu, BFLF juga memiliki rumah yatim, yang bertempat di Jakarta Timur jalan Kamaruddin 1, yang sudah berisi 24 anak-anak yatim dan anak lapak sampah.

“Sebagian besar support dana untuk rumah yatim di Jakarta itu dari BFLF Aceh. Kita mau balik ini, jadi seperti sebelum kemerdekaan. Biasa Jakarta yang punya cabang di Aceh, sekarang Aceh yang punya cabang di Jakarta,” selorohnya Ketua BFLF Pusat itu.

Semagat sosial Michael turunan dari almarhum Ayahnya, Alexander Frebruar. Seorang pegawai Bank yang aktif sebagai ketua Pemuda Pancasila (PP) di kota tempat tinggal Michael dan orang tuannya. Meski Ketua PP identik dengan preman, berbeda dengan ayah Michael. Di Medan, bapaknya terkenal dengan lelaki yang suka menolong kaum lemah. Dan dari ayahnyalah, dia dan keempat adiknya mendapat pelajaran disiplin.

Ia sendiri, tamatan STPDN dan bekerja sebagai Pegawai Negeri. Adik kedua dan ketiga juga bekerja di Kantor Gubernur Sumatera Utara. Sedangkan yang keempat lulusan ITB dan yang terakhir juga bersekolah di IPDN, sama dengannya. Selepas ayahnya meninggal 2007, selaku anak pertama, semua adiknya dia yang menyekolahkan.

“Pesan yang paling saya ingat, dan masih terngiang sampai sekarang cuma satu. Kata Bapak saya, Jadilah orang hebat untuk bantu orang lain. Kalau hebat sendiri ya biasa saja,” ucap Michael sambil melihat ke langit-langit ruang kerjanya.

Meskipun setiap kebaikan yang dibuat pasti ada saja orang tidak suka, tapi yang jelas ungkap Michael, niat dari awal hnaya mengharap kebaikan dari sang pencipta.

“Mau orang suka, mau orang benci kek, bagi saya itu nggak penting, karena tidak ada yang lebih baik dari pada terkenal di langit dari pada terkenal di bumi. Dan saya sudah mewakafkan diri saya untuk orang banyak,” ucap Michael.

Kini, Rumah Singgah yang mulanya hanya bisa menampung 24 pasien, sudah dapat menampung 137 orang. Dan itu rumah singgah pertama di Aceh.
“Dan bukan hanya pasien yang ditampung, tapi juga keluarga. Kalau dikalkulasikan, satu pasien itu bisa membawa 2 sampai 3 orang, kalau ditotalkan semua sama pasien itu lebih kurang 500 orang. Dan yang kita tanggung itu bukan hanya tempat tinggal, tapi sembako juga kita siapkan,” terangnya.

Ia berharap program yang mereka buat, dapat sejalan dengan program JKA gubernur. Dan Masyarakat Aceh, bisa saling bergandengan tangan, melihat bahwa tugas membangun Aceh, bukan hanya tugas pemerintah. Tapi semua orang bisa ambil bagian.(mai)