Krisis Nuklir Korea Korut Tak Mau Bernasib Seperti Libya

Parade Tentara Korea Utara / Net

Harianrakyataceh.com – Korea Utara tidak rela dipaksa oleh Amerika Serikat untuk menghentikan total program nuklirnya. Belajar dari Libya, menuruti semua keinginan AS bisa berujung maut bagi Korut.

Pernyataan tersebut dilontarkan Wakil Menteri Luar Negeri Korut Kim Kye-gwan. Dia merupakan salah seorang pejabat yang dihormati di Korut dan pernah melakukan negosiasi dengan AS sebelumnya.

Komentarnya bisa dipastikan sudah mendapat restu dari Jong-un. ”Korut memiliki harapan besar. Sayangnya, menjelang pertemuan, AS malah memprovokasi dengan pernyataan yang menggelikan,” tegas Kim Kye-gwan.

Yang dia maksud adalah pernyataan penasihat keamanan nasional AS John Bolton. Dia menyerukan agar Korut mengikuti jejak Libya dalam pelucutan program nuklirnya.

Komentar itu seperti sebuah peringatan bagi Korut. Hanya berselang beberapa tahun setelah Libya menyerahkan senjata nuklirnya, Muammar Kadhafi dibunuh oleh pemberontak yang disokong negara-negara Barat. Pemimpin Libya tersebut mati mengenaskan.

Korut pernah menyatakan, seandainya Libya mempertahankan senjata nuklirnya, Kadhafi pasti masih selamat.

”Dunia tahu bahwa negara kami bukanlah Libya atau Iraq yang mengalami nasib buruk,” tegasnya. Terlebih program nuklir Korut sudah maju, bukan dalam tahap awal pengembangan seperti Libya.

Itu bukan kali pertama Korut berang dengan komentar Bolton. Saat dia masih bekerja untuk mantan Presiden George W. Bush dulu, Bolton juga kerap mengeluarkan komentar yang membuat Korut panas. ”Kami tidak menyembunyikan kebencian kami kepadanya,” tegas Kim Kye-gwan.

Beberapa pengamat politik menilai bahwa langkah yang diambil Korut saat ini merupakan taktik agar negara tersebut memiliki daya tawar dalam pertemuan nanti.

Pakar Korea di UC San Diego School of Global Policy Professor Stephan Haggard punya pendapat berbeda. Menurut dia, ada dua kemungkinan yang membuat Korut berubah sikap.

”Yang pertama adalah Kim Jong-un sedang menguji pemerintahan Trump dan mencari tahu apa mereka bisa mendapat pengakuan. Yang kedua adalah mereka berubah pikiran dan hanya ingin mengakhiri saja,” tegasnya.

Secara terpisah, pemerintah Tiongkok berharap pembicaraan Korut dan AS tetap berlangsung. Hal senada diharapkan pemerintah AS.

Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders menegaskan bahwa negaranya tetap mempersiapkan pertemuan AS-Korut sesuai jadwal.

”Presiden siap jika pertemuan itu jadi digelar,” ujarnya. Jika tidak, AS akan melanjutkan aksinya untuk menekan Korut. (sha/c6/dos)