Lahan Gambut Rawa Tripa Kembali Dikuasai Perusahaan dan Penguasa

Kondisi lahan Gambut Rawa Tripa, Ahad (26/6). HENDRI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Hutan gambut Rawa Tripa yang pernah dibakar di Kabupaten Nagan Raya. Pada tahun 2012 silam. Ternyata kini mulai ditanami sawit kembali.

Seharusnya, kawasan tersebut merupakan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sebagai kawasan lindung gambut.

Untuk membuktikan informasi didapatkan bahwa hutan milik negara itu, telah ditanam tanaman sawit, Rakyat Aceh melihat langsung lokasi, untuk menuju lokasi harus melewati jalan milik perusahaan sawit di sana.

Dari pusat kota Nagan Raya, menghabiskan 2,5 jam.
Tidak mudah untuk masuk ke sana, karena pada jalan masuk ke dalam kebun itu, sudah ada pos penjagaan, bila tidak ada kepentingan dengan perusahaan itu, dilarang masuk.

Namun tim Rakyat Aceh ke lokasi menggunakan mobil pengangkut sawit milik salah seorang pekerja.

Setelah melewati jalan kebun milik perusahaan terbebesar di sana dan tiba di lokasi. Pada saat di lokasi, terlihat jelas tertanam pohon sawit yang telah ditanam tumbuh subur.

Hutan 1600 hektare ini terletak di dalam Hak Guna Usaha (HGU) PT Kallista Alam dan tanaman sawit yang tertanam itu, persis terletak di lokasi terbakar yang terletak di salah satu sudut dan hanya terpisah kanal dengan kebun yang sudah dulu ditanam kelapa sawit.

Di lokasi bekas terbakar, kini sudah dibagi menjadi beberapa blok. Sekitar tiga blok sudah ditanam kelapa sawit yang diperkirakan usianya sudah mencapai enam tahun. Dilihat dari dekat kanal, di sekeliling tanaman sawit masih terdapat semak belukar sehingga tingginya pohon sawit tertutup.

Juga ada lahan di sejumlah titik lain memang belum tergarap. Masih terlihat semacam tanah yang sudah dibersihkan, dikelilingi kanal yang dipenuhi air.

Menurut informasi, yang menanam sawit di lokasi ini, sejumlah masyarakat yang merupakan mantan kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). “Ada tiga blok yang sudah ditanam sawit,” kata staf Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Yusri, Selasa (26/6).

Menurutnya, lahan seluas 1600 hektare yang dibakar pada tahun 2010 dan diperkarakan pada 2012 itu kini berstatus milik negara. Seharusnya, di lahan ini tidak boleh dikuasai oleh kelompok atau perorangan. Selain itu, lahan tersebut juga tidak boleh digarap dan harus dikembalikan menjadi rawa gambut.

“Tapi kenyataan di lapangan sudah ada pembagian-pembagian, bahkan sudah tertanam sawit,” jelas Yusri yang sudah ke Kallista Alam sejak 2010 ini.
Sementara itu Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur, berharap tanah 1600 hektare yang sebelumnya dibakar itu seharusnya dihutankan kembali dan menjadi kawasan konservasi.

“Tapi dengan kondisi hari ini tanah itu terkelola bahwa ada koperasi, ada mantan kombatan GAM yang menguasai. Yang kita lihat selama ini adalah perang soal tanah. Jadi tanah itu jadi rebutan, ini yang menjadi masalah,” kata Muhammad Nur.

Selanjutnya Ia mengatakan, jadi yang muncul justru bukan pada perkara pidana atau perdata. Tapi melupakan soal hukum karena terjebak pada penguasaan tanah.

Lahan gambut di Rawa Tripa sendiri merupakan salah satu lahan gambut dari tiga lahan gambut terluas di Aceh, dengan kedalaman mencapai 12 meter. Lokasi ini memainkan peran penting bagi penyerapan karbon di Aceh. Berdasarkan hasil dari sejumlah penelitian, lahan gambut di Aceh diperkirakan menyerap karbon sebanyak 1200 ton perhektare.

Selain fungsi menyerap karbon, lahan gambut juga dapat mencegah banjir, membantu sektor perikanan dan menyediakan keragaman habitat bagi keragaman spesies. (ibi/rif)