Empat Penambang Ilegal Ditangkap

DIBEKUK: Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh menangkap empat tersangka penambang ilegal dari dua kabupaten, saat gelar perkara di Mapolda Aceh, Rabu (21/3). FOR RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh, menangkap empat tersangka penambangan ilegal. Dua diantaranya terlibat dalam tambang emas di Aceh Barat. Pemilik tambang berinisial KF (20), serta HI (38) pengawas ditangkap polisi di tempat kegiatan tambang dalam kawasan hutan Krueng Pelagahan, Gampong Sikundo, Kecamatan Pate Cermin, Aceh Barat.

Selain itu, polisi juga menangkap BH (38) dan S (35) warga Pondok Balik, Bener Meriah atas kasus galian c ilegal. Kedua pemilik tambang ditangkap di lokasi penambangan Desa Tingkem Asli, Kecamatan Bukit.

Para tersangka ditangkap polisi Februari lalu, bersamanya turut diamankan tiga alat berat excavator di Aceh Barat dan dua unit alat berat di Bener Meriah.

Tak hanya itu, polisi juga amankan satu unit alat berat di lokasi milik oknum TNI, kasus tersebut sudah dilimpahkan ke Polisi Militer Kodam Iskandar Muda.

Polisi juga menyita emas seberat 100,5 gram dan menetapkan DPO diantaranya BR (pemilik alat berat), ZR (pemilik beko), SM (pengawas lapangan) dan RS (pemilik alat berat).

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Pol Erwin Zadma mengatakan, empat tersangka tersebut ditangkap di dua tempat terpisah.

“Para tersangka yakni BH dan S, ditangkap terkait galian C ilegal di Kabupaten Bener Meriah. Tersangka KF dan H, ditangkap di Kabupaten Aceh Barat, terkait tambang emas ilegal,” ungkap Kombes Pol Erwin Zadma, Rabu (21/3).

Menurutnya, penangkapan berawal dari informasi warga terkait maraknya tambang ilegal. Hasil penyelidikan tambang tersebut telah menyebabkan kerusukan lingkungan sekitar.
“Tersangka BH dan S merupakan pemilik dua alat berat. Galian C tanpa izin yang mereka operasikan sudah terbilang tahunan,” kata Kombes Pol Erwin Zadma.

Sedangkan dua tersangka lainnya, yakni KF dan H, ditangkap di kawasan hutan produksi yang menjadi tambang emas tanpa izin di Gampong Sikunto, Kecamatan Pantecermin, Aceh Barat. Bersama kedua tersangka, polisi turut memeriksa 14 pekerja tambang.

“Kami juga mengejar keberadaan ZR, pemilik alat berat. ZR diduga pemodal tambang emas ilegal tersebut,” ungkap Kombes Pol Erwin Zadma.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh menegaskan, para tersangka dijerat melanggar Pasal 158 juncto Pasal 37 UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara.

Para tersangka juga dijerat melanggar Pasal 89 Ayat (1) huruf a juncto Pasal 17 Ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan.

Ancaman untuk UU Nomor 4 Tahun 2009, penjara paling lama 10 dan denda paling banyak Rp10 miliar. Sedangkan UU Nomor 18 Tahun 2013, ancaman hukumannya penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun serta denda Rp1,5 miliar hingga Rp10 miliar.
“Para tersangka dan barang bukti diamankan di Mapolda Aceh guna pengusutan lebih lanjut. Kami juga terus memburu ZR, pemilik alat berat yang melarikan diri tersebut,” tegasnya. (ibi/mai)