JEC Putuskan Kontrak Pualam

Rakyat Aceh

ACEH TIMUR (RA) – Mempercepat progres ekplorasi migas di PT. Medco E&P Malaka, Perusahaan JEC main Contractor EPC 1 blok A Medco telah mengakomodir sebanyak 1.400 tenaga kerja lokal dari Aceh. Kendati demikian perusahaan raksasa tersebut dihebohkan dengan dipasoknya tenaga kerja luar beberapa waktu ini, sehingga terkesan pihak perusahaan telah mengabaikan tenaga kerja lokal yang berada di sekitar tambang diantaranya Kecamatan Indra Makmur, Julok, Banda alam, dan Nurussalam.

Rahmad Humas PT JEC, menyatakan perusahaan di percayai untuk membangun fasilitas pemurnian gas yang lebih di kenal sebagai central processing plant (CPP) dengan kontrak hingga bulan maret 2018. Dengan kontrak yang sedianya bersisa kurang dari 7 bulan ke depan. Kata Rahmad, PT JEC diharuskan melakukan percepatan dalam mencapai progres sesuatu amanah dari Medco dan SKK migas.

“Dengan kondisi nyata di lapangan baik menyangkut kendala teknis maupun non teknis, PT JEC mengalami keterlambatan (delay) secara keseluruhan selama 3 bulan kerja. Hal ini menyebabkan JEC dengan terpaksa memutuskan kontrak dengan subcon pekerjaan sipil yang sedianya di tangani oleh subcon PT Pualam Bangun Cipta,” kata Rahmad, Selasa (1/8).

Pemutusan kontrak ini, lanjut Rahmad, disebabkan ketidakmampuan perusahan tersebut dalam mengejar progresnya? seperti kesepakatan bersama. Tak hanya itu, pemutusan kontrak ini akan diikuti dengan proses pemindahan sebagian karyawan PT Pualam yang memiliki kecakapan ke profesionalitas di lapangan. Dengan catatan para pekerja tersebut dapat bekerja sesuai etos perusahan JEC Indonesia.

“Maka untuk membantu proses percepatan dari progress pekerjaan sipil inilah PT JEC mendatangkan para pekerja sipil profesional dari project JEC lainnya. Para pekerja sipil ini telah teruji kecakapannya di project JGC lainnya seperti project Donggi Sonoro Sulawesi Tengah,” kata Rahmad.
Pekerjaan sipil yang dipasok dari luar itu hanya berkerja berkisar 2-3 bulan sebelum masuk pekerjaan konstruksi lanjutan selayak pekerjaan seperti mechanical, pemipaan, elektrikal dan painting dan insulation.

“Tahapan pekerjaan yang saling terkait membuat keterlambatan pada tahap pekerjaan sipil berefek pada keterlambatan berkelanjutan pada bagian konstruksi selanjutnya. Bila saja pekerjaan sipil tidak segera dikerjakan maka dipastikan waktu penyelesaian proyek akan mengalami keterlambatan yang cukup lama,” kata Rahmad.

Namun kata Rahmad, dipasoknya tenaga kerja dari luar juga tidak terlepas atas persetujuan dari pihak perusahaan pengelola blok A, maka oleh sebab itu PT JEC mendatangkan para pekerja berpengalaman tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan.

“Sayangnya kedatangan para pekerja ini tidak diterima warga dan kemudian berakhir dengan pengembalian para tenaga kerja tersebut ke daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Disingung mengenai lanjutan pekerjaan, Rahmad mengaku PT JEC tentunya tetap melanjutkan pekerjaan sipil yang tersisa walaupun hasilnya bisa jadi tidak seperti yang diharapkan bersama.

“Komitmen menyerap tenaga kerja lokal tetap dijunjung tinggi oleh pihak manajemen perusahaan, walaupun di perjalanan project ini kadang kala keputusan yang diambil dapat memberi efek negatif dari penyelesaian proyek tepat waktu. Namun kembali kepada dasar kita tetap berkomitmen untuk profesional dan selesai bekerja tepat pada waktu,” pungkas Rahmad.

Medco Harus Menguntungkan Rakyat

Bupati Aceh Timur, Hasballah HM.Thaib, kembali mengingatkan agar PT. Medco E&P Makaka, terus melaksanakan seluruh tahapan pekerjaan eksplorasi hingga produksi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

“Jangan sampai gara-gara protes masyarakat soal tenaga kerja luar Aceh yang dipasok ke Blok A, mengganggu jadwal tahapan produksi yang direncanakan tahun depan,” ujar Bupati Aceh Timur atau Rocky, Jumat lalu.

Terkait proyek Migas di Blok A, bupati mengatakan semua pihak harus diuntungkan baik PT Medco, negara atau masyarakat disekitar wilayah lingkar tambang.

“Medco tidak boleh main-main lagi dan harus produksi, sehingga ekonomi masyarakat Aceh Timur bangkit,” katanya.
Begitu juga soal komposisi tenaga kerja yang dinilai masyarakat telah mengabaikan hak-hak mereka disekitar Blok A, Rocky meminta PT Medco harus segera mempertegasnya ke Subcon sebagai rekanan dari PT Medco.

“Soal tenaga kerja harus ditertibkan dan masyarakat disekitar lingkar tambang tetap harus diakomodir sesuai komitmen sebelumnya,” kata mantan panglima GAM itu. (Mag-75/mai)