PENCEGAHAN NARKOBA: Anggota DPR-RI dari Partai PDI-P Ir.H.Tagore Abubakar saat menyampaikan arahannya dalam seminar narkoba di Takengon. Jurnalisa/Rakyat Aceh

TAKENGON (RA) – Peredaran narkoba di Aceh Tengah sudah sangat meresahkan masyarakat umum. Pasalnya target dari bandar narkoba saat ini sudah bukan lagi kawasan perkotaan, melainkan pedesaan menjadi sasaran empuk.

Hal ini terungkap saat seminar pencegahan narkoba yang dilakukan oleh pemuda dari lembaga GMNI dan KNPI Aceh Tengah. Hadir sebagai narasumber, selain Bupati Shabela Abubakar, Tagore anggota DPR-RI dari Partai PDI-P, Kepala BNN Aceh serta Kapolres.
Tagore mengatakan, mengajak media agar terus menyuarakan terkait pencegahan dan bahaya narkoba ke pelajar-pelajar serta aparatur kampung, karena selama ini narkoba terus merasuk kesegala lini kehidupan bermasyarakat.

“Kita harus berani menuntaskan kasus narkoba didaerah kita ini khususnya dan secara Indonesia umumnya. Negara ini kalau terus dicekoki oleh narkoba pasti akan rapuh generasinya,” terang Tagore Abubakar.

Menurut mantan Bupati Bener Meriah itu, seseorang yang kecanduan narkoba itu seperti kecanduan korupsi. Bila sekali dilakukan, akan terus berulang selanjutnya. “Begitulah bahayanya narkoba itu,” lanjut Tagore sambil mengatakan akan menyumbang dana senilai Rp50 juta untuk pemeriksaan urin ASN di Takengon, Selasa (13/2).

Senada dengan Tagore, Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar didepan Kepala BNN Aceh, mengatakan Pemkab sangat mendukung ada wacana dibangunnya pusat rehabilitasi. “Kami mendukung pembangunan rehabilitasi dan Aceh Tengah akan menyiapkan lahan untuk pembangunan,” ucap Shabela.

Menurut Kepala BNN Aceh Brigjen, Pol Drs Faisal Abdul Naser, MH, Aceh 2016 lalu menduduki peringkat ke 11 penguna narkoba di Indonesia.

Yang sangat disesalkan oleh kepala BNN, selama ini pihaknya menangkap bandar-bandar narkoba, namun setelah menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan kembali “memainkan” aksinya dari dalam sel.

“Kita sudah tangkap bandar-bandar besar di Aceh, namun setelah menjalani hukuman di LP mereka kembali menjadi bandar-bandar dari dalam sel,” sesal Faisal Abdul. (jur/bai)