Ribuan Jerat Mengancam di Kawasan Ekosistem Leuser

Ranger dari FKL menemukan dan langsung merusak jerat binatang yang ditemukan saat melakukan patrol di kawasan hutan Bengkung, Kota Subulussalam. (al amin/rakyat aceh)

 

BANDA ACEH (RA) Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sebagai daerah yang berdasarkan undang-undang dan aturan daerah dilindungi, namun apa yang ada di dalamnya hingga kini selalu saja banyak terjadi gangguan dan perusakan akan habitatnya.

Selain masih tetap maraknya perusakan hutan, sebanyak 4.000 jerat atau perangkap satwa sejak tahun 2015 ditemukan di kawasan dilindungi ini saat patroli dilakukan ranger dari Forum Konservasi Leuser (FKL).

“Jerat binatang yang kita temui itu hanya sebagian kecil dari KEL yang sangat luas. Kita hanya punya 23 tim patroli yang Cuma bisa mengcover  kurang dari 25 persen seluruh KEL yang 2,2 juta hektar,” terang Manajer Koservasi FKL, Rudi Putra.

Disampaikannya,  selalu saja ada temuan jerat jika tim melakukan patrol apalagi di daerah baru atau bila beberapa bulan di kawasan tersebut tak dilakukan pengawasan. “terakhir baru dua minggu lalu dua tim kita patroli, Tim Butong mendapatkan 20 jerat sementara tim kleut 43 jerat,’ ungkap Rudi.

Tapi dia mengakui 23 tim yang ada sekarang ini tak bisa mengcover begitu luas daerah KEL. Minimal dari 60 ribu Ha dari 2,2 juta hektar luas keseluruhan KEL, harus ada 2 tim yang aktif selalu melakukan patroli.

“Seharusnya dari 2,2 juta Ha luas KEL ada 75 tim yang aktif melakukan patrol. Untuk mengantisipasinya kita telah memasang puluhan camera trap, Cuma sangat terbatas di wilayah yang punya signal telekomunikasi lokal. Karenanya kita yakin ada ribuan jerat dipasang para pemburu liar di KEL,” tukasnya.

Disampaikan, para pemain atau pemburu satwa liar dilindungi semuanya mereka berasal dari luar Aceh. Para penduduk lokal hanya sebagai penunjuk jalan dengan iming-iming rupiah. “kebanyakan berasal dari Riau, Padang dan dari Sumatera Utara.”

Para pemburu dari luar Aceh ini mempunyai keahlian memasang jerat dengan berbagai modifikasi. Dari hanya memakai bahan yang ada di alam sampai bahan yang memang disediakan khusus dengan maksud memerangkap binatang yang diinginkan.

Dari beberapa temuan mereka, binatang yang terperangkap tak ada langsung tewas di tempat. Kebanyakan terluka hingga menimbulkan penderitaan hingga beberapa hari atau bahkan minggu kemudian mati di tempat atau di kawasan sekitar perangkap.

Dari trap dipasang, ada beberapa binatang seperti gajah atau harimau yang tewas bukan di tempat pemasangan jerat. Perangkap yang dipasang bisa lengkap berbentuk kurungan, jebakan dengan pemasangan paku, jerat dengan kaitan broti dan banyak macam lainnya.

Ribuan jerat ini banyak makan korban seperti saat Rakyat Aceh ikut patroli tim Bengkung FKL di SP Soraya. Kami menemukaan bangkai gajah di kawasan hutan Bengkung, Kota Subulussalam, Aceh.

Dikatakan Dedi Yansyah, Manager Wildlife Protection Team FKL, diketahui gajah tersebut kakinya terkena perangkap yang dibandoli broti sekira seberat 100 kilogram. Binantang mamalia darat terbesar tersebut menyeret perangkap broti hingga akhirnya tewas sekira 200 meter dari lokasi awal. “Bisa dibayangkan penderitaan yang harus dilewati gajah ini hingga akhirnya tewas.”

Dikatakan, baru- baru ini mereka menemukan perangkap paku gajah yang dimaksudkan bila binatang berlalai itu melintas dan menginjak dipastikan akan terluka parah.

