Kisah Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Seulawah

SUMBANG DANA: Nyak Sandang (91), salah seorang penyumbang dana pembelian Seulawah Agam dan Seulawah inong 001 di Gampong Lhuet Kecamatan Jaya Aceh Jaya, Rabu (7/3) Rakyat Aceh /Hendra Sayeng.

Diusia 23 tahun, Nyak Sandang unjuk baktinya pada negara. Ia menyumbang tiga mayam emas atau sekitar Rp100 ribu, agar Presiden Soekarno mampu membeli pesawat 001 Seulawah Agam dan Seulawah Inong.

Hendra Sayeung – Calang

Nyak Sandang kini telah berusia 91 tahun, namun masih lekat benar dalam ingatannya perjuangan Aceh untuk membangun bangsa ini. Suami Fatimah (88) menyebutkan, ia sumbangannya diserahkan sesuai instruksi Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Lansia yang memiliki cicit 27 orang itu, menyebutkan sumbangan diserahkan di Lamno 9 Oktober 1950. Warga Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya itu bahkan masih menyimpan dokumen bukti.
“Presiden Soekarno meminta bantuan pada Aceh untuk dibelikan pesawat terbang, untuk menjalin hubungan antar negara untuk menjalin perdagangan,” kata Nyak Sandang, Rabu (7/3).

Ia bercerita, instruksi Teungku Muhammad Daud Beureueh tersebut sesuai hasil musyawarah seluruh ulama. Bantuan pembelian pesawat terjadi sekitar tiga tahun setelah Soekarno terpilih sebagai presiden pertama.

Kala itu, Teungku Muhammad Daud Beureueh melakukan kunjungan pertama di Masjid Lamno. Sesuai kesepakatan ulama Aceh Syeh Muda Wali termasuk ulama Lamno, Almarhum Tgk Muhammad Edarus.

“Dalam pidatonya meminta untuk menyumbangkan baik itu harta bendanya dalam rangka untuk membeli cikal bakal Seulawah Agam 001 dan Seulawah Inong. Saat itu masyarakat yang hadir banyak yang berkumpul, sekaligus untuk menyaksikan Daud Beureueh saat menjabat sebagai gubernur,” kata Nyak Sandang,” jelasnya.

Kabar itu beredar luas dari mulut ke mulut, hingga masyarakat yang tidak hadir turut mengetahui. Katanya, untuk membeli pesawat tersebut kala itu, “harus menjual kebun kelapa yang berjumlah 40 batang yang berada di Pulau Raya, Kecamatan Sampoenit. Memang kita tidak mengharapkan apapun selain untuk membantu negara agar berjalan, dalam menjalin hubungan perdagangan karena memang daerah ini merupakan salah satu daerah penghasil rempah-rempah baik itu pala dan gabah.”

Nyak Sandang menambahkan namun dengan hasil kerja kerasnya sehingga pada akhir tahun 50an, sumbangan yang dibutuhkan telah terkumpul sesuai dengan Bupati Kabupaten Wedana Kewedanaan.

Ia mengaku dulunya sering menyaksikan dua peswat tersebut terbang di udara melintasi wilayah Lamno. “Kami beramai-ramai keluar rumah untuk menyaksikan hasil sumbangan kami terbang di udara,” sembari meneteskan air mata. “Walaupun hingga saat ini belum pernah naik pesawat terbang.”

Nyak Sandang mengaku hingga kini dirinya masih rajin bersedekah untuk membangun Masjid Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya. Ia juga berharap pemerintah membantu pembangunan masjid tersebut.

“Saya akan berusaha di punghujung usia saya untuk terus bersedekah. Kita tidak akan tahu kapan akan meninggal dunia. Maka kita harus terus bersedekah dalam beramal,” kata Nyak Sandang. (mai)