Salman Pro-Palestina Anaknya Diisukan Bela Israel

Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Mohammed bin Salman Al Saud/Net

Harianrakyataceh.com – Putra mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman Al Saud diisukan membela Israel lantaran menyebut, warga Negeri Zionis itu berhak hidup damai di tanah milik mereka sendiri. Tetapi sang ayah, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud menegaskan sikapnya yang pro Palestina.

Pangeran Mohammed menyatakan itu di Amerika Serikat. Dia berada di Negeri Paman Sam untuk memperluas kerja sama. Setelah disambut Presiden Donald Trump di Gedung Putih, Mohammed menyempatkan diri bertemu dengan bos-bos perusahaan AS, termasuk perusahaan Amazon, Microsoft, Boeing dan lain-lain.

Mohammed mengeluarkan jawaban mengejutkan saat dia ditanya Pemimpin Redaksi The Atlantic Jeffrey Goldberg, apakah orang Yahudi memiliki hak memiliki sebagian dari tanah leluhur mereka. “Saya yakin setiap orang, di mana saja, memiliki hak untuk hidup di negara mereka dengan damai. Saya yakin orang Palestina dan Israel memiliki hak memiliki tanah mereka sendiri,” jawabnya.

Tetapi dia mengingatkan, harus ada kesepakatan damai untuk memastikan stabilitas bagi kedua negara. Mohammed juga menyebut, negaranya tidak memiliki sentimen anti-Yahudi.

“Negara kami tidak punya masalah dengan Yahudi. Nabi kami, Muhammad, menikahi wanita Yahudi. Tidak hanya berteman, dia menikahinya. Nabi kami, tetangganya orang Yahudi,” tuturnya. “Akan menemukan banyak Yahudi di Arab Saudi datang dari Amerika, dari Eropa. Tidak ada masalah antara Kristen, Muslim, dan Yahudi,” katanya.

Sejak 2002, Saudi telah menjadi sponsor utama dalam Inisatif Perdamaian Arab yang memimpikan solusi dua negara untuk menangani konflik Israel-Palestina. “Kami juga memiliki isu religi tentang nasib masjid suci di Yerusalem dan hak-hak rakyat Palestina,” ujarnya.

Mohammed juga berseloroh, jika damai tercipta maka Saudi bisa membuka hubungan dengan Israel. Dia memuji Israel yang perekonomiannya maju dan menyatakan kepentingan Saudi sama dengan Negeri Bintang Daud itu.

“Israel memiliki perekonomian yang besar dibanding dengan ukurannya. Tentu saja banyak kepentingan yang sama antara kami dan Israel. Banyak kepentingan yang bisa kami bagi dengan Israel dan jika ada perdamaian, akan banyak kepentingan bersama antara Israel dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk dan negara-negara seperti Mesir dan Yordania,” bebernya.

Seperti kebanyakan negara Muslim lainnya, Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Pemerintah Riyadh memegang teguh prinsip Solusi Dua Negara untuk menghentikan konflik Israel-Palestina. Di bawah solusi ini, Israel dan Palestina hidup berdampingan sebagai dua negara dengan wilayah berdasarkan garis demarkasi 1967 sebelum Perang Enam Hari. Selama solusi damai ini belum tercipta, hubungan diplomatik tidak bisa dijalin.

Walau Saudi dan Israel tidak memiliki relasi diplomatik resmi, di belakang layar, hubungan keduanya terlihat mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Hubungan Saudi dengan Israel mulai mencair ketika seorang jenderal Saudi mengunjungi Yerusalem pada 2016 dan bertemu dengan anggota parlemen Israel. Bulan lalu, Saudi juga mengizinkan Air India terbang ke Tel Aviv melintasi ruang udaranya.

Tapi Saudi menepis dukungan terhadap Israel. Raja Salman langsung menegaskan negaranya terus mendukung pendirian negara Palestina. Pernyataan itu dikeluarkan Raja tak lama berselang setelah wawancara Pangeran Mohammed dipublikasikan di majalah The Atlantic Jeffrey Goldberg, Senin kemarin. Menurut kantor berita Saudi, SPA yang dikutip Reuters, pernyataan ini disampaikan Salman dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Donald Trump Senin 2 April malam lalu.

“Raja Salman menegaskan posisi teguh kerajaan terhadap isu Palestina dan hak-hak yang sah dari rakyat Palestina mendirikan negara yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya,” tulis SPA.

Namun laporan itu tak menyinggung soal pernyataan Mohammed di The Atlantic. ***