Ghouta (Juga Wilayah Lainnya) Terang Menderita

Presiden ACT Ahyudin (kiri) dan Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur
Apapun ideologinya, apapun akidahnya, “menghabisi” nyawa bukan jalan kemanusiaan.

HARIANRAKYATACEH.COM, Oleh: Syuhelmaidi Syukur *)

Publik Indonesia masih mudah diharu-biru dengan kabar jatuhnya korban masif dalam sebuah krisis kemanusiaan. Perlu waktu untuk membangun kesadaran, bahwa ada kebutuhan jangka panjang dalam mengantisipasi krisis kemanusiaan, langkah reguler yang berkesinambungan. Bahwa krisis kemanusiaan itu tidak bisa direspons sebatas fase emergensi. Alhamdulillah, kian waktu, kefahaman itu bersemi di khalayak filantropi Indonesia. Setidaknya, respons hebat tidak hanya datang saat kabar seperti serangan bom atau gempuran roket, tapi juga pada situasi yang memerlukan dukungan berkelanjutan.

Dapur Umum, misalnya, fenomena kepedulian yang akrab di pengungsian. Karena bencana alam di Indonesia, dapur umum biasa hadir melayani pengungsi maupun pegiat kemanusiaan. ACT menghadirkan dapur umum di negara lain sebagai hal yang biasa. Bedanya, seperti sejumlah kawasan di negara lain, bencananya bukan alam, tetapi “sosial” (terutama kekerasan bersenjata). Amat berisiko bagi pegiat kemanusiaan, bekerja di area yang sangat dekat dengan area konflik bersenjata.

Dari Palestina, sudah sekian lama, publik mendukung program Dapur Umum Indonesia. Untuk situasi yang tidak harus”berdarah-darah”. Nalar publik bisa memahami situasi kritis tanpa dipicu angka korban masif. Beberapa waktu sebelumnya, kami terima kabar sejumlah Rumah Sakit di Jalur Gaza terpaksa berhenti beroperasi lantaran tak punya stok pangan untuk pasien. Banyak pasien dipindahkan ke rumah-rumah sakit yang masih mampu melayani meski serba terbatas.

Disanalah  program Dapur Umum diwujudkan. Donasi rakyat Indonesia telah ditunaikan untuk melayani pangan lewat dapur umum di delapan rumah sakit di Jalur Gaza. Dapur Umum itu memulihkan rumah-rumah sakit itu sejak tanggal 16 Maret 2018. Program Kapal Kemanusiaan untuk Palestina, membawa beras Indonesia, menghidupkan layanan medis di Jalur Gaza.

Seberapapun, bantuan ini amat mereka syukuri. Getar doa mereka terasa di sini, di negeri ini, getar yang hanya dirasakan dengan keimanan. Ini tabungan amal untuk bekal sesudah kehidupan ini. Awal layanan pada Jumat 16 Maret lalu, “Dapur Umum Indonesia” melayani delapan rumah sakit di Jalur Gaza: Al  Shifa Hospital, Indonesian Hospital, Naser Pediatric Hospital, Al Rantessi Specialized Pediatric Hospital, Oncology Hospital, Beit Hanoun Hospital, Al Dorra Pediatric Hospital, dan Ophthalmic Specialized Hospital. Total pasien penerima manfaat Dapur Umum Indonesia di area rumah sakit, ada 1.743 orang, melibatkan 39 orang relawan setempat.

photo

Indonesia untuk Ghouta

Kabar lainnya, tak kalah membahagiakan. Kendati beberapa hari Tim SOS Syiria XIV (gelombang pertama SOS Syria XIV, bertolak via Turki Jumat, 23 Februari lalu), sempat galau lantaran belum mendapat dokumentasi yang representatif lantaran hanya menitipkan melalui lembaga kemanusiaan yang dikelola warga Suriah, hari itu kami bahagia. Kami memperoleh komitmen mitra, ACT akan memperoleh video report implementasi. Kondisi sulitnya dokumentasi sudah memperoleh permakluman manajemen.

Prioritasnya, warga Ghouta bisa segera memperoleh bantuan makanan. Dokumentasi bisa diabaikan jika untuk itu terlalu sulit.  Tapi Tim Lapangan  merasa lebih mantap- sebagaimana standar pelaporan implementasi – kalau bisa menyampaikan dokumentasi yang memadai. Ini sudah seperti  sebuah “keniscayaan”. Adanya, meneguhkan trust.

