Polisi Gelar Pemberatasan Miras 6 Orang Ditangkap, 2 Drum Tuak Diamankan

DIGEREBEK: Kasat Narkoba Iptu Yasir Arapat,SH, menggerebek minuman haram, tuak di Dusun Enang-Enang Kampung Alur Cincin Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, senin (16/4). MASHURI | RAKYAT ACEH

KUTACANE (RA) – Polisi Aceh Tenggara mengamankan enam warga, termasuk pemilik warung dalam operasi pemberantasan minuman keras (miras) diwilayah hukumnya.

Kapolres Aceh Tenggara, AKBP Gugun Hardi Gunawan, melalui Kasat Reskrim, Iptu Kabri, mengatakan para pelaku baik penjual maupun peminum diamankan disejumlah tempat berbeda dalam wilayah hukum Polres Aceh Tenggara.

“Pelaku kita amankan dibeberapa tempat, ada yang di Desa Lawe Bekung, Kecamatan Badar, serta di Kecamatan Lawe Alas,” kata Iptu Kabri, Kamis (19/4).

Dijelaskan, para pelaku beragama Islam dijerat dengan Qanun No 6 tahun 2014, pasal 15 ayat 11, 12 tentang khamar, bagi agama non muslim akan dijerat pasal 204 KUHP. “Penjual kita amankan non muslim dan dijerat pasal KUHP dan sementara yang beraga muslim akan mengacu pada qanun tentang khamar,” jelasnya.

Selain tersangka, operasi pemberantasan minuman keras gencar dilakukan unit Tim Cobra Polres Aceh Tenggara, kesatuan Reskrim juga mengamankan barang bukti berupa dua drum tuak siap edar, gelas digunakan pelaku serta delapan unit cerek berisi tuak siap saji.

“Operasi ini akan terus kita gencarkan, sehingga terwujdudnya situasi Kamtibmas yang baik di wilayah hukum Polres Aceh Tenggara,” katanya lagi.

Sebelumnya, maraknya pelaku usaha warung tuak di Aceh Tenggara, membuat polisi didaerah ini gencar melakukan sosialisasi penutupan warung tuak di wilayah hukumnya.

Sebelumnya Kapolsek Babussalam, Iptu Sabrianda, sudah melakukan sosialisasi langsung ke warung penjual tuak, untuk memberitahukan usaha tersebut harus ditutup dalam waktu yang telah ditentukan.

“Terhitung mulai tanggal 12 April 2018 pukul 08.00 WIB, tidak ada lagi penjualan tuak dan minuman keras lainnya di warung yang didatangi saat sosialisasi,” kata Iptu Kabrianda.
Setelah pemberitahuan ini tidak ditaati, maka penjual dan pembeli akan di proses sesuai dengan qanun Aceh no. 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. (val/bai)