Konferensi PNA Abdya Ricuh

RICUH: Pengurus lama partai DPW PNA Abdya mengobrak-abrik dan menggertak sejumlah pengurus baru di lokasi Konferensi I DPW PNA Abdya di Arena Motel, Kamis (19/4) RAHMAD/RAKYAT ACEH

BLANGPIDIE (RA) – Konferensi ke 1 DPW Partai Nanggroe Aceh (PNA) Aceh Barat Daya (Abdya) di Arena Motel, Kota Blangpidie berlangsung ricuh, sekitar pukul 09.45 WIB, Kamis (19/4).

Peristiwa terjadi sebelum konferensi partai bentukan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf itu dimulai. Mendadak puluhan pria yang mengklaim pengurus lama DPW-PNA Abdya dan Satgas PNA datang ke lokasi.

Massa itu, masuk ke ruangan mengobrak-abrik serta menendang kursi. Mereka juga mencari Sekjen DPP-PNA Aceh, Miswar Fuady.

“Di mana Miswar, minta dia keluar kemari,” teriak seorang pria.
Namun amuk massa berhasil diredam pihak keamanan, anggota dan Ketua Satgas PNA, Mustiari alias Mus Seudong. Menurut Mustiari, pengurus lama mempertanyakan alasan Teuku Indra (anggota DPRK dari PNA periode 2014-2019), tidak dimasukkan namanya dalam daftar pengurus.

“Tengku Indra tidak masuk dalam pengurus DPW PNA Abdya, ini aneh. Inilah menjadi penyebabnya, sehingga rekan-rekan melarang membuat konferensi ke-1 ini sebelum diluruskan,” katanya.

Mustiari menuding, Sekjen Miswar Fuady telah membuat PNA Abdya menjadi dua kubu.
“Jika Miswar menghargai Ketua DPW yang pertama, ini tidak ada persoalan dan tidak terjadi seperti ini. Jika ini dibiarkan berlarut-larut dikuatirkan akan ricuh berkepanjangan,” katanya.

Ia berharap dengan kericuhan ini, struktur pengurus PNA Abdya dirombak dan pengurus baru dipanggil ke DPP.

“Pengurus sekarang dinilai ada kepentingan pribadi, sementara pengurus lama ditinggalkan tanpa ada surat pemecatan,” katanya.

Sebagai Ketua Satgas PNA Abdya yang lama, Mustiari mengaku belum terima surat pemberhentian. “Saya belum dipecat dari ketua Satgas, tapi sudah ada Ketua Satgas baru. Sebab itu, pengurus lama dan pengurus sekarang harus duduk untuk bermusyawarah secara internal,” tegasnya.

Sekjen DPP PNA Aceh, Miswar Fuady juga menyebutkan kericuhan dipicu nama pengurus lama tidak ada lagi dalam struktur baru. Alasannya struktur lama telah digugurkan.

Ia menjelaskan konferensi ke-1 ini dilakukan atas perintah dari DPP. SK pengurus lama telah tercabut setelah dikeluarkan SK pengurus baru.

Menurut Miswar, pengurus lama bukan tidak aktif, tapi menentang kebijakan dari PNA. “Kalau dikatakan masih ada SK lama, saya rasa ini lucu juga,” sebutnya.

Setelah kericuhan reda, konferensi dilanjutkan dengan pengawalan ketat polisi dan Satpol PP. Bupati Abdya, Akmal Ibrahim membuka kegiatan tersebut.

Turut hadir Wakil Bupati Muslizar MT, sejumlah anggota DPRK setempat dan pengurus PNA kabupaten hingga kecamatan. (mag-80/mai)