BI Diminta Kaji Penerbitan Uang Digital

Dosen Pasca Sarjana Unsyiah Dr. Chenny Seftarita, S.E, M.Si saat memberikan materi dalam seminar seminar fintech dan uang digital, di Aula FEB Unsyiah, Selasa (13/2). (al amin/rakyat aceh)

 

 

BANDA ACEH (RA) – Bank Indonesia diminta mengkaji secara mendalam dan membuat perencanaan mengenai kemungkinan diterbitkannya uang digital di Indonesia, mengingat cepatnya evolusi sistem pembayaran dunia.

Saran ini disampaikan Dosen Pasca Sarjana Unsyiah Dr. Chenny Seftarita, S.E, M.Si yang menjadi pemateri dalam seminar teknologi finansial (fintech) dan uang digital bertema Kebijakan Bank Indonesia dan Arah Perkembangannya, di Aula FEB Unsyiah, Selasa (13/2).

Menurut Chenny Seftarita, meningkatnya minat masyarakat terhadap uang digital menjadi alasan besar bagi lahirnya Uang Digital Bank Sentral (Central bank digital currency).

“Namun kebijakan ini harus dikaji lebih mendalam mengingat belum banyak studi yang melihat pengaruh uang digital terhadap perekonomian makro,” tukas Chenny Seftarita.

Dikatakannya, perlu aturan yang tegas dari BI dan juga OJK mengingat ada kaitannya dengan kegiatan virtual currency lebih dikenal bitcoin yang cenderung sebagai investasi spekulatif. “Harus sudah ada data mengenai jumlah investor/pemegang bitcoin, walaupun Bitcoin dilarang,” tukasnya.

Dikatakan juga, adanya unsur spekulatif atau untung-untungan pada bitcoin sama juga dengan berjudi dan dalam Islam ini dilarang. “Sebagai daerah dengan memegang aturan syariah, jelas spekulasi atau berjudi ini dilarang,” tukasnya.

Hal senada juga disampaikan Deputi KPw BI Aceh T Munandar, penggunaan bitcoin memang diketahui sangat fluktuatif, pemiliknya tidak diketahui akibatnya lebih berisiko tinggi. “Masyarakat kita yang edukasinya masih ekonomi ke bawah, akan gampang tertipu,” ujar T Munandar.

Karenanya dia mengharapkan, Aceh sebagai Syariat Islam yang mengutamakan dalam berkehidupannya terutama dalam perekonomian disesuaikan dengan tuntunan syariat Islam. “Jelas dalam Islam dilarang atau haram melakukan spekulasi atau berjudi yang menjadi unsur penggunaan bitcoin,” tandasnya.

Karenanya dia berharap pada undangan, yakni mahasiswa dan dosen dari beberapa universitas yang diungdang pada gelaran seminar ini dapat menularkan pengetahuan didapat mereka ke lingkungannya. “Supaya menjaga tidak ikut dalam kegiatan ekonomi telah dilarang oleh Bank Indonesia ini.”

Sebelumnya PD II Unsyiah Ridwan Ibrahim saat membuka seminar menyebutkan, perkembangan teknologi mempengaruhi dunia ekonomi. “Karenanya seminar ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan yang lebih luas tentang dunia perekonomian yang kini makin maju,” tukas Ridwan Ibrahim. (min)