Suree Panggang Pidie, Murah Dan Higeinis

Bustaman memanggang ikan tonggol (Suree Teuteut) asal Gampong Gampong, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Ahad (28/1). ZIAN MUSTAQIM/RAKYAT ACEH

LAPORAN : Zian Mustaqin, SIGLI

Rumah Aceh itu telah bewarna hijau terkesan berlumut. Di belakangnya juga ditambahkan bangunan modern, namun khas Acehnya tetap melekat. Tiga anak kecil terlihat dibawah rumah tersebut, satu lagi makan bersama ibunya, dua lagi sedang tidur diayunan.

Di depan rumah beralamat di Gampong Gampong, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, memiliki halaman luas layaknya rumah adat Aceh kebanyakan, sebuah sumur juga bertengger di halaman itu. Pinggiran sumur berbentuk persegi dibatasi plastik terpal biru.

Minggu (28/1) siang, Rakyat Aceh, menghampiri rumah didepanya ditutupi terpal biru itu. Di halaman terdapat seratusan Ungkot Suree (ikan tongkol) yang telah dipasang dalam tempat panggangan khusus terbuat dari bambu. Setumpuk kayu layaknya api unggu juga telah menyala, sedang memanggang ikan tersusun rapi berbentuk lingkaran.

Seorang pria keluar dari pintu belakang rumah Aceh, namanya Bustaman, umurnya 37 tahun, dia adalah pemilik rumah dan ratusan ikan tersebut. Kepada Rakyat Aceh, dia mengatakan hamper setiap hari melakukan aktifitas memanggang ikan didepan rumahnya, hal itu rutin dilakukannya semenjak tahun 2005, meneruskan pekerjaan orang tuanya, karena sebelumnyaa profesi tersebut dilakukan oleh orang tuanya.

“Saya baru mulai tahun 2005, sebelumnya ayah saya yang mengerjakan ini, paska dia tak ada lagi, saya yang melanjutkan. Ikan yang saya bakar khusus ikan tongkol, jadi tidak selain ikan itu,” Ungkap Bustaman.

Dia juga menjelaskan, ikan panggang yang dia jual harganya bervariasi, tergantung besar dan kecil ikan, mulai Rp. 30 ribu hingga Rp. 50 Ribu setiap ekornya. Mengenai prosesnya, ikan yang diambil setiap hari bekisar 100 sampai 300 ekor, adapun lama pembakaran atau dipanggang ikan tersebut, dapat memakan waktu hingga tiga jam lamanya.

“Saya jualan setiap ada ikan, jika tidak ada saya tidak kerja. Setiap ikan yang dijual mencapai 100 sampai 300 ekor, jika ikannya besar Cuma 100 ekor, kalau kecil-kecil sampai 300 ekor setiap pembakaran. Lama dipanggang sampai tiga jam, nanti setiap satu jam sekali dibalik -balik hingga matang atau sudah kemerah-merahan,” Jelasnya.

Mengenai penjualan, Bustaman, saban hari menjualnya ke Pasar Caleu dan Garot, Kecamatan Indra Jaya, mengapa dia kerap menjual Suree Panggang kedua pasar tersebut, hal itu dikarenakan dua pasar itu yang dibuka dan ramai pada sore hari, sementara pada siang hari dirinya masih memproses ikan. Selain itu, kedua pasar tersebut yang dekat jaraknya dengan rumah bapak yang memiliki dua anak itu.

“Saya menjualnya ke pasar Caleu dan Garot, tapi lebih sering ke Caleu, karena langganan disana lebih banyak, dua pasar itu juga dekat dengan rumah saya. Dibukanya juga sore, kalau siang saya masih mencari ikan dipasar dan memanggang ikan, jadi kelarnya menjelang sore, setelah itu siap untuk dijual,” Terangnya kepada Rakyat Aceh.

Pun demikian, proses pemanggangan Suree Teu Teuet (Tongkol bakar) tersebut sangat bersih dan rapi, karena jauh dari debu perapian, hal itu disebabkan ikan yang dipanggang diatur tinggi keatas bukan disusun diatas bara api, sehingga tidak lengket dengan debu bekas perapian. Selain itu, pembakaran metode melingkar tersebut juga membuat ikan terbakar dengan rata dan rapi, sehingga matangnya menyeluruh, jelas Bustaman, kepada Rakyat Aceh, setelah itu diminumnya kopi yang sudah tersedia dalam gelas plastik dihadapannya. (Zian)