Geuchik Terpilih Diduga Mesum, Puluhan Warga Tualang Datangi MPU

Geuchik Terpilih Diduga Mesum, Puluhan Warga Tualang Datangi MPU/Kaya ALim
SUBULUSSALAM (RA) – Puluhan warga Gampong Tualang, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Rabu (20/9/2017) mendatangi Kantor Majelis Permusyaratan Ulama (MPU) setempat guna mempertanyakan keberlakuan hukum syariat islam di Negeri Sada Kata itu. Ishak Munteh alias Gadis yang mewakili puluhan warga tersebut mengatakan dihadapan Ketua MPU Ust. H. Al Mansyuriah, bahwa kedatangan mereka menyampaikan prilaku Geuchik terpilih Tualang berinisial P diduga telah melakukan mesum dengan seorang perempuan bersuami yang di gerebek keluarga perempuan disalah satu hotel di Kota Subulussalam beberapa hari yang lalu. Kedua pelaku, kata Ishak sempat dibawa ke Mapolsek Penanggalan, namun karena keluarga perempuan sudah melakukan perdamaian sehingga kasus tersebut tidak dilanjutkan. Warga lainnya, bernama Anjer meminta kepada pihak MPU untuk menyurati Wali Kota agar kasus tersebut ditindaklanjuti sesuai qanun aceh. Sebab, jika dibiarkan tanpa adanya tindakan tegas dikhawatirkan akan muncul aksi yang tidak diinginkan dari warga. Kedatangan warga itu juga turut didampingi Kepala Mukim Kuala Kepeng, Raja Usman Kombih. Sementara, Edi Sahputra Bako, S. Sos dari Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Subulussalam yang turut mendampingi puluhan warga Tualang mengatakan, meski laporan itu sudah dicabut oleh pihak keluarga tapi tidak bisa dijadikan sebagai bahan penghentian kasus tersebut. Kalau pihak penegak hukum berpedoman KUHP memang betul kasus tersebut bisa dihentikan karena kasus yang ditangani delik aduan. Namun, di Aceh memiliki aturan tersendiri yang harus dijalankan. Menurut Edi, sesuai Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat kasus demikian masuk kategori delik umum, yang artinya meski sudah ada upaya perdamaian dari kedua belah pihak kasus tersebut bisa dilanjutkan sampai ke pengadilan. Mudahnya lagi jika mengacu pada qanun, sesuai pasal 37 ayat 1 sampai 3, setiap orang yang diperiksa dalam perkara khalwat atau Ikhtilath, kemudian mengaku telah melakukan perbuatan Zina, pengakuannya dianggap sebagai permohonan untuk dijatuhi ‘Uqubat Zina. Sedangkan ayat 2, Pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 hanya berlaku untuk orang yang membuat pengakuan, dan ayat 3, Penyidik dan/atau penuntut umum mencatat pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dalam berita acara dan meneruskannya kepada hakim ” jika pihak penegak hukum betul-betul melaksanakan syariat islam, sangat mudah dengan pedoman qanun tersebut  ” kata Edi. Menyikapi laporan warga, Ketua MPU Kota Subulussalam, Ust. H. Al Mansyuriah berjanji akan menyurati Wali Kota Subulussalam agar menegakkan hukum syariat islam terhadap pelaku. Namun, kata Al Mansyuriah, pihaknya hanya sebatas menyampaikan tausyah kepada pemerintah ” akan kami surati Wali Kota ” kata Al Mansyuriah yang turit didampingi pengurus MPU lainnya (lim)