Gempa Meksiko Tewaskan 61 Warga

MEKSIKO – Jumlah korban gempa di Kota Meksiko terus bertambah. Hingga menjelang tengah malam kemarin WIB (9/9), sudah ada 61 jenazah yang ditemukan dan sekitar 200 orang lainnya luka-luka.

Seluruh korban tewas dan luka berada di Negara Bagian Oaxaca, Chiapas, dan Tabasco. Di Oaxaca ada 45 korban tewas. Disusul 12 orang di Chiapas dan 4 orang lainnya di Tabasco.

Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto langsung mendeklarasikan hari berkabung nasional selama tiga hari. Seluruh bendera dikibarkan setengah tiang.

“Kekuatan gempa ini sangat merusak, tapi kami yakin kekuatan persatuan, solidaritas, dan berbagi tanggung jawab jauh lebih besar (dibanding kehancuran akibat gempa),” ujar Pena Nieto.

Kota Juchitan, Oaxaca, merupakan yang paling terdampak dari guncangan gempa berkekuatan 8,1 SR pada Kamis (7/9) pukul 23.50 waktu setempat.

Lebih dari 100 polisi tambahan dan anjing pelacak diterjunkan ke kota tersebut untuk mencari para korban yang masih terkubur puing-puing.

Pemerintah pusat sudah mengirimkan puluhan ribu paket bantuan untuk penduduk. Sebanyak 36 di antara 45 korban tewas di Oaxaca adalah penduduk Juchitan. Pena Nieto pun langsung terjun ke Juchitan untuk menemui penduduk. “Situasi di Juchitan kritis. Ini adalah peristiwa paling buruk dalam sejarah kota,” ujar Wali Kota Juchitan Gloria Sanchez.

Kota Juchitan terdampak cukup parah bukan hanya karena lokasinya yang dekat dengan pusat gempa. Tapi, kota itu ter­masuk miskin. Banyak bangunan yang sudah tua. Separo kota rata dengan tanah, termasuk satu rumah sakit. Para pasien akhirnya dipindahkan ke gedung yang masih berdiri.

Jumlah korban jiwa sangat mungkin terus bertambah. Meski begitu, jumlahnya tidak akan sampai 10 ribu orang seperti saat gempa 8 SR yang mengguncang Meksiko pada 1985.

Jumat (8/9) tim penyelamat berusaha mengevakuasi dua petugas kepolisian yang terjebak di balai kota. Satu orang bisa di­keluarkan dengan selamat. Satu lagi masih dalam proses.

“Kami sangat miskin dan semua yang kami miliki sudah hancur. Kami hanya bisa berterima kasih pada Tuhan bahwa anak-anak kami selamat, tapi kami tak tahu harus pergi ke mana,” ujar Juan Carlos Sanchez yang tinggal di Cabeza de Toro, Chiapas.(Reuters/BBC/AlJazeera/sha/c21/ttg/jpnn)