Ini Pandangan Walubi Tentang Junta Militer Myanmar

PEDULI ROHINGNYA: Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat Aceh Utara menggelar aksi peduli Rohingya dengan menggalang dana di Panton Labu, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Ahad (10/9). Rakyat Aceh/ M Susahdi.

JAKARTA (RA) – Perwakilan dari Perwalian Umat Budha Indonesia (Walubi) ikut dalam Aksi Bela Rohingya 169 yang berpusat di kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (16/9).

Ada beberapa biksu yang ikut dalam aksi itu. Perwakilan dari Walubi, Biksu Gunadharma mengatakan bahwa kehadiran mereka untuk menyampaikan keprihatinan dari seluruh umat Budha di Indonesia maupun dunia atas pembantaian etnis rohingya di Myanmar.

“Salam sejahtera dan salam perjuangan untuk Rohingya. Pada hari ini kami yang berdiri disini atas nama Perwalian Ummat Budha ingin menyampaikan aspirasi dan inspirasi umat Budha, penganut Budha,” katanya.

Biksu Gunadharma menyatakan, seluruh umat Budha di Indonesia bersedia ikut memerangi kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Rakhine, Myanmar.

“Bersama-sama saudara kita umat Islam ikut memerangi kejahatan kemanusiaan. Karena sebagai warga Indonesia kita diwajibkan untuk menertibkan perdamaian dunia. Di belahan bumi manapun jika terjadi genosida, dalam hal ini Rohingya. Maka kita wajib ikut mengentikan tindakan tersebut. Karena itu kami bersama-sama anda sekalian memerangi kejahatan kemanusiaan di Rohingya,” tegasnya.

Walibu, lanjut Biksu Gunadharma, juga mendesak junta militer Myanmar untuk menghentikan aksi genosida terhadap etnis rohingya.

“Siapapun dia kalau dia melakukan kejahatan itu maka dia bukan Umat Budha. Budha mengajarkan kita stop kekerasan. Membunuh semut yang kecil saja tidak boleh apalagi membunuh manusia dalam jumlah yang besar,” pintanya.

Tak hanya itu, Walibu juga mendesak pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden RI Joko Widodo untuk menyampaikan protes keras ke pemerintah Myanmar.

“Kepada Pak Jokowi dan Menlu untuk menyampaikan protes keras, mengutuk dengan keras. Walaupun di dalam darma tidak ada kata-kata mengutuk tapi kita katakan mengutuk,” pungkasnya.(wid/rmol/slm)