“Gajah tidak akan langsung mati, mungkin bisa beberapa bulan sampai dia mati karena tidak bisa mencari makan. Kami juga menemukan, dari pemasangan camera trap, pernah terlihat harimau yang pincang diduga terkena perangkap yang dipasang,” ungkapnya.

Pihaknya sangat menyesalkan masih tetap banyaknya mereka menemukan perangkap atau jerat untuk binatang binatang dilindungi tersebut. Sosialisasi dan pemahaman tentang konservasi menjadi salah satu faktor utama perburuan liar ini masih akan tetap terjadi.

Perlu ada pemberian pemahaman, bahwa semua binatang yang ada di hutan tersebut merupakan satu kesatuan dari lingkungan yang akan menjaga kesinambungan dan tetap adanya hutan.

Gajah merupakan ‘spesies payung’ bagi habitatnya dan mewakili keragaman hayati di dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidup. Artinya konservasi satwa besar ini akan membantu mempertahankan keragaman hayati dan integritas ekologi dalam ekosistemnya, sehingga akhirnya ikut menyelamatkan berbagai spesies kecil lainnya.

Dalam satu hari, gajah mengonsumsi sekitar 150 kg makanan dan 180 liter air dan membutuhkan areal jelajah hingga 20 kilometer persegi per hari. Biji tanaman dalam kotoran mamalia besar ini akan tersebar ke seluruh areal hutan yang dilewatinya dan membantu proses regenerasi hutan alam.

Sementara harimau sebagai predator utama dalam rantai makanan, dia pejaga untuk mempertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.

“Begitu juga dengan spesias hewan yang dilindungi lainnya seperti, orangutan, badak, rangkong dan binatang lainnya,” ujar Dedi.

KEL sendiri merupakan merupakan habitat asli satwa Sumatera seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris), Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Tapir (Tapirus indicus), Owa (Hylobathes lar), dan Kedih (Presbytis thomasii).

Tidak hanya itu, kawasan ini merupakan rumah bagi 380 spesies burung dan 36 dari 50 spesies burung Sundaland. Hampir 65 persen atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatera tercatat ada di tempat ini.

Hanya sekarang habitat mereka terancam karena berdasarkan data FKL dari Januari hingga Juli 2017, terdapat 142 kasus perburuan dengan jumlah perangkap ditemukan 205 jerat untuk satwa seperti harimau yang selanjutnya dimusnahkan.

Perburuan hewan dilindungi di KEL ini dibenarkan Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo , saat ini satwa paling banyak diburu di Aceh adalah harimau, gajah, orangutan, rangkong, rusa, trenggiling dan beberapa satwa dilindungi lainnya.

“Satwa-satwa ini merupakan kekayaan Aceh karennya harus kita jaga.  Perburuan yang terjadi membuat populasi satwa-satwa dilindungi ini terus menurun jumlahnya,” ujar Sapto yang ditemui saat konferensi pers penangkapan tersangka dan barang bukti perdagangan offset hewan dilindungi di Mapolda Aceh, 20 Juli 2017 lalu.

Di tempat yang sama Direktur Reskrimsus Polda Aceh, Kombes Pol Armensyah Thay mengakui, mereka banyak mendapat laporan namun karena keterbatasan personil hanya laporan yang benar – benar terpercaya ditindaklanjuti.

“Kita juga selama ini bekerjasama dengan BKSDA Aceh dan lembaga lainnya guna dapat menekan perburuan liar,” ujarnya.

Koordinator GeRAK Aceh, Askhalani menyebutkan, mereka yang juga konsern terhadap aktivitas perlindungan lingkuhan hidup juga sering menemukan banyaknya pelaporan yang kurang ditindaklanjuti.

“Bisa kita pahami, kurangnya personel salah satu alasan utama lambatnya penanganan laporan. Ironinya ini diperparah dengan masih banyaknya personil penegak hukum yang kurang paham dengan permasalah dan masalah lingkungan hidup,” tukas Askhalani yang diminta tanggapan terkait ini. (min)