MASYARAKAT INDONESIA SEHAT TANPA GANJA

ILUSTRASI : ALIH FUNGSI LAHAN: Kepala BNN pusat Budi Waseso, didampingi Wakil Bupati Aceh Besar, Husaini A Wahab (kanan) juga Menteri pertanian Andi Amran Sulaiman (dua kanan) saat mengunjungi lahan tanaman alternatif di Lamteuba, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, Kamis (21/12). Foto dokumen Rakyat Aceh

BANDA ACEH (RA) – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat Komjen Budi Waseso bersama Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. H Andi Amran Sulaiman mendatangi Gampong Lamtingkeum Kemukiman Lamteuba, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (21/12).

Kunjungan tersebut dalam rangka menindaklanjuti program pemerintah RI dalam mengantisipasi dan membumihanguskan narkoba di Aceh. Strateginya, mengoptimalkan kegiatan masyarakat ke arah non narkoba dan memacu ekonomi rakyat melalui pertanian.

Budi Waseso mengajak para petani untuk menghindarkan diri dari praktek narkoba yang sudah jelas menjadi ancaman besar bagi Indonesia. Bahkan sudah banyak masyarakat yang menjadi narapidana akibat terjerumus pengaruh narkoba, bahkan ada yang merengang nyawa.

Ia berharap budidaya narkotika dapat segera ditinggal masyarakat, demi membangun kehidupan yang sejahtera dan bahagia bersama keluarga. Pemerintah telah mendukung kehidupan ke arah sana dengan menciptakan program program unggulan di sektor pertanian, budidaya tanaman pangan yang hasilnya jauh lebih baik, aman dan tidak berhadapan dengan hukum sekaligus dapat mendukung dalam pembangunan negara Indonesia yang mandiri di bidang pangan.

“Saya harap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali membangun kehidupan yang bahagia bersama keluarga,” pesan Komjen Budi Waseso saat itu.

Sebagaimana diketahui, Kemukiman Lamteuba merupakan kawasan yang dikenal dengan produksi ganja terbaik dunia selama ini. Umunya ganja yang beredar hingga seluruh Indonesia berasal dari Aceh dan sentralnya adalah Kemukiman lamteuba. Namun sejak beberapa tahun terakhir masyarakat setempat mulai melirik sektor tanaman pangan.

*Persoalan Global

Budi Waseso menjelaskan permasalahan narkotika terbesar saat ini baik di tingkat global, Asia dan Nasional adalah penyalahgunaan Ganja. Data World Drug Report 2016 dari Badan Dunia Urusan Kejahatan dan Narkotika (UNODC) menunjukkan bahwa 74% penduduk Dunia usia 15-65 tahun menyalahgunakan Ganja, sementara di tingkat Asia sebanyak 11%. Di Indonesia, berdasarkan Survey BNN dan Puslitkes UI (2016), penyalahguna Narkotika di Indonesia adalah menyalahgunakan Ganja (44,8%). Ganja telah menjadi akar masalah Narkotika, Kejahatan dan dampak sosial ekonomi dan kerusakan hutan di Indonesia.

“Dampak produksi Ganja dan penyalahgunaannya secara multidimensi merugikan bangsa, baik secara fisik, psikis, sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan bangsa. Kegagalan mencegah dan menghadang ganja dari Aceh untuk tidak menyebar ke seluruh Indonesia menyebabkan produksi dan penyalahgunaan Ganja marak di mana-mana,” sebutnya.

“Tujuan Grand Design Alternative Development (GDAD) adalah mengentaskan produksi Ganja di provinsi Aceh terutama di Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Bireuen,” sebutnya.

Katanya, program Alternative Development (AD) merupakan program yang didesain khusus untuk menurunkan dan mengganti tanaman Narkotika dan telah berhasil di berbagai Negara penghasil tanaman Narkotika. Oleh karena itu dalam mengatasi masalah narkotika di Indonesia, juga diperlukan pendekatan program AD yang disusun dalam sebuah kerangka Grand Design AD yang bertujuan mengganti tanaman narkotika dan mengubah profesi penanam Ganja menjadi petani dalam produksi Unggulan.

“Visi dari grand design ini adalah terwujudnya Masyarakat Indonesia yang Sehat dan Bebas dari Produksi Ganja,” sebutnya.

*Serahkan Bantuan

Kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Kepala BNN Budi Waseso, disambut langsung Wakil Bupati Aceh Besar Tgk H Husaini A Wahab bersama para petani. Dalam kunjungan itu turut pula disalurkan sejumlah bantuan petani yang menggarap lahan 200 hektar di lokasi tersebut.

Selain itu, sebagai bentuk memberikan dukungan pada para petani dan mantan petani ganja untuk komit menopang hidup di sektor pertanian komuditi unggulan di Aceh Besar, serta meninggalkan budidaya ganja yang merupakan hal yang dilarang oleh agama dan negara.

Turut pula digelar diskusi terbuka dengan petani tentang persoalan pertanian dan kendala yang dialami. Menteri Andi mengatakan, tingkat produksi pangan Indonesia dari tahun ketahun terus terjadi peningkatan, bahkan Indonesia sudah mulai mencapai swasembada nasional.

Ia optimis, bila komitmen para petani dapat dipertahankan, dalam waktu dekat Indonesia juga bisa jadi negara pengekspor beras lagi seperti pada masa lalu. Maka diharapkan para petani untuk lebih optimis mengelola pertanian dan tidak lagi mengangtungkan hidup pada hal hal yang dilarang oleh negara dan agama.
“Jadi marikita bersama mewujudkan langkah tersebut dan mensejahterakan petani,” ajak Menteri Andi Amran Sulaiman. (***)