Bergetar batin kami, saat mitra menyatakan sanggup mendokumentasikan implementasi itu langsung dari lapangan, yakni dari bunker-bunker perlindungan. Warga Ghouta harus hidup berlindung di bawah tanah. Tanpa listrik, minim pakaian hangat, tanpa peluang bekerja untuk sekadar memperoleh penyangga kebutuhan yang sangat dasar. Dan bom-bom masih sering dijatuhkan, tanpa mereka tahu akan jatuh di sebelah mana. Mereka betul-betul cuma rakyat sipil, dan butuh asupan pangan untuk bertahan hidup.

Report itu menampakkan wajah layu para penerima bantuan, namun binar syukurnya terasa di sanubari. Video dari lapangan itu, menunjukkan bunker itu benar. Anak-anak dan perempuan bertahan di Ghouta Timur, juga bukan isapan jempol. Bunker, cara bertahan dari bom-bom yang terus dijatuhkan ke Ghouta.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama dengan mitra lokal terus bergerak setiap hari tanpa henti untuk memastikan dapur umum di Ghouta Timur selalu siap memasok makanan. Lewat sambungan telepon dengan Tim SOS Suriah ACT ke XIV yang berada di sepanjang perbatasan, mitra lokal ACT mengabarkan, dapur umum dijalankan di bawah tanah, memasok makanan siap saji.

Menu yang disiapkan, makanan hangat khas Ghouta, seperti sup lentil, nasi biryani dan roti khobz. Relawan kami mengatakan, mengolah bahan makanan menjadi makanan siap saji di Ghouta Timur adalah perjuangan hidup dan mati. Dari urusan membeli bahan pangan, sampai mendistribusikan bahan pangan hingga ke dalam Ghouta, dilakukan dengan bersembunyi, mengendap, bahkan menggunakan terowongan bawah tanah. Mereka hanya bisa bergerak ketika suara dentuman bom di atas tanah tak lagi terdengar.

Pengungsian di bawah tanah, kata mereka, mulai dilakukan warga Ghouta sejak 18 Februari 2018. Hari demi hari selama beberapa pekan terakhir, menjadi horor paling nyata bagi warga Ghouta Timur. Serangan rudal udara terjadi ke semua arah. Tak peduli dengan nasib ratusan ribu sipil yang terjebak di dalam Ghouta Timur.

Saat ini, sejak bantuan pangan didistribusikan dari Dapur Umum Indonesia di Ghouta, tak kurang 10 ribu paket bantuan pangan telah diterima warga Ghouta. Sasaran distribusi menjangkau Saqba, Hamoryah, Irbin, Jesreen, Harasta, sampai Kafr Batna di Ghouta. Itu untuk bantuan makanan siap santap dari Dapur Umum. Sedangkan total kawasan implementasi bantuan SOS Syria XIV – ACT, mencakup wilayah Saqba, Hamoryah, Kafer Batna, Hazah, Zamalka, A’aain Tarma, Mdyra, Bait Sawa, Mesraba, Doma.

Tim Lapangan melaporkan, selama mereka di lapangan, situasi mencekam. Relawan maupun yang dibantu, setiap saat diintai bahaya. Kebijakan “Humanitarian Pause” atau gencatan senjata lima jam setiap harinya yang ditetapkan oleh rezim dan sekutunya sama sekali tak menjamin keselamatan para pekerja sosial dan warga sipil. Relawan lokal mengatakan, selalu ada check point yang memakan waktu dan tidak ada jaminan gencatan senjata itu dipatuhi.

Selama proses distribusi, dari perbatasan Turki – Suriah, mereka melaporkan, masih bisa mendengar suara-suara maut itu. Bom-bom masih terdengar, mengirim bayangan kengerian di Ghouta Timur. Betapa berarti bantuan pangan untuk Ghouta. ACT memang telah mengirim bantuan pangan, namun belum memadai. Ghouta bukan laksana bencana alam, yang ada masa jeda menuju pemulihan. Tidak. Warga Ghouta sama sekali tak sempat mengikhtiarkan penghidupan. Bantuan kita yang hidupnya aman-tentram, sangat bermakna. Seperti juga membantu para penjaga Al-Aqsha, atau warga Palestina. Begitulah Ghouta.

photo

Indonesia untuk Ghouta

Krisis Ghouta Timur, nyata. Membantah itu tanpa ikut andil penyelamatan jiwa manusia di sana, keterlaluan. Kami merasa janggal, untuk krisis Ghouta, ACT menghadapi gugatan yang sangat tidak pada tempatnya. Gugatan yang dihadirkan elemen Indonesia, atas kerja kemanusiaan sesama bangsanya. ACT hadir 13 tahun lalu, diaudit dan menyampaikan report reguler.

