Tiga Gajah Mati di Bumi Flora

Tim BKSDA bersama Dokter hewan melalukakn nekropsi terhadap bangkai gajah di area afdeling 6 perkebunan PT. Bumi Flora Desa Jambo Reuhat, Kecamatana Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Jumat (13/7). MAULANA/RAKYAT ACEH

IDI (RA) – Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo mengungkapkan kematian gajah di area PT. Bumi Flora merupakan kasus ke tiga kalinya. Terakhir bangkai gajah ditemukan warga Kamis, (12/7).

“Ada tiga ekor yang mati di area perkebunan itu. Untuk yang duanya penyebab kematian tidak diketahui, kondisi saat ditemukan sudah membusuk. Sementara yang satu baru ini mati akibat mengalami keracunan,” kata Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo, Minggu (15/7).

Kematian gajah ini menjadi rentetan daftar terbaru dalam catatan punahnya gajah liar di Aceh. Merujuk data total kematian gajah di Aceh terdapat 58 gajah liar termasuk jinak yang telah mati.

“Mulai 2012 sampai dengan 2018 ada 58 ekor gajah yang telah mati di Aceh. 24 ekor dari jumlah tersebut mati di daerah Aceh Timur dengan berbagai kasus,” beber Sapto.