Perjuangan Musripin Hidup Tanpa Anus

BUTUH BANTUAN: Musripin (9) bertahan hidup ttanpa lubang anus di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussam. KAYA ALIM/RAKYAT ACEH

SEKILAS kondisi bocah berusia 9 tahun, Muspirin demikian ia disapa tampak normal seperti anak – anak yang lain, seusianya. Tiada yang menyangka jika putra pasangan Untung Tumangger (44) dengan Dahlia (40) ini sejak lahir tidak memiliki lubang anus.;

LAPORAN KAYA ALIM, SUBULUSSALAM

KONDISI cuaca di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, sedikit mendung saat wartawan Rakyat Aceh, Kaya Alim menyambangi kediaman orangtua Muspirin. Meski begitu, tidak menyurutkan niat dan langkah untuk melihat secara langsung kondisi bocah malang itu, Sabtu, November 2017 lalu.

Saat disambangi ke rumahnya yang berukuran 5 x 8 meter berkonstruksi kayu, bocah berkulit putih ini terlihat manja dan tak lekang dari pangkuan ibunya yang baru pulang dari sawah, masih berlumuran lumpur.

Meski tak memiliki lubang anus, tak membuat Musripin minder. Apalagi orangtuanya memiliki semangat tinggi dan tekat bulat untuk memberikan yang terbaik. Saat ini, ia sudah duduk di kelas III Sekolah Dasar (SD).

Dahlia menceritakan, Musripin lahir memang tidak memiliki lubang anus, atau bahasa medisnya disebut atresiani. Mengetahui hal itu, Dahlia bersama suaminya yang berprofesi sebagai buruh harian lepas langsung membawa Musripin ke RSUP Adam Malik Medan.
Bahkan sebelum dinding perutnya dilubangi sebagai jalan kotoran keluar, diperut Musripin terlihat membengkak.

Ia masih ingat, dua hari setelah dilahirkan, putra bungsu dari empat bersaudara langsung di bawa ke RSUP Adam Malik, Medan, Sumatera Utara. Meski biaya hidup selama di sana harus utang kepada saudara-saudaranya.

Hingga kini, sudah tidak terhitung Dahlia dan suaminya membawa Musripin untuk berobat, bahkan sampai bolak balik ke Medan. Kini, sementara waktu Muspirin telah memiliki lubang pembuangan kotorannya didinding perut sebelah kirinya.

“Kata dokter karena kotoran tidak keluar sehingga perutnya bengkak. Tapi setelah dioperasi diperutnya, Alhamdulillah sampai saat ini sudah tidak bengkak lagi ” kata Dahlia.
Untuk membuat lubang anus seperti orang normal, Musripin akan kembali menjalani operasi pada akhir Desember mendatang. Namun, kata Dahlia, tentu membutuhkan biaya selama merawat Musripin di Medan. “Dulu waktu kami bolak balik ke Medan terpaksa utang kepada saudara, sampai sekarang belum mampu terbayar,” ujar Dahlia.

Namun Dahlia mengaku sedikit lega dengan adanya perhatian dan bantuan dari Persatuan Pemuda Pemudi Kecamatan Simpang Kiri (Perpas) dan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA). Dirinya mengaku bisa sedikit tenang untuk membawa Muspirin berobat ke Medan.
Bahkan pengurus Perpas telah datang ke rumahnya untuk menyerahkan bantuan biaya pengobatan kepada Muspirin.

Salah satu pengurus Perpas, Enry Fitra mengaku ikut tergerak untuk membantu biaya pendampingan Musripin yang akan menjalani operasi akhir bulan Desember nanti.
Perpas telah menyerahkan donasi sebesar Rp3 juta untuk Musripin. Menurut Fitra, bantuan itu Rp 2 juta merupakan hasil galangan mereka untuk almarhumah Njuah Masdiani penderita Atresia Bilier yang meninggal dunia minggu lalu. Sedangkan Rp1 juta hasil galangan mereka setelah mengetahui keadaan Musripin.

Sebelumnya, hasil penggalangan dana mereka lakukan dari Kepala SKPK Njuah Masdiani berjumlah Rp 47,800,000. Karena Njuah tidak sempat dioperasi dan meninggal dunia, sehingga sebagian dana hasil galangan itu mereka sumbangkan kepada warga lainnya yang membutuhkan.

Dari jumlah tersebut, Rp7,800.000 mereka serahkan kepada Jono Sahmudin penderita tumor tulang yang kini masih dirawat di RSUDZA Banda Aceh, Rp 30 juta diserahkan kepada Masnawati ibu kandung Almh Njuah. Sisanya 10 juta dimasukkan dalam kas Perpas untuk membantu keluarga kurang mampu yang terkendala biaya hidup selama pendampingan. “Jadi, sisa uang yang disimpan Perpas saat ini tinggal Rp 8 juta setelah Rp2 juta diserahkan kepada Musripin,” demikian pungkaasnya. (slm)