ist

SUKA MAKMUE (RA)- Syafriadi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Nagan Raya menilai kasus poligami yang menjerat dirinya tersebut sangat bermuatan politis. Ia menduga ada rekayasa sehingga ia dieksekusi ke Lapas Meulaboh, Senin (8/8).
Anggota DPRK Nagan Raya yang masih aktif itu menegaskan, keputusan Mahkamah Syariyah Meulaboh, Rabu 2 September 2015. Sedangkan keputusan pengadilan negeri Meulaboh, Senin 28 Maret 2016.

 

“Maka tidak benar bila ada yang mengatakan keputusan Mahkamah Syariyah setelah kasusnya selesai,” kata Syafriadi, Selasa (12/9).

 

Ia menjelaskan, setelah keputusan pengadilan negeri Meulaboh, dirinya mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Banda Aceh, Rabu 25 November 2015. Kemudian, turun banding dari pengadilan tinggi Banda Aceh, Rabu 25 Mei 2016, dengan status ia mendapat tahanan rumah, tapi malah di masukan ke dalam Lapas Meulaboh. Selanjutnya Syafriadi mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung di Jakarta.

 

“Tapi Kasasi saya tidak sampai ke Mahkamah Agung, saya sudah cek ke MA tidak ada Kasasi saya di sana, ini patut di pertanyakan, kenapa tidak sampai Kasasi saya ke Mahkamah Agung di Jakarta,” kata Syafriadi.

 

Selain itu, Syafriadi menyebutkan, ada yang keliru dalam kasus yang menimpanya, dipenetapan Kasasi tahanan rumah yang dikeluarkan, Selasa 14 Juni 2016. Padahal saat itu masih dalam proses banding di Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

 

“Saya sekarang dalam kondisi sakit yang saat ini sedang dalam berobat sesuai dengan surat keterangan sakit yang dikeluarkan dokter spesialis penyakit dalam, dan saya untuk sementara ini harus istirahat,” kata Syafriadi. (ibr/mai)