Aceh, Ganja, dan Upaya Mengubah Pola Pikir Masyarakat

Upaya pemberantasan ganja tidak pandang bulu (Desyinta Nuraini / JawaPos.com)

Harianrakyataceh.com РSiapa yang tak kenal Cannabis sativa atau ganja? Tanaman pengandung zat tetrahidrokanabinol yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia itu ternyata masih dibudidaya masyarakat Aceh.

Nangroe Aceh Darussalam, di provinsi paling ujung barat Indonesia itu tanaman ganja masih beredar bebas. Setidaknya ada tiga wilayah yang menjadi produsen terbesar.

Yakni, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Besar. Ladang ganja paling luas dapat ditemui di Aceh Utara. Luasnya mencapai 35 hektar. “Di daerah Sawang, kita masuk wilayah Aceh Utara. Luasannya bisa sampai 35 hektar,” kata Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan saat berbincang dengan JawaPos.com beberapa waktu lalu di Aceh.

Wakapolda Aceh Brigjen Pol Supriyanto Tarah berupaya melakukan pencegahan terhadap peredaran narkoba terutama ganja. Mereka menggelar operasi di darat, laut, hingga melakukan operasi di pegunungan.

Wakapolda Aceh Brigjen Pol Supriyanto Tarah berupaya melakukan pencegahan terhadap peredaran narkoba terutama ganja. Mereka menggelar operasi di darat, laut, hingga melakukan operasi di pegunungan. (Desyinta Nuraini / JawaPos.com)

Lokasi penanaman ganja bervariasi. Ada yang hanya satu kilo jaraknya dari jalan raya dan dapat diakses dengan mudah menggunakan kendaraan roda empat, ada pula yang di pedalaman bukit dan harus berjalan kaki untuk mencapainya.

Sementara itu, tanaman ganja tidak butuh perwatan berbelit. Bahkan kini, budidaya ganja telah didukung peralatan modern. Misalnya sprinkler. Alat yang berfungsi untukmelakukan proses penyiraman secara otomatis.

Konon katanya, ada pihak penyandang dana budidaya tanaman yang tingginya dapat mencapai dua meter itu. “Kalau sekarang mereka (biji ganja) bukan lagi ditebar. Sudah disemai, ada alatnya juga buat menyiram. Mereka sudah ada yang biayai,” terang Ari.

Lumrah saja ada yang membiayai untuk membesarkan tanaman ganja tersebut. Pasalnya jika dijual ke luar Aceh, harganya berkali lipat. Harga jual ganja di Aceh, seperempat garis atau 7,5 cm tanaman ganja kering hanya dihargai Rp 10 ribu. Sedangkan, jika dijual ke Jakarta harganya bisa mencapai Rp 100 ribu per garis atau 30 cm.

Budidaya ganja adalah ¬†bisnis yang menjanjikan keuntungan berlipat. Bukan warga Aceh kata Ari, pembiaya tersebut dicurigai dari pebisnis di luar bumi serambi Mekkah. “Dari informasi yang saya dapatkan ada yang biayai dari luar provinsi atau luar Aceh. Biayai untuk menanam, memanen,” terangnya. Menurutnya, kemungkinan sang donatur itu berasal dari Jakarta. Mereka adalah sindikat penjual ganja kering. Kadang ganja itu ditukar dengan sabu.

Menanggapi fenomena tersebut, Polres Lhokseumawe khususnya, akan menelusuri. “Kemungkinan sindikat. Informasi yang kita dapat dari Jakarta. Kadang-kadang mereka barter juga sama sabu,” kata Ari.

Sebenarnya Polres Lhokseumaee sudah mengantungi sejumlah nama. Namun belum bisa disampaikan kepada publik demi keberhasilan membongkar sindikat tersebut. “Kami masih mengunggu si penanam ini mengunjungi lahan tersebut baru kita tangkap karena kita harus dapatkan tersangka,” tegas pria asal Palembang itu.

Di sisi lain, Wakapolda Aceh Brigjen Pol Supriyanto Tarah, Sabtu kemarin (7/4), mengatakan, pihaknya sudah berupaya melakukan pencegahan terhadap peredaran narkoba terutama ganja. Mereka menggelar operasi di darat, laut, hingga melakukan operasi di daerah pegunungan. Tapi, ada saja celah untuk para pengedar melakukan kegiatannya.

Yamto mengatakan, Polda Aceh menindak tegas para pelaku, pengedar, hingga pengguna. Tanpa pandang bulu atau melihat statusnya, bahkan anggota Kepolisian sekalipun. “Kebijakan Kapolda pun bila ada anggota yang terlibat narkoba pasti bisa di PTDH (pemberhentian tidak dengan hormat) dia, dan itu sudah dituangkan dalam pakta integritas kita kepada anggota,” bebernya.

Di samping melakukan tindakan represif, kepolisian Aceh juga melakukan tindakan preventif. Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, mereka mengimbau atau memberi bibit tanaman lain untuk memggantikan tanaman ganja.

“Di Lamteuba (di Aceh Besar) ada suatu tempat tadinya ladang ganja sekarang kita jadiin kebun bunga terus ada jg rencana dari Pak Buwas (mantan Ketua BNN Budi Waso) dulu di Gayo Luwes akan dibuat begitu juga,” tuturnya.

Ya, dalam hal ini ada upaya untuk mengubah pola pikir masyarakat. “Iya mengubah mindset masyarakat bahwa ganja itu bisa kita berantas melalui pemberdayaan masyarakat,” pungkas Yanto.

Semoga berhasil.

(dna/JPC)