Akademisi Tolak Rencana Uji Materi

Pengamat ekonomi aceh. Prof. Raja Masbar/Ist

BANDA ACEH (RA) – Para akademisi Aceh menilai rencana DPRA melakukan judicial review (uji materi) APBA bila diputuskan lewat Pergub, merupakan langkah tidak tepat. Dosen FISIP UIN Ar-Ranirya Banda Aceh, Dr Taufik A Rahim bahkan menyebutkan, rencana uji materi Pergub APBA hanya menguntungkan sebagian elit Aceh.

Menurutnya, meskipun DPRA mengatasnamakan kepentingan rakyat melalui dana/anggaran aspirasi dan dana otonomi khusus. Sesungguhnya tidak sepenuhnya untuk rakyat.

Disadari atau tidak bahwa proses hukum yudicial review tersebut juga menghambat pelaksanaan dan pemanfaatan dana APBA 2018, yang sudah sangat terlambat dapat digunakan untuk aktivitas dan produktivitas ekonomi rakyat Aceh.

“Kesengsaraan rakyat yang mengharapkan APBA 2018 supaya dapat mendongkrak perekonomian,” jelasnya Pengamat Politik dan Keamanan Aceh ini, Kamis (8/3).

Bila terus dipersoalkan jika dilakukan Pergub dengan cara ditempuh yudicial review ini, artinya elit Aceh terus membuat kerusuhan politik kebijakan anggaran dengan cara berfikir yang tidak sehat yang berdampak kepada kehidupan ril ekonomi masyarakat.

“Sebaiknya berfikir dan bertindak secara bijaksana, jangan hanya “birahi politik” penguasaan anggaran dana APBA 2018 tidak kesampaian terus membuat persoalan dan kekisruhan berkaitan dengan anggaran dana APBA 2018,” tegasnya.

Sebenarnya tingkah laku politik elit politik Aceh hari ini dalam penilaian masyarakat Aceh. Tingkah polah aneh tersebut harus menjadi catatan penting rakyat Aceh untuk menentukan politik ke depan pada tahun politik 2019.

“Ke depan kita berusaha cerdas menentukan pilihan politiknya terhadap politisi, aktor politik baik eksekutif dan legislatif yang akan datang. Kasus yudicial review juga akan menjadi penilaian tersendiri bagi masyakat, sehingga ini tuntutan bijaksana ataupun tidak,” ungkapnya.

Ia berharap pemangku kepentingan Aceh, untuk berfikir sehat, cerdas dan bijaksana untuk kehidupan rakyat Aceh secara keseluruhannya.

*Urat Nadi Ekonomi Tergantung APBA

Sementara itu, pakar Ekonomi Aceh, Prof. Raja Masbar menilai, Aceh sangat ketergantungan dengan APBA untuk meningkatkan perekonomian. Berbeda dengan provinsi tetangga, Sumatera Utara banyak industri industri sebagai penggerak ekonomi.
“Kita di Aceh kurang industri dan Aceh sebagai daerah pertanian,” ujarnya, Kamis (8/3).
Dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah, ini juga menambahkan urat nadi pertumbuhan ekonomi Aceh tergantung pada APBA, dan bila terlambat disahkan perputaran ekonomi semakin lambat pula.

Menurutnya, semua sektor tidak bisa bergerak dengan kondisi Aceh saat ini yang butuh realisasi APBA.

“Semua tidak bisa jalan seperti pembangunan rumah sakit, sekolah, kerja, gaji tukang juga tidak bisa,” jelasnya. (adi/mai)