Menantang Arus Deras Cinendang

MERAIH CITA: Pelajar SDN Tugan kecamatan Simpang Kanan menggunakan sampan saat ke sekolah, Aceh Singkil, Rabu (14/3). IDRUS/RAKYAT ACEH

Nekat, Walau Sering Karam

SABAN hari murid-murid SDN Tugan, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil nekat mengarungi derasnya sungai Cinendang. Perjuangan tak berakhir, walau telah membelah sungai sekitar 120 meter.

Idrus-Singkil

Usai menambatkan sampan di tepi sungai, anak-anak harus memeras keringat menapaki tebing terjal. Tak jarang, beberapa diantara mereka terpeleset.
Kondisi itu harus dijalani saat pergi dan pulang sekolah, terpaksa dilakoni akibat tidak ada jembatan penyeberangan di Desa Serasah.

 

Razi Azwardi (11), siswa SDN Tugan mengaku sudah terbiasa mengayuh sendiri sampan. “Kami bertiga, kadang berlima naik sampan. Siapa yang datang telat kami tinggalkan,” sebutnya.

 

Bocah polos itu menyebutkan, mereka terpaksa meninggalkan teman yang telat agar tidak terlambat sampai ke sekolah. Dirinya mengaku sebetulnya takut, tapi apa hendak dikata hanya menyebrangi sungai Cinendang akses satu-satunya menuju sekolah.
Ia mengaku, sampan yang mereka tumpangi pernah karam. Segala peralatan sekolah basah. Untungnya, nyawa para anak-anak selamat.

 

“Sampan kami pernah tenggelam. Alat sekolah kami habis basah. Sepatu saya tenggelam ke dasar sungai, Alhamdulillah kami tidak apa-apa kami di tolong abang saya,” katanya.

 

Razi menceritakan, saat bepergian biasanya cuaca bersahabat. Namun kondisi tak bersahabat sering terjadi saat pulang sekolah. “Sering hujan tiba-tiba airnya jadi deras, tapi kami paksa pulang karena sudah lapar,” sebutnya.

 

Siswa kelas 5 SDN Tugan itu berharap, di desanya dibangunkan jembatan penghubung dengan Desa Cibubukan, Kecamatan Simpang Kanan, “Pak Bupati, tolong bangunkan jembatan kami,” katanya pada awak media.

 

Para orang tua mengaku cemas, namun karena tidak ada pilihan lain mereka harus pasrah dengan keadaan. “Sering terjadi musibah, perahu mereka tenggelam, untung masih ada warga yang melihat dan bisa diselamatkan, bahkan belum lama tamu yang datang ke desa ini juga tenggelam semua barang hanyut, Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” cerita Meriah (45), seorang wali murid.

 

“Mungkin salah satu solusinya dengan cara membangun jembatan gantung, sehingga anak-anak yang akan bersekolah tidak lagi menggunakan sampan,” katanya.
Ia juga berharap di desanya ada jembatan, sehingga anak-anak mudah ke sekolah. Selain itu, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi warga.

 

Sementara itu, Hasan Basri Seketaris Desa (Sekdes) Serasah, menyebutkan tahun 2007 jembatan gantung terbangun dan talinya sudah hampir rampung, tinggal 20 meter sampai ke Serasah. Namun banjir menerjang hingga jembatan hanyut.

 

“Bangkainya sepertinya masih ada di dasar sungai itu,” jelasnya. (mag-74/mai)