Ustad Faizal : Tsunami Bukan Hal Baru di Aceh

Ustad Faizal Adriansyah saat mengisi tausyiah peringatan 13 Tahun Tsunami Aceh yang di pusatkan di halaman Masjid Al Ikhlas, Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (26/12). FOTO FOR RAKYAT ACEH

LEUPUNG (RA) – Mubalig dan geolog Aceh Ustad Faizal Adriansyah mengatakan tsunami bukanlah hal baru di Aceh. Masyarakat Simeulue sebelumnya sudah mengetahui bencana mahadahsyat tersebut lewat adat mereka yaitu smong. Sehingga, ketika air laut surut, mereka memilih lari ke atas bukit.

Demikian disampaikan Ustad Faizal Adriansyah saat mengisi tausyiah peringatan 13 Tahun Tsunami Aceh yang di pusatkan di halaman Masjid Al Ikhlas, Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (26/12).

Dijelaskan, kata Tsunami itu diambil dari bahasa Jepang, padahal Aceh punya nama sendiri dari pulau Simeulue. Yaitu namanya, Smong.

Perlu diketahui, Smong, menjadi pelajaran hidup sendiri bagi masyarakat Simeulue. Masyarakat Simeulue, tidak ingin bencana dahsyat 1907 itu, terulang kembali dan memakan korban jiwa.

Melalui adat tutur, keariban lokal dan cerita turun menurun, membuat masyarakat Simeulue selalu siap siaga jika sewaktu-waktu smong datang.

Kesiapan itu terbukti ketika minggu terakhir Desember 2004, gempa dahsyat dan smong, menyapa pulau ini. Ribuan rumah penduduk hancur dan rata dengan tanah. Namun, korban jiwa hanya beberapa orang saja.

“Ini menandakan bahwa adat kita sudah mengenal lebih dulu apa itu tsunami, ” ujarnya.

Disamping itu, Faizal menyebutkan, sebelumnya juga banyak juga orang yang tidak mengetahui apa itu tsunami. Sehingga ketika gempa disusul dengan air laut surut, banyak masyarakat malah memilih beramai-ramai pergi ke bibir pantai.

Kemudian kaget ketika air laut tiba-tiba kembali naik dengan kecapatan yang sangat tinggi. Dikatakannya, ia tidak mungkin membuka luka lama pada masa silam, namun, pembelajaran terkait tsunami itu harus dipersiapkan.

Dalam tausyiahnya di hadapan masyarakat, ia menyebutkan bencana seperti gempa itu kerap datang ketika memasuki waktu shalat. Menurutnya, ini menandakan bahwa masih banyaknya masyarakat yang mengabaikan panggilan ketika Azan berkumandang.

“Banyak gempa itu menjelang shalat. Nampak-nampaknya Allah ingin mengambil mereka yang selalu sibuk duduk di warung kopi saat panggilan Azan dan mengabaikan panggilan tersebut,” katanya dalam tausyiah.

Selain mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana, Faizal juga mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri dengan keimanan dan semakin berikhtiar kepada Yang Maha Kuasa.

“Semoga bencana tsunami lalu, adalah bencana yang terakhir menyapa kita,” demikian ujarnya. (ra)