Tutup Pintu bagi Wisatawan Indonesia, Pariwisata Israel Merugi

Peziarah Indonesia di Israel (Haaretz)

Harianrakyataceh.com – Setelah Indonesia menutup pintu bagi wisatawan Israel usai terjadinya kekerasan tentara Israel terhadap warga Palestina di Gaza, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel memutuskan untuk membalas dengan langkah yang sama. Israel menutup pintu bagi wisatawan Indonesia yang ingin berkunjung ke negara kontroversial tersebut.

Padahal sekitar 30 ribu orang Indonesia mengunjungi Israel setiap tahun. Indonesia memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, namun dulu wisatawan Indonesia boleh berkunjung ke sana.

Keputusan Kemlu Israel menutup pintu bagi wisatawan Indonesia mengurangi pemasukan di sektor pariwisata Israel. Sebab mereka kehilangan sekitar 30 ribu wisatawan Indonesia yang pergi ke Israel per tahun.

Tutup Pintu bagi Wisatawan Indonesia, Pariwisata Israel Merugi
Israel menutup pintu bagi Indonesia (Jerusalem Post)

Sebagian besar wisatawan ke Israel merupakan umat Kristen Indonesia. Mereka biasanya berziarah ke Yerusalem untuk mengunjungi situs-situs penting keagamaan mereka yang pernah ditinggali oleh Isa Al-Masih.

Guna menghentikan hilangnya potensi bisnis dari wisatawan Indonesia, Israel Incoming Tour Operators Association atau Asosiasi Operator Tur Israel telah meminta pertemuan mendesak dengan pejabat pemerintah. Pertemuan ini akan membahas kerugian yang mereka derita, dan mereka minta harus ada pertimbangan.

“Kekacauan ekonomi bagi operator tur Israel, hotel, perusahaan bus, pemandu wisata, dan banyak agen tur lainnya tidak dapat kami terima. Tiket pesawat telah dibeli dan kewajiban untuk hotel dan penyedia layanan lainnya telah dibayar. Sekarang karena keputusan pemerintah sepihak, kekacauan ekonomi yang sangat besar telah terjadi,” kata Direktur Jenderal Asosiasi Tur Israel Yossi Fattal dilansir Hareetz, Kamis, (7/6).

Menteri Pariwisata Yariv Levin mengatakan, dia menilai keputusan Kemlu Israel adalah kesalahan. Ia juga meminta kementerian untuk mencabut langkah itu.

Kepala Eternity Travel di Yerusalem, Sana Srouji mengatakan, pada Juni ini perusahaannya mengharapkan lebih dari 2.200 peziarah Kristen Indonesia memakai jasanya. Namun sayang mereka tidak dapat memasuki negara itu.

“Ini adalah orang-orang yang mencintai Israel dan ingin mengunjungi dan juga menyumbang banyak uang. Mereka adalah turis yang telah membeli tiket pesawat dan sekarang harus membatalkan semuanya dan tidak akan menerima kompensasi,” katanya.

Srouji menjelaskan, perusahaan tur miliknya adalah satu dari 11 perusahaan Israel yang mengkhususkan diri dalam pariwisata Indonesia. Dia mengatakan, bagi mereka pelarangan itu berarti kebangkrutan untuk pasar ini. Sebab, kunjungan wisatawanlah yang memberi mereka keuntungan hingga 70 persen dari pekerjaan mereka.

Menurut Srouji, larangan itu juga memengaruhi pemandu wisata yang telah mempelajari bahasa Indonesia serta sopir bus, hotel, dan tempat wisata. Pihak yang beruntung dengan keputusan Kemlu Israel yang menolak wisatawan Indonesia adalah industri pariwisata di negara-negara tetangga, terutama Mesir, Yordania, dan Turki.

“Kami mencoba untuk bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata, namun mereka mengatakan tidak ada yang bisa dilakukan. Kami berharap setidaknya warga Indonesia dapat memperoleh visa untuk Juni yang kami ajukan karena orang-orang telah membuat reservasi hotel dan tur yang diselesaikan,” ujar Srouji bersikeras.

(ce1/iml/JPC)