Empat Warga Simeulue Hilang

Tim SAR persiapan untuk melakukan operasi pencarian empat warga Simeulue yang dilaporkan diduga hilang kontak sejak Minggu (3/9) lalu, Rabu (6/9). AHMADI/RAKYAT ACEH

SIMEULUE (RA) – Empat warga Desa Ujung Harapan, Kecamatan Simeulue Barat dilaporkan hilang di laut saat kembali dari Teluk Sinabang, Kecamatan Simeulue Timur. Warga yang hilang Amir Saidin (60), Maidar (55), Safrani (55) dan Hasan Sani (60).

Laporan kehilangan dua pasangan suami istri itu disampaikan Juslanudin (32), anak seorang korban. Pada pihak SAR Simeulue, pelapor menyebutkan orang tuanya menumpangi perahu bermesin robin, Ahad (3/9).

Namun hingga Senin, perahu itu tidak sandar di Desa Ujung Harapan hingga Juslanudin akhirnya melapor pukul 21.55 WIB, Selasa (8/9). SAR Simeulue, mengerahkan satu tim pencarian dengan menggunakan satu unit sea rider yang melibatkan keluarga korban. Tim melakukan penyisiran wilayah perairan laut, Kecamatan Simeulue Timur, Teluk Dalam dan Kecamatan Simeulue Barat.

“Saat ini sudah dilakukan operasi pencarian terhadap empat warga yang diduga hilang di laut,” kata Rahmat Kenedi, Korpos SAR Simeulue, Rabu (6/9).
Ia menyebutkan, pihaknya menghadapi tantangan cuaca yang cendrung ekstrim meliputi hujan deras, angin kencang dengan ketinggian gelombang laut mencapai dua meter, dengan jarak pandang di laut sekitar 200 meter.

“Karena cuaca buruk, pencarian pada sore hari dan malam kita hentikan. Besok kita lanjutkan,” kata Yudha Armadi, Dantim operasi pencarian yang ditemui Rakyat Aceh, di teluk Sibigo, Kecamatan Simeulue Barat.

Menurut Juslanudin, anak kandung dari Amir Saidin, orang tuanya berangkat dari teluk Sinabang. Perhitungan perjalanan laut, hanya butuh waktu sekitar tujuh jam telah sampai di Desa Ujung Harapan, atau paling telat dengan pertimbangan cuaca, sekitar Selasa telah berada di kampung halamannya.

“Tapi hingga hari ini belum ada tanda-tandanya,” kata Jusliadin.
Ia juga mengaku, sempat mengantar orang tuanya saat naik perahu tanpa alat penyeimbang atau peredam ombak pada kiri kanan perahu, dan pada saat itu orang tuanya memakai baju lengan panjang jenis batik dan tidak memiliki firasat apapun. (ahi/mai)