Fatahillah Menangis Takut Tak Bisa Ujian

 

Korban Luka Bakar Ledakan Tambang Minyak

 

“Si Fatahillah selalu saja nangis jika ingat dia tak akan bisa ikut ujian Mei nanti. Dia juga sedih ingat adiknya yang sekarang sedang sakit,”

Kesedihan ini diungkapkan Yusnidar usai menjenguk anaknya, Fatahillah, yang dirawat di ruang HCU Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin, Banda Aceh, kemarin (27/4).

Fatahillah menjadi salah seorang korban pada ledakan tambang minyak di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, dini hari kemarin (25/4).

Selain anaknya Fatahillah, istri, mertua dan abang ipar Yusnidar juga menjadi korban “Luka bakarnya mereka, kata paramedic rumah sakit rata-rata sampai 60 persen.”

Yusnidar kemudian menceritakan, musibah yang menimpa keluarganya tersebut. Saat itu dia sebenarnya tak berada di tempat. Sebagai mandor di perusahaan sawit yang ada di Peureulak, dia tak selalu ada di rumahnya. Paling tiga hari sekali dia pulang  ke rumah.

“Saya tahunya keluarga jadi korban dari cerita kawan yang mendapat kabar, tambang minyak di kampung saya meledak,” tukasnya.

Dikatakannya, saat itu usai apel pagi di perusahaan. Tiba-tiba seorang rekannya, juga mendapat kabar dari kerabat di Desa Pasir Putih, tambang minyak di sana meledak. Ada banyak jatuh korban hingga meninggal dunia. “Saya diberitahu, anak dan istri saya juga korban terbakar akibat tambang minyak meledak.”

Segera saja, secepatnya dia melaju mengendarai sepeda motor pulang ke rumahnya. Namun setibanya, beberapa kerabat memberitahukan anak istrinya telah di bawa ke rumah sakit terdekat. “Karena lukanya parah, dirujuk ke rumah sakit Zainoel Abidin ini. Telah dua malam disini.

Diungkapkannya, sebenarnya dia telah melarang keluarganya untuk tidak ikut-ikutan mengambil tumpahan minyak yang menyembur dari pertambangan tersebut. “Selain bahaya, saya sebagai kepala rumah tangga merasa cukup untuk membiayai kehidupan keluarga kami,” tukasnya.

Dari keterangan istrinya, pada malam itu, sekitar pukul 01.00 WIB, rumah mereka diketuk oleh salah seorang kerabat yang mengabarkan, tambang minyak menumpahkan minyak sangat banyak. “Mungkin karena tertarik, istri saya jadi ikut. Anak saya tak tau kenapa dia ikut juga?

Dikatakanya, Fatahillah anak keduanya tersebut telah minta maaf karena tidak mendengar nasehatnya yang melarang untuk ikut-ikutan mengumpulkan minyak.

“Sekarang dia kalau terasa sakit langsung nangis. Dia juga menangis, takut tak bisa ikut ujian. Ingat adiknya dia nangis lagi. Sekarang adiknya ikutan sakit karena ditinggal sendiri,” ungkap Yusnidar.

Untuk sekarang ini dia hanya bisa berharap, anak, istri, mertua dan abang iparnya dapat sekarang pulih seperti sedia kala. “Ya bagaimana lagi, ini kan cobaan. Saya telah usaha untuk ini tak terjadi, dengan nasehat tak ikut mengumpulkan minyak. Tapi ya sekarang sabar saja,” ucapnya.

Di ruang HCU berada di lantai dua RSUD Zainoel Abidin, selain Fatahillah, ada tujuh pasien luka bakar korban ledakan lainnya yang dirawat. Mereka ini rata-rata mengalami luka bakar, 50-60 persen.

Sementara Wakil Direktur Pelayanan RSUD Zainoel Abidin Dr.dr. Azharuddin, Sp.OT K. Spine, FICS kepada wartawan mengungkapkan, ada Sembilan pasien korban ledakan tambang minyak dirawat di RSUD Zainoel Abidin.

“Yang delapan, Alhamdulillah tidak membuat kita khawatir dirawat di HCU. Tapi yang satu lagi memang luka bakarnya hingga sekitar lebih dari 75 persen, perlu perawatan intensif dirawat di ICU,” ujar Azharuddin.

Namun, ujarnya, kepada yang delapan orang, walaupun lukanya kini tidak mengkhawatirkan, namun masih pemulihan luka bakar harus secara bertahap. “Mereka yang delapan ini, secara periodik masuk ke kamar operasi untuk pemulihan,” pungkasnya. (min)