Subulussalam Dilanda Hujan Es

0
81
Warga melihat kondisi rumah yang hancur di terjang angin puting beliung di Desa Suka Maju, Subulussalam, Sabtu (10/2). KAYA ALIM/RAKYAT ACEH

SUBULUSSALAM (RA) – Sedikitnya 112 Kepala Keluarga di lima Desa Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam diamuk angin kencang disertai hujan es batu yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB, Sabtu (10/2).

Lima desa yang terkena dampak yakni Desa Suka Maju sebanyak 95 KK, Jabi-jabi 11 KK, Sigrun 4 KK, Gunung Bakti 1 KK dan Pulo Kedep 1 KK.

Akibat dari peristiwa tersebut, lima Kepala Keluarga terpaksa mengungsi karena bukan hanya bagian atap rumah yang diterbangkan angin, tetap sebagian dinding rumah yang berkonstruksi papan turut rusak.

Camat Sultan Daulat, Mulyadi Kombih menjelaskan bahwa masyarakat sangat kaget ketika angin kencang yang menghantam atap rumah. Sebab angin kencang tersebut juga disertai hujan es batu.

Diperkirakan, durasi angin kencang yang melanda wilayah Kecamatan Sultan Daulat itu mencapai satu jam. Sedangkan peristiwa hujan es batu diperkirakan 20 menit.

Bukan hanya di lima desa angin kencang melanda, beberapa desa yang masih dalam kecamatan Sultan Daulat juga menjadi sasaran, namun karena sebagian rumah warga beton sehingga mampu bertahan.

“Hampir seluruh desa di Kecamatan Sultan Daulat diserang angin kencang, tapi yang paling parah di lima desa itu saja,” terang Mulyadi.

Ia menambahkan, saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan jumlah kerugian yang dialami warga. Bahkan, Mulyadi mengaku sudah melaporkan kejadian itu pada Walikota, BPBD dan Dinas Sosial.

“Kami masih melakukan pendataan jumlah kerugian masyarakat atas musibah ini. Nantinya akan kami serahkan pada pak walikota,” katanya.

Saat terjadinya angin kencang, warga terlihat keluar mengambil es batu yang katanya bisa dijadikan obat.

Seorang warga Desa Suka Maju mengatakan, hujan es batu memang jarang terjadi bahkan lima tahun belum tentu terjadi. Sehingga, ia tidak mau melewatkan kesempatan mengambil es batu meski petir dan angin kencang dihadapi.

“Sayang dilewatkan. Es batu ini kan bisa dijadikan obat dan lama kejadian seperti ini. Belum tentu lima tahun akan terjadi,” sebutnya. (lim/mai)