Uni Eropa Tolak Dukung Israel

TOLAK: Warga Lebanon berdemo sambil membawa replika Dome of the Rock di Beirut Senin (11/12). (JOSEPH EID/AFP)

Harianrakyataceh.com – Dari Prancis, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu melanjutkan lawatannya ke Belgia. Kemarin (11/12) dia menghadiri pertemuan tingkat menteri luar negeri Uni Eropa (UE) di Kota Brussel.

Tokoh 68 tahun itu berusaha menggalang dukungan dari UE soal status Kota Jerusalem yang oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dideklarasikan sebagai ibu kota Israel.

Namun, lagi-lagi, Netanyahu harus gigit jari. Sama seperti saat melobi Presiden Prancis Emmanuel Macron di Kota Paris pada Minggu (10/12), dia kembali gagal meyakinkan UE supaya mengekor Trump.

”UE akan tetap mendukung kesepakatan internasional terhadap Jerusalem,” ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Federica Mogherini sebagaimana dilansir kantor berita Associated Press.

Kepada Netanyahu, Mogherini menegaskan bahwa UE tetap berkomitmen pada solusi dua negara terkait konflik Israel dan Palestina. Yakni, mengakui kedaulatan Israel dan Palestina sebagai negara.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu

TAK DISAMBUT HANGAT: Benjamin Netanyahu bersalaman dengan Fede- rica Mogherini di markas Dewan Eropa, Brussel, Belgia, kemarin. (FRANCOIS LENOIR/REUTERS)

Soal Jerusalem, UE tetap mendukung status quo. Diplomat perempuan asal Italia itu yakin kota tersebut bisa menjadi milik Israel dan Palestina. Sebab, jika Israel berhak mengklaim Jerusalem sebagai ibu kota, Palestina pun demikian.

Kemarin Mogherini menyambut sendiri Netanyahu. Lantas, mereka menggelar jumpa pers bersama. Itu merupakan lawatan pertama PM Israel ke UE dalam 22 tahun terakhir. Di hadapan media, Netanyahu membela deklarasi Trump pada Rabu (6/12).

”Apa yang Presiden Trump lakukan hanyalah mengungkapkan fakta. Sebab, perdamaian lahir dari realitas,” ungkapnya sebagaimana dikutip Reuters.

Netanyahu melanjutkan, Jerusalem adalah ibu kota Israel. ”Tidak ada yang bisa mengingkarinya,” kata kepala pemerintahan yang juga ketua Partai Likud tersebut. Dengan mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel, lanjut dia, perdamaian bakal lebih cepat terwujud. Namun, Mogherini bersikeras perdamaian Israel-Palestina hanya akan terwujud lewat solusi dua negara.

Dalam forum tersebut, Netanyahu juga mengimbau negara-negara Eropa untuk memindahkan kedutaan besar mereka ke Jerusalem. Namun, imbauan itu tidak digubris Mogherini. Sebab, sebagai penggagas ide, AS belum bisa berbicara panjang lebar tentang rencana kontroversial tersebut. Di internal AS, ide itu menuai banyak penolakan.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian tidak yakin dengan rencana AS untuk memindahkan kedubesnya ke Jerusalem. Dalam lawatannya ke Brussel pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson sama sekali tidak berbicara tentang deklarasi Trump atau rencana pemindahan kedubes. ”Semua orang tahu bahwa jalan keluar krisis Israel-Palestina hanya bakal lahir lewat perundingan dan solusi dua negara,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri Belgia Didier Reynders kembali menegaskan dukungan negerinya terhadap solusi dua negara. ”Jerusalem bisa menjadi ibu kota Israel dan ibu kota Negara Palestina kelak. Namun, dua pihak harus duduk satu meja dan membicarakan hal tersebut dengan kepala dingin,” paparnya.

Pekan depan, UE bertemu Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas untuk membahas tentang Jerusalem. Pekan ini Abbas berkunjung ke Mesir dan Turki. Lawatan itu bertujuan menggalang dukungan dari negara-negara tersebut soal Jerusalem. Bagi Palestina, Jerusalem Timur adalah ibu kota masa depan. Karena itu, deklarasi Trump pada Rabu lalu harus diluruskan.

Tentang konsep damai terbaru Israel-Palestina, Le Drian mengimbau AS untuk segera memublikasikannya. ”Kami berbulan-bulan menunggu konsep AS. Jika dalam waktu dekat konsep itu tidak muncul, UE akan memaparkan konsep damai kami sendiri,” tegasnya. Saat ini konsep tersebut digodok Jason Greenblatt, utusan Timur Tengah pemerintahan Trump, dan Jared Kushner.

Kemarin Netanyahu menanggapi kritik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tentang negerinya. Pada Minggu, Erdogan menyebut Israel sebagai negara teroris. Dia menegaskan bahwa deklarasi AS soal Jerusalem tidak akan berdampak apa pun bagi Turki.

”Palestina dijajah (Israel, Red) sejak 1947. Israel adalah penjajah, negara teroris,” ucapnya dalam pertemuan internal Justice and Development Party (AKP).

Di hadapan para Menlu UE, gantian Netanyahu yang mengkritik Erdogan. ”Dia membombardir desa-desa Kurdi di Turki. Dia memenjarakan banyak jurnalis. Dia juga membantu teroris menyerang Gaza dan kota-kota lain. Orang seperti itu tidak sepatutnya menggurui kami,” katanya sebagaimana dilansir Al Jazeera. (*)

(hep/c16/any)