Jangan Ada Lagi Salon Waria

Rakyat Aceh

Kapolres Aceh Utara, AKBP Untung Sangaji

ACEH UTARA (RA) – Kapolres Aceh Utara, AKBP Untung Sangaji menegaskan tidak ada lagi salon waria di Aceh Utara. Sebab keberadaan salon tersebut sangat menyimpang dan tidak sesuai dengan syariat Islam yang diterapkan di Provinsi Aceh.

“Razia yang telah kita lakukan ini sebagai bentuk tindakan tegas yang kita lakukan. Papan reklame nama salon kita cabut dan kita ganti dengan police line,” tegasnya.

Lanjut orang nomor satu di jajaran Polres Aceh Utara ini, keberadaan salon waria tersebut telah merusak moral dan generasi penerus bangsa. Selain itu dalam memberantas penyakit masyarakat ini dilakukan razia agar dapat menekan populasi waria dan LGBT di wilayah hukum Aceh Utara.

“Ini penyimpangan dan harus dihilangkan. Semua orang tua berharap agar anaknya menjadi perilaku normal,” jelas Kapolres Aceh Utara.

Ia menambahkan, atas perilaku dan sikap waria tersebut, usai diamankan dan diinapkan di Mapolres Aceh Utara, para waria yang kena razia tersebut dikembalikan ke desa atau gampong bersangkutan.

“Sebelum kita kembalikan, para waria ini kita buat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan mereka. Dan mereka (waria) kita suruh jemput sama Kades atau Geuchik tempat mereka masing-masing,” terang AKBP Untung Sangaji.

Menyangkut dengan razia dan pemberantasan waria atau LGBT yang terjadi di Aceh Utara, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malikussaleh (Unimal), Muslem Hamidi mengatakan sangat mendukung apa yang telah dilakukan Polres Aceh Utara, apalagi dengan menutup semua salon waria.

“Apalagi DPR juga saat ini sedang membahas rancangan Undang-Undang untuk dipidanakan terkait aktivitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender),” ujarnya, kemarin.

Dikatakannya, keinginan masyarakat untuk memberantas penyakit masyarakat ini sudah cukup lama, dan baru kali ini diambil tindakan tegas. “Perilaku menyimpang ini sangat tidak baik jika dibiarkan, kita berharap, tindakan itu tidak hanya dilakukan di Aceh Utara saja, mengingat keberadaan salon-salon waria itu justru banyak di kota lainnya di Aceh,” harapnya. (msi/mai)