Stok Kepala Sekolah Bireuen Kosong

Ketua JSIT Provinsi Aceh Alfajri Kamal Ayu, melantik pengurus JSIT daerah Bireuen, Ahad (8/10). RAKYAT ACEH/RAHMAT HIDAYAT

BIREUEN (RA) – Salah satu komponen untuk mengerakkan mutu sekolah adalah kepala sekolah dan benar-benar dapat menjadi lokomotif di sekolah.

“Stok kepala sekolah di Bireuen kosong, tidak ada. Sekarang untuk memilih kepala sekolah harus ikuti seleksi diuji oleh LP2S Solo,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen Drs Nasrul Yuliansyah, M.Pd, kemarin.

Kadisdikbud dalam pelantikan pengurus Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) juga mengatakan bahwa seleksi di Solo adalah penting. “Jika kepala sekolah tidak bisa kita upgrade maka peningkatan dan kemajuan pendidikan di Bireuen jalannya terseok.”

Dikatakan juga untuk hasil ujian kompetensi guru 2015 pergerakan nilai sudah ada yang rata-rata nasional meski juga masih ada rata-rata Aceh dan dibawah nilai rata-rata Aceh. Nilai paling rendah tahun 2014 pada bidang kopetensi pedagogik dan untuk akademik tidak kalah.

Guru sekolah umum juga diharapkan perlu juga terus upgrade ilmu pengetahuan dan strategi belajar supaya mudah mentrasfer ilmu bagi murid atau anak didik. “Upgrade diri ini bagus sekali dan ditunggu hasilnya disekolah,” pungkas Kadis.

Kepada guru diharapkan agar jangan sekedar melepas beban tugasnya, karena disekolah umum masih ada anak murid kelas III, IV dan V masih belum bisa baca dan menghitung dan kondisi anak tersebut normal.

Kondisi itu jelas tidak ada proses di sekolah lima tahun berarti ada apa di sekolah itu mesinnya rusak. Dimana nurani kita ada anak baca dan menghitung belum bisa, ini memperihatinkan tatanan pendidikan kita.

Sementara itu Kadisdikbud Drs Nasrul Yuliansyah juga mengatakan terkait opini yang terbentuk paska Pilkada dan telah menjadi konsumsi publik, pendidikan Bireuen peringkat 22, itu salah besar. Hasil nilai Ujian Nasional (UN) 2016 memang iya Bireuen peringkat 22 tapi sudah termasuk SMA/SMK/MA.

“Apakah posisi ke 22 itu dan bukan saja SMA tapi juga ada SMK dan MA itu bisa kita klem SD juga peringkat 22, tentu kita semua marah besar dan tidak rela semua disamakan peringkat 22, ini salah kaprah,” tegas Nasrul Yuliansyah.

Begitupun kata Kadisdikbud, walau posisi 22 nilai rata-rata tidak anjlok, meski mendapat peringkat 22 tapi nilai tidak turun malah naik hanya kalah cepat dari kabupaten/kota lain di Aceh.

Tahun 2016 lalu kita paksa sekolah yang belum lengkap sarana seperti komputer. Untuk mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan 2017 ada 60 persen SMP berani gelar UNBK. (rah/min)