Gugatan itu pun hanya terkait kerja kemanusiaan untuk pengungsi Suriah, sekaligus menyoal kerja hebat lembaga kemanusiaan global berbasis di Turki, IHH. Situasi ini membuat IHH dan ACT “senasib”, saat letih berkarya kemanusiaan untuk pengungsi Suriah, disoal dengan nada yang sama. Akal sehat kami berpikir: mereka tak suka dengan kerja kemanusiaan untuk rakyat Suriah. Lalu apa yang mereka inginkan?

Mengapa hanya Ghouta (krisis Suriah) yang digugat? Padahal ACT hadir untuk berbagai kawasan krisis. Publikasi negatif telah merugikan nama baik ACT dan barisan pendukung kerja kemanusiaan ini. Kami perlu menyampaikan informasi pembanding, saat beberapa orang baik ikut bertanya. Kami coba sampaikan apa yang kami kerjakan. Sumber utama ACT bukan kantor berita asing manapun. Bahan utama narasi ACT, para relawan, mitra dan tim SOS Syiria – ACT sendiri. ACT bisa beraksi sampai pengiriman tim ke XIV ini, karena rakyat Indonesia mendukung, rupiah demi rupiah, doa demi doa, segenggam demi segenggam beras.

Bahkan mulai ada donor ACT minta hadir dan bersua dengan para pengungsi, termasuk pengungsi Suriah. Sebagian kesaksian mereka itulah, kekuatan pembangun  trust; para “Hamba Allah” dari berbagai tempat di Indonesia. Tak hanya itu. Di perbatasan Turki-Suriah, tak sedikit jiwa yang rela menjadi relawan, memilih menyampaikan bantuan ketimbang menjauh dari Ghouta.

ACT lembaga yang diaudit akuntan publik, jelas programnya, bisa ditelusur di mana kantornya. Jauh lebih mudah menelisik apa yang kami kerjakan, ketimbang melakoninya. Pengiriman beras saja, melibatkan belasan direktorat jenderal di Indonesia untuk menuntaskan perizinan. Rupanya, demikian sulit aturan membantu bangsa lain. Ditambah, komentar minor pihak-pihak tertentu.

Ghouta belakangan ini memang istimewa.  Kami tersengat, saat tahu mereka dalam krisis luar biasa. Seiring upaya pihak-pihak tertentu mengusik pikiran publik, seolah Ghouta dibesar-besarkan. Pun, kami menangkap upaya adu-domba sesama lembaga kemanusiaan yang mengurus Ghouta, Suriah.

ACT justru intens menghimpun kebersamaan seluas-luasnya, dari Sabang sampai Merauke, memuliakan Indonesia bangsa humanis anti-penjajahan, anti-kekrasan. Bukan gagah-berani bergerak sendirian. Berjamaah, berlipat pahalanya, berlipat energinya, ketimbang egois bergerak sendiri. Banyak sekolah, masjid, komunitas-komunitas, lembaga sosial lokal, juga nasional, membersamai gerakan membantu Suriah dan kerja kemanusiaan lainnya.

Lebih tiga pekan sudah ACT membersamai pengungsi Suriah. Merespons tingginya intensitas konflik yang kembali meradang di Suriah. Baik warga sipil yang masih terjebak di Ghouta Timur maupun pengungsi Suriah di sepanjang perbatasan Turki dan Suriah disambangi, tak hanya puluhan ribu paket pangan siap santap disertai kebutuhan pokok lainnya menyapa mereka, masuk ke bilik kamp pengungsian, flat, maupun bungker bawah tanah.

Tidak sulit untuk memahami, ACT yang dibangun dan dikelola dengan taat azas, berhubungan dengan berbagai jalur diplomasi Indonesia di mancanegara, untuk dianggap membantu “pemberontak”. Spesialnya, urusan kemanusiaan di Ghouta Timur ini tiba-tiba menjadi “seksi”. Sungguh kacau kalau orang mau menyelamatkan diri, entah dengan lari meninggalkan negerinya atau bertahan di bunker-bunker di kampung halamannya, “pukul rata” disebut membantu pemberontak.  Kami bersyukur, mitra kemanusiaan untuk Ghouta, bersedia menambah kerepotan mereka menyiapkan dan mendistribusikan bantuan, dengan membuat video implementasi.

