Keuchik Harus Tahu Batas Hutan Lindung

Bupati Abdya, Akmal Ibrahim sosialisasi bersama masyarakat soal hutan, Sabtu (7/10). RAHMAD/RAKYAT ACEH

BLANGPIDIE (RA) – Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Akmal Ibrahim, meminta kepada para keuchik yang berada di pinggiran gunung dalam Kabupaten Abdya agar memiliki GPS untuk melihat tapal batas gunung antara lahan produktif dengan hutan lindung.

Pernyataan ini disampaikan Akmal di depan para keuchik dalam sosialisasi pengunaan hutan sosial masyarakat yang dipandu Dinas Pertanian dan Pangan di aula Masjid pemkab setempat, Sabtu (7/10) kemarin.

“Keuchik harus membeli alat GPS untuk melihat batas gunung didesa masing-masing dan juga camat harus berperan aktif untuk melakukan penataan batas hutan dan memahami betul tapal batas hutan lindung yang ada di desa pergunungan,” kata Akmal.

Selain itu, Akmal juga meminta kepada pihak dinas kehutanan agar melakukan pendataan desa yang sangat jelas agar memiliki peta mukim setiap desa.

Kabupaten Abdya memiliki 152 desa dalam sembilan kecamatan. Namun, satu kecamatan yang memiliki 28 desa yaitu Kecamatan Susoh tersisih dari pesisir pergunungan.

Tujuan dilakukan penataan tapal batas gunung tersebut, agar bagi masyarakat yang ingin bekerja menggarap hutan produksi untuk dimamfaatkan, sehingga mampu mendongkrak perekonomian.

“Biaya buka lahan kita kasih, bibit kita kasih, biaya pemeliharaan juga kita sediakan. Tapi pemkab tidak menyediakan biaya pula pingkui,” kata Akmal kepada para keuchik untuk disampaikan kepada masyarakatnya.

Ia mengaku siap bekerja ekstra untuk mewujudkan visi tersebut sehingga apa yang di cita-citakan terwujud. Namun, dalam hal ini dibutuhkan dukungan dari semua elemen masyarakat yang disertai keyakinan dan kerja keras.

“Saya siap kerja keras. Saya siap membangun komunikasi baik dengan Provinsi maupun dengan Pusat untuk mewujudkan program ini, tapi saya butuh dukungan,” pinta Akmal.

Akmal menyebutkan, pemerintah pusat sangat memperhatikan hutan sosial masyarakat. Bahkan, dalam program hutan sosial tersebut, hutan lindung dibolehkan untuk digarap tapi tidak untuk dimiliki, hanya saja mendapat izin garap.

“Saya ingin dukungan semua pihak. Karena program ini tidak main-main, mulus untuk masyarakat. Tapi ini bukan program bagi-bagi tanah. Program saya jelas bukan program besar, tapi program yang menyentuh dengan orang miskin.” kata Akmal. (mag-80/bai)