Waria Mulai Tinggalkan Aceh

Suasana salah satu salon di Banda Aceh. HENDRI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Empat tahun sudah pria itu, berprofesi sebagai perias pengantin. Sebut saja namanya Bayu (bukan nama sebenarnya). Sebagai waria, ia tentu punya nama wanitanya. Pria berusia 25 tahun itu memilih Ayu sebagai nama sapaan.

Sejak beberapa tahun lalu bisnis salonnya maju pesat. Namun warga Darul Imarah, tempat usahanya dijalankan, tak lagi mengizinkan dirinya melanjutkan usaha salon.

Tiga hari jelang berakhirnya Januari, ia harus angkat kaki dari ruko yang telah ditempati sejak 2014 lalu. Alasan warga hanya satu, Bayu seorang waria.

Seperti anda ketahui isu Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) kembali mencuat usai operasi pekat di Aceh Utara beberapa waktu lalu. Saat itu, 12 waria terjaring dan dibina. Dua hari berikutnya, empat salon di kawasan Keutapang, Aceh Besar ditutup paksa. Satu diantaranya milik Ayu.

Tak hanya itu, Wilayatul Hisbah belakangan juga semakin gencar melakukan penertiban LGBT. Waria yang tertangkap berkeliaran di jalanan, ditangkap lalu dibina.

Kondisi itu, membuat Ayu dan dan teman-temannya tak berkutik. Bahkan sebagiannya terpaksa memilih meninggalkan Aceh. “Kalau saya lihat kami diusir karena ada kawan yang jadi bumerang, jadi imbasnya ke kawan lainnya,” sebutnya.

Ayu tak terima salonnya ditutup, alasannya, mereka tidak menggangu yang lainnya. “Karena kalah banyak saja, ya sudah diam saja,” kata Ayu, awal pekan lalu.

Memilih Lari Agar Tak Dipotong Rambut

Setelah peristiwa tersebut, gerak Ayu semakin terbatas. Lantas memilih pulang kampung di pedalaman Aceh Besar. Namun cemas masih membuntutinya, agar warga tak menaruh curiga, ia akhirnya memilih memakai hijab.

“Sekarang Ayu hidup seperti dalam konflik harus was-was. Ayu kalau di kampung gunakan bayu hijab. Karena kalau nampak muka pasti ketahuan Ayu waria. hanya keluarga yang tahu siapa Ayu, tapi lainnya tidak, gitulah biar hidup damai tanpa diusik,” katanya.

Kata Ayu, selain dirinya ada sekitar 20 waria lain bernasib serupa. Namun mereka memilih pergi ke Medan, Jakarta, Jambi dan Lampung.

“Di saat kawan-kawan Ayu kabur dari Aceh, mereka juga gunakan baju hijab, supaya tidak diketahui mereka waria, namun yang naik pesawat penampilan laki-laki, lucu saya lihat,”ujarnya.

Ayu mengaku berat menjalani hari tanpa bekerja di salon. Apalagi dirinya memiliki tanggungjawab membiayai keluarga, ibu dan empat adiknya yang masih sekolah.

“Tapi kondisi Aceh gini. Kalau Ayu masih merias pengantin dan paksakan cari pelangan lewat media sosial bisa, tapi kalau ketahuan, Ayu ditangkap dipotong tambut tidak mau Ayu, amit-amit deh. Ya sudah terima saja kenyataan pahit ini,” ungkapnya.

Masih Suka Laki-Laki

Meskipun Aceh, menginginkan para waria menjadi laki-laki. Ayu tetap tidak ingin berubah. Ia telah nyaman dengan kondisi yang sedang dijalani.

“Maaf saya masih suka pada laki-laki, di Aceh sudah pernah pacaran sebanyak tujuh laki-laki dan main-main banyak, saya lakukan ini karena kata hati sendiri dan nyaman seperti ini,”ujarnya.

Ia membeberkan, jumlah waria ditaksir mencapai 100 orang bernaung disebuah organisasi. “100 orang yang terdaftar, tapi banyak juga yang munafik, mereka menutup diri, padahal suka juga sama jenis,” sebutnya.

Ayu menyebutkan, selama ini para waria yang hidup di Aceh tidak melakukan hubungan intim di Aceh, tapi mereka pilih keluar Aceh seperti Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia. Di sana lebih aman.

“Kalau pingin ya ke luar Aceh. Sekali-kali ada juga di sini, tapi mainnya tertutup. Kalau pesta lebih keluar, di sana tidak ada hukuman cambuk, di sini ada. Takut kami,” katanya sembil tersenyum. (ibi/mai)