Perjuangan Nikmat Merawat Habil Menolak mengemis walau berjalan dengan lutut

Nikmat (42), bersama dua anak kembarnya Habil (baju putih) dan Nabil, saat berada dirumahnya Gampong Tiba Masjid, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. ZIAN MUSTAQIN/RAKYAT ACEH

Dinding retak dan kayu mulai lapuk. Di dalamnya, tanpa kursi apalagi televisi. Tikar usang, pelapis lantai untuk para tamu yang datang. Di rumah semi permanen itu, Nikmat merawat tiga putranya.

Zian Mustaqim – Pidie

Warga Gampong Tiba Masjid, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie menafkahi keluarganya hanya bermodal becak. Padahal kebutuhan keluarganya berlipat.

Pria berusia 42 tahun ini derita cacat sejak kecil. Ia harus berjalan mengandalkan lutut.
Nikmat memiliki tiga putra; Abdul Mukti serta Habil dan Nabil (kembar) yang lahir empat tahun silam.

Diantara ketiganya, Habil tak seberuntung abang-abangnya. Ia juga berjalan dengan lutut, serupa ayahnya.

Tak hanya itu, sejak lahir telah diagnosa mengalami boncor jantung. Akibatnya pertumbuhan tubuhnya sempat mengalami penurunan selama dua tahun.

“Namanya Habil, dia hanya mampu berjalan dengan lutut, kedua kakinya juga mengalami cacat seperti saya. Iya, dia juga mengalami bocor jantung sejak kecil, dulu badannya tak seperti ini, dia kurus bagian jantungnya tampak menonjol keluar. Sekarang Alhamdulillah badannya sudah gemuk,” terang Nikmat, saat ditemui Rakyat Aceh.

Selama ini keluarganya sudah membawa Habil berobat ke sejumlah tempat, hingga Banda Aceh. Kata dokter, tak perlu dioperasi hingga Nikmat memilih berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tgk. Chik Di Tiro Sigli dan berobat rumah.

“Kami juga tak punya biaya berobat ke sana (Banda Aceh), saya cuma tukang becak. Memang pengobatannya gratis, untuk biaya hidup kami tidak cukup, jadi sekarang rawat di rumah saja,” jelasnya.

Hidup pelik yang melilit, tak membuat Nikmat patah semangat. Ia hanya berharap satu; Habil sembuh. Hanya itu sumber kekuatannya, walau sering matanya ‘berkaca’ membendung beban.

“Saya tidak pernah mengemis. Saya tetap narik becak untuk mencari uang, demi kesembuhan anak saya. Hanya itu harapan kami,” ucapnya sambil memilin senyum agar air mata tak mengalir.

Fadhlullah TM Daud, mendengar kabar kehidupan Nikmat. Tiga hari lalu, Wakil Bupati Pidie itu ditemani Teuku Syawal, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) setempat mendatangi rumahnya.

Fadhlullah mengaku siap membantu semua kebutuhan pengobatan Habil, selain apa yang ditanggung BPJS. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang melaporkan kehidupan Nikmat.

“Membangun pelayanan, sangat dibutuhkan stake holder dari semua elemen masyarakat. Laporkan segera kepada Pemkab dan dinas terkait, jika ada masyarakat yang membutuhkan serta dinilai luput dari pantauan pemerintah, agar segera ditangani, karena kami juga tak bisa bekerja tanpa bantuan masyarakat,” ungkapnya. (mai)