Ghazali Abbas Adan dan Generasi Muda Pidie

Anggota DPD RI Perwakilan Aceh Drs Ghazali Abbas Adan bersama tokoh generasi muda Pidie di Banda Aceh yang tergabung dalam FOKUSGAMPI saat mendengarkan penjelasan tentang bendungan di Pidie dari Kepala Satker Bendungan Aceh, Asyari di Kantor Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Lueng Bata, Banda Aceh, Kamis (26/4/2018) sore.

DALAM rangka tugas kerja lapangan di daerah pemilihan (sebagaimana diamanahkan konstitusi dan peraturan tata tertib DPD RI), Anggota DPD RI Perwakilan Aceh Drs Ghazali Abbas Adan bersama stafnya berkunjung ke Kantor Balai Wilayah Sungai Sumatera I di Lueng Bata, Banda Aceh, Kamis (26/4/2018) sore. Ikut serta pula beberapa tokoh generasi muda Pidie di Banda Aceh yang tergabung dalam organisasi Forum Komunikasi Generasi Muda Pidie (FOKUSGAMPI).

“tujuan kita hadir di sini adalah untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP), bertemu dan berdiskusi seputar pembangunan Bendungan Rukoh dan Tiro yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berlokasi di Kabupaten Pidie dengan anggaran multy years APBN yang nilainya Rp 2,5 triliun,”kata Ghazali Abbas di awal pertemuan.

Dan dalam RDP tersebut dipimpin oleh Kepala Satker Bendungan Aceh, Asyari. Ia menjelaskan panjang lebar akan keseriusan Pemerintah Pusat untuk membangun kedua bendungan tersebut. Dimana kehadiran bendungan-bendungan itu sangat penting dan begitu besar manfaat bagi masyarakat Pidie.

Dijelaskannya bahwa Kabupaten Pidie merupakan daerah yang memiliki curah hujan relatif rendah, sedangkan areal sawahnya sangat luas. Ada dua Daerah Irigasi Teknis yang menjadi tanggung jawab pusat terletak di Kabupaten Pidie, yakni Daerah Irigasi Baro Raya (Sub DI Krueng Baro).

Pertama bendungan yang terletak di Krueng Baro dengan luas 11.950 Ha dengan kebutuhan debit 18,64 m3/detik. Kedua di Daerah Irigasi Tiro, bendungan terletak di Krueng Tiro dengan luas areal irigasi 6.330 Ha dengan debit kebutuhan 9,87 m3/detik.

“untuk kondisi saat ini, debit andalan saat musim kering/kemarau yang tersedia pada Krueng Baro hanya sebesar 4,86 m3/detik sedangkan Krueng Tiro sebesar 3,79 m3/detik,” jelas Asyari.

Dengan volume debit yang tersedia tersebut pada musim kering/kemarau, Daerah Irigasi Krueng Baro hanya mampu mensuplai air sawah seluas 3.115 Ha dan sisanya 8.835 Ha tidak terairi. Demikian juga Daerah Irigasi Krueng Tiro hanya mampu mensuplai air untuk areal sawah seluas 2.429 Ha, sementara sisanya 3.901 Ha tidak terairi.
Fakta ini jelas belaka, betapa areal sawah yang begitu luas di Kabupaten Pidie sangat sedikit mendapat suplai air dalam upaya memproduksi hasil pertanian. Padahal sektor partanianlah yang menjadi andalan bagi masyarakat Kabupaten Pidie untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Solusi Penyelesaian.
Menurut Ghazali Abbas Adan, berdasarkan penjelasan pihak yang berkempeten yakni Balai Wilayah Sungai Sumatera I, bahwa untuk menyelesaikan kebutuhan air bagi irigasi di hilir yang selama ini dialami masyarakat Kabupaten Pidie, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera I telah merencanakan pembangunan 2 (dua) bendungan besar di Kabupaten Pidie, yakni Bendungan Rukoh dan Bendungan Tiro, di mana kedua bendungan ini saling terkoneksi (dengan membuat gorong-gorong besar) satu sama lain.

“Bendungan Rukoh yang lokasinya luas sementara persediaan airnya sedikit, sebaliknya Bendungan Tiro lokasinya kecil sementara airnya banyak,” kata Ghazali Abbas.

Dengan koneksitas keduanya, lanjut Ghazali Abbas maka ia akan saling melengkapi, yakni air yang melimpah di Bendungan Tiro dengan lokasi kecil akan ditampung di Bendungan Rukoh yang lokasinya luas. Dengan demikian areal sawah di wilayah barat dan timur Kabupaten Pidie sepanjang tahun akan mendapat suplai air dari kedua bendungan itu.

Seperti diketahui, kehadiran kedua bendungan tersebut sangat besar manfaatnya bagi layanan Daerah Irigasi Krueng Baro seluas 11.950 Ha dan Daerah Irigasi Krueng Tiro seluas 6.330 Ha dengan Pola Tanam Padi-Padi-Palawija (3 kali tanaman). Untuk penyediaan air baku 0,845 m3/detik (Bendungan Rukoh) dan 0,845 m3/detik (Bendungan Tiro). Pembangkit Listrik 1,22 MW (Bendungan Rukoh) dan 2 MW (Bendungan Tiro).

“Dengan ini betapa besar rahmad dan anugerah Allah kepada hamba-hambaNya untuk dimanfaatkan demi kemakmuran dan kesejahteraan hidup mereka. Tinggal lagi bagaimana hamba-hamba Allah itu (dalam hal ini masyarakat Kabupaten Pidie) mampu mengelolanya demi mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi mereka,”ungkap Ghazali Abbas.

Oleh karena itu anggota Komite IV DPD RI yang membidangi keuangan ini berharap segenap pemangku kepentingan yakni segenap masyarakat Kabupaten Pidie, khususnya Pemda Pidie wabil khusus masyarakat yang tanahnya menjadi lokasi dua bendungan tersebut harus saling mendukung niscaya kedua bendungan itu dapat segera dimulai pembangunannya.

Adalah generasi muda Pidie yang tergabung dalam Forum Komunikasi Generasi Muda Pidie (FOKUSGAMPI) yang beberapa tokohnya ikut hadir mendamping Senator Ghazali Abbas Adan dalam pertemuan dan diskusi tersebut, mendukung sepenuhnya Proyek Strategis Nasional yang ada di Kabupaten Pidie, yakni pembangunan Bendungan Rukoh dan Tiro.

“Insya Allah dengan terbangunnya kedua bendungan tersebut masyarakat Kabupaten Pidie akan mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan dari anugerah Allah yang melimpah itu. Adalah Maha Benar Allah dengan firman-Nya ; Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kehidupan/nasib suatu kaum, apabila kaum itu sendiri tidak dengan sadar, pro-aktif dan sungguh-sungguh berusaha mengubahnya,”demikian Ghazali Abbas Adan.(*)