Setiap Detik, 20 Anak Di Dunia Meninggal karena Pneumonia

YANG TERSAYANG: Untuk mencegah pneumonia yang dipicu bakteri Streptococcus pneumonia, anak bisa diimunisasi PCV pada usia 2 bulan hingga 8 tahun. (DITE SURENDRA/FILE/JAWA POS)

Harianrakyataceh.com – Pneumonia sudah lama menjadi mimpi buruk bagi dunia kesehatan. Merujuk paparan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit tersebut merupakan pemuncak daftar penyakit yang rentan menyerang anak usia 0–5 tahun. Setiap detik, 20 anak di dunia meninggal karena infeksi yang mengakibatkan radang paru-paru itu.


MENURUT dr Laksmi Suci Handini SpA, pneumonia dipicu banyak penyebab. Bisa karena jamur, benda asing (debu atau air), alergi, virus, atau bakteri. Spesialis anak tersebut mengungkapkan, persebaran virus itu terbilang cepat lantaran melalui udara. Apalagi, masa inkubasinya relatif cepat, rata-rata 12 hari.

Sementara itu, dr Leny Kartina SpA berpendapat bahwa bakteri tersebut bukanlah benda asing bagi tubuh. Bakteri itu merupakan flora alami di saluran napas, sinus, dan rongga hidung. ’’Buat orang dengan imun tubuh lemah, ia bersifat patogen. Khususnya pada anak usia kurang dari 24 bulan dan lansia,’’ ujar Leny.

Laksmi menyatakan, pneumonia punya gejala khas. Yakni, muncul ronchi basah ketika menarik napas, pergerakan naik turun dada yang cepat, sampai gerakan cuping hidung yang sangat kentara. Ronchi adalah suara tambahan dari pernapasan yang dihasilkan aliran udara melalui saluran napas yang berisi sekret atau akibat saluran napas yang menyempit.

Ronchi basah berarti adanya bunyi gelembung udara yang melewati cairan terutama pada fase inspirasi. ’’Penderita umumnya merasa sesak. Soalnya, paru-paru mereka radang dan terisi lendir. Organ pernapasan pun harus bekerja keras untuk menambah volume udara yang masuk,’’ jelas alumnus Universitas Airlangga tersebut.

Meski demikian, tidak semua orang paham dengan gejala tersebut. Apalagi jika pneumonia masih berada di tahap awal. ’’Sering disangka cuma batuk pilek atau demam biasa sehingga hanya diobati biasa,’’ kata Laksmi.

Dalam kasus atypical pneumonia, penderita justru tampak sehat. ’’Tapi, begitu dirontgen, bagian paru-parunya putih. Tandanya, ia menyimpan banyak lendir,’’ ungkapnya.

Hal yang juga ikut memicu tingginya kejadian pneumonia adalah pemberian antibiotik yang tidak tepat sasaran. Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa masalah batuk pilek bisa diatasi dengan antibiotik. Padahal, belum tentu gangguan itu dipicu bakteri. ’’Jika sering terpapar antibiotik, bakteri di tubuh akan kebal. Saat dibutuhkan, antibiotik tidak bisa membunuh bakteri tersebut,’’ tutur Leny.

Dia menyebut, persebaran pneumonia sangat pesat. Sebab, bakteri itu menyebar lewat udara dan rentan memicu radang paru-paru pada anak usia 0–24 bulan. ’’Ketika kontak dengan dewasa yang sedang pilek atau ada gangguan pernapasan, bukan nggak mungkin anak tertular. Virus atau bakterinya bisa menyerang paru sehingga muncul pneumonia,’’ papar Leny.

Bakteri tersebut tidak hanya tinggal di paru-paru. Dalam beberapa kasus, bakteri Streptococcus pneumoniae juga dapat mengakibatkan radang telinga hingga radang otak (meningitis). Bahkan, jika infeksi berlangsung parah, bisa muncul sepsis. ’’Kalau menyerang peredaran darah, kerja organ tidak maksimal. Sebab, tekanan darah berubah drastis,’’ jelas Laksmi. (*)

(fam/c14/ayi)