Ghouta, nyata masih dihuni anak-anak dan perempuan. Merekakah, pemberontak itu? Mereka hanya manusia-manusia malang yang menghindari jemputan maut karena ketiadaan pangan, listrik dan pakaian hangat. Mereka mencari selamat dari jatuhan bom di Ghouta Timur sehingga bertahan di bunker-bunker. Bergiat di titik ini sudah berat, kalau pihak-pihak yang membantu proses kedamaian hadir di Suriah saja tidak, jangan tambah dengan menyirnakan harapan warga Ghouta untuk bisa makan dan mengenakan pakaian hangat, malah melabeli penerima manfaat bantuan ini sebagai “pemberontak”.

Mungkin mereka yang menebar keraguan akan kondisi Ghouta, tak takut hukum, tapi takutlah pada doa-doa orang-orang teraniaya. Tujuh tahun, Ghouta – seperti Aleppo, kawasan sipil penuh manusia, rakyat Suriah yang pernah hidup normal. Berempatilah pada situasi ini, jika tak bisa benar-benar mengulurkan bantuan. Kami hadir dan menyapa mereka, bertatapmuka dengan wajah-wajah kuyu itu. Sesaat selama beraktivitas, kami rasakan keletihan mereka, meski kami masih bisa pulang, memiliki rumah damai keluarga aman, di Indonesia. Tapi mereka tidak!

Kami inisiasi Indonesia Humanitarian Center (IHC). Ini program jangka panjang ACT. Karena itu, kami tak ragu menyebut angka donasi yang masuk. Mungkin untuk orang lain, angka itu besar, justru itu pernyataan bahwa capaian masih jauh dari kebutuhan konkret untuk membangun penyangga kehidupan bagi jiwa-jiwa manusia yang tengah mencari perlindungan. Terutama di wilayah perbatasan Turki-Suriah.

IHC menjadi pusat layanan bantuan pangan dan logistik bagi para pengungsi Suriah ini, resmi beroperasi pada Jumat (16/3). Pertama kali diaktivasi, ada lima truk yang membawa sekitar 75 ton bantuan logistik memasuki gudang IHC di Reyhanli, Turki. Tekad ACT hadir di berbagai negeri terpapar krisis, tak ingin berbuat alakadarnya.

Ghouta yang menjadi tema aksi dua bulan ini, terang menderita sehingga memperoleh perhatian serius. Kami mampu bergerak, karena memperoleh dukungan umat, rakyat Indonesia, para ulama pun membangunkan umat dan rakyat Indonesia. Sebagaimana ACT didukung untuk merespon krisis kemanusiaan Asmat, Papua.

Kami tak hanya merespons warga Ghouta (di mana pemerintah Suriah hadir di sana), juga Rohingya (di mana pemerintah Myanmar pun ada di Sittwee, Rakhine State), juga ACT hadir di Mogadishu, Somalia, di Yaman, dan berbagai kawasan, selain tentu saja menyapa penyandang gizi buruk di Asmat, Papua, banjir di Pacitan, dan berbagai krisis kemanusiaan di dalam negeri. Setengah jutaan relawan, seperlimanya yang teregistrasi, menopang aktivitas di dalam negeri.

Untuk Rohingya, bahkan ACT menginisiasi Komite Nasional Solidaritas Rohingya dengan dukungan berbagai institusi kemanusiaan, bergaul dengan banyak lembaga sejenisnya di tingkat global. ACT pun intens mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas di luar negeri dengan Kementerian Luar Negeri. Termasuk saat menginisiasi program Kapal Kemanusiaan (Indonesia), merespon kelaparan di Somalia, gelombang eksodus Rohingya yang diusir dari Myanmar (terbesar mengungsi di Bangladesh ke mana beras kami kirimkan), juga ke Palestina dan kini tengah disiapkan Kapal Kemanusiaan Suriah.

Krisis Ghouta (dan umumnya Suriah), belum usai, dan insya Allah, berkat dukungan rakyat Indonesia, kami berikhtiar mengurangi derita mereka yang mengungsi, nantikan laporan-laporan langsung dari lapangan, agar luluh hati dunia untuk sepakat menghentikan laju penghilangan nyawa: di Suriah, Myanmar, Yaman, Palestina, juga Somalia dan sejumlah kawasan di Afrika, yang kematiannya akibat ulah tangan manusia. Apapun ideologinya, apapun akidahnya, “menghabisi” nyawa bukan jalan kemanusiaan.

*) Senior Vice President ACT