Pertumbuhan Ekonomi Aceh Peringkat Ketiga Terendah se-Sumatera

Pertumbuhan ekonomi Aceh berada di peringkat ketiga terendah se-Sumatera. data BPS Aceh

 

BANDA ACEH (RA) – Pertumbuhan ekonomi Aceh sampai dengan triwulan IV (Otober-November-Desember) 2017 mencapai 4,19 persen (c-to-c). Ini masih berada di bawah pertumbuhan nasional yang mencapai 5,19 persen.

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Luar Negeri yang mencapai 40,31 persen diikuti Komponen Impor Luar Negeri sebesar 9,98 persen dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 8,82 persen.

Pertumbuhan ekonomi Aceh ini diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Drs. Wahyudin, M.M kepada wartawan usai gelaran rilis resmi statistik di Kantor BPS Aceh, Senin (5/2).

Namun secara regional pertumbuhan ekonomi triwulan IV secara kumulatif (c-t0-c) se-Sumatera, Provinsi Aceh berada di peringkat ketiga terbawah (4,19 persen), di atas Riau sebesar 2,71 persen dan Kepulauan Riau (Kepri) sebesar 2,01 persen. Peringkat pertama se-Sumatera dipegang Sumsel yakni 5,51 persen dan peringkat kedua Sumbar, 5,29 persen.

Jika ditinjau berdasarkan kontribusi dari masing-masing PDRB Provinsi di wilayah regional Sumatera, Riau dan Sumatera Utara merupakan Provinsi dengan kontribusi tertinggi yaitu masing-masing sebesar 23,99 persen dan 22,95 persen.

Kontribusi terkecil terhadap PDRB Sumatera adalah Provinsi Bengkulu yaitu sebesar 2,05 persen. Provinsi Aceh memberikan kontribusi sebesar 4,90 persen terhadap PDRB Sumatera pada triwulan IV-2017.

Disampaikan, perekonomian Aceh Triwulan IV-2017 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp37,77 triliun atau sebesar US$2,79 milyar. Sementara itu PDRB tanpa migas adalah sebesar Rp36,72 triliun atau sebesar US$2,71 milyar.

Ekonomi Aceh dengan migas secara kumulatif (c-to-c) hingga triwulan IV-2017 tumbuh sebesar 4,19 persen. Sementara pertumbuhan c to c tanpa migas adalah sebesar 4,14 persen.

Dari sisi produksi pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 11,27 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi ada di komponen Ekspor Luar Negeri sebesar 40,31 persen.

“Pada triwulan IV itu, ada beberapa even di Aceh yang menjadi pendongkrak pertumbuhan, seperti Sabang Sail. Itu kan banyak wisatawan berkunjung, otomatis mereka menginap dan juga makan minum,” terang Wahyudin.

Hal ini berbanding terbalik pada triwulan III, terbesar adalah pertanian sementara akomodasi dan makan minum lebih rendah. “Di triwulan IV, pertanian malah turun, karena pada masa itu daerah kita Aceh, rata-rata pada masa tanam. Maret 2018 nanti akan masa panen, berarti akan naik lagi,” terangnya.

Disampaikan juga, bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Aceh Triwulan IV-2017 y on y, Kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan JSW (O) memiliki kontribusi sebagai sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,17 persen, hal ini disebabkan oleh peningkatan realisasi belanja pegawai pada tahun 2017.

Kategori Transportasi dan Pergudangan (H) menyumbang sumber pertumbuhan kedua sebesar 0,76 persen yang didorong oleh adanya kegiatan Sail Sabang di triwulan IV-2017, selanjutnya Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (A) menyumbang sebesar 0,57 persen.

Sementara itu kategori Pertambangan dan Penggalian (B) dan Kontruksi (F) menjadi sumber pertumbuhan negatif, masing-masing sebesar -0,32 persen dan -0,28 persen.

Bila dilihat sumber pertumbuhan Aceh secara Kumulatif hingga Triwulan IV-2017 (c to c), Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (A) memiliki kontribusi tertinggi sebesar 1,45 persen, diikuti Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan JSW (O) sebesar 0,74 persen, dan Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi (G) sebesar 0,54 persen. Sedangkan Kategori Kontruksi (F) dan Industri Pengolahan (C) menjadi sumber pertumbuhan negatif, masing-masing sebesar -0,43 persen dan -0,16 persen. (min)