Polisi Geledah DPRK Bireuen

Kasatreskrim Polres Bireuen, AKP Riski Adrian SIK (duduk sebelah kanan) memeriksa sejumlah dokumen di ruang kerja Sekwan DPRK Bireuen, Kamis (24/8). BAHRUL/RAKYAT ACEH

BIREUEN (RA) – Polres Bireuen menggeledah sejumlah ruangan di gedung DPRK Bireuen, Kamis (24/8). Petugas mencari alat bukti dokumen yang berkaitan dengan kasus pengadaan areal tanah SMP Negeri 2 Pandrah. Dalam penggeledahan itu, polisi menyita berbagai dokumen berbentuk soft copy dan hard copy, untuk kepentingan penyidikan kasus tindak pidana korupsi tersebut.

Informasi yang diperoleh Rakyat Aceh, sejumlah anggota unit Tipikor Satreskrim Polres Bireuen, kemarin tiba-tiba datang ke gedung DPRK Bireuen sekitar pukul 15.00 WIB dan menggeledah ruang sekretariat dewan, ruang risalah dan ruang umum di kantor wakil rakyat itu. Polisi mencari sejumlah alat bukti untuk pengembangan perkara pidana korupsi tanah SMPN 2 Pandrah, kasus tersebut kini sedang ditangani penyidik kepolisian serta dikabarkan sudah P21.

Pantauan koran ini, proses penggeledahan itu dilakukan secara tertutup dan para awak media yang berkumpul di lokasi, tidak diperkenan memasuki ruangan yang sedang digeledah. Awalnya tak diketahui apa penyebab polisi menggeledah gedung wakil rakyat ini, sehingga muncul ragam spekulasi terkait dugaan penyimpangan anggaran di instansi yang menangani kebutuhan anggota DPRK Bireuen.

Hingga pukul 18.00 WIB, ketika Kasatreskrim Polres Bireuen, AKP Riski Adrian SIK yang memimpin penggeledahan itu, keluar dan memberi keterangan pada wartawan. Ia mengaku, pihaknya sedang mendalami perkara pengadaan tanah SMPN 2 Pandrah yang berhubungan erat dengan pihak di DPRK Bireuen.

Menurutnya, berdasarkan hasil penyidikan pihak kepolisian ada beberapa titik yang dianggap menjadi bahan, untuk pengembangan kasus tersebut dan mencari bukti tambahan berdasarkan keterangan dua tersangka, guna menuntaskan perkara tersebut. Termasuk, dugaan adanya tersangka tambahan yang terlibat dalam kasus korupsi itu.

“Dua tersangka pengadaan tanah SMP Negeri 2 Pandrah, yaitu panitia dan kasi pengukuran sudah diproses serta cukup bukti. Sekarang kami sedang mencari alat bukti tambahan, maka dilakukan penggeledahan pada beberapa titik,” ungkap Riski.

Pihaknya sudah menemukan sejumlah bukti, namun untuk sementara belum bisa dipublikasi, karena pertimbangan perkara itu masih terus didalami. Hingga kemarin, ia mengaku penyidik telah menyita sejumlah dokumen baik softcopy maupun hardcopy, khususnya yang berkaitan dengan SMPN 2 Pandrah.

Riski mengaku, berdasarkan penyidikan pihak kepolisian diketahui akibat tindak pidana korupsi dalam perkara itu, telah menimbulkan kerugian negara mencapai Rp300 juta lebih. Dua tersangka yang diproses hukum dan kini sudah P21 yakni, J dan JY. Ia mengatakan, polisi belum dapat menyampaikan keterkaitan kasus itu dengan oknum di DPRK Bireuen.

“Ini masih dalam pengembangan dan belum dapat kami paparkan ke publik, tapi yang pasti tindakan penggeledahan sudah tentu karena ada hubungan serta keterlibatan dengan kasus yang sedang kami periksa,” jelas Riski.

Pihaknya akan terus melakukan pemeriksaan di gedung DPRK hingga Kamis malam. Untuk mencari dan mengumpulkan berbagai alat bukti tambahan, selain itu, fokus memeriksa beberapa instansi lainnya yang memiliki kaitan dan berhubungan dengan pengadaan tanah SMPN 2 Pandrah. (bah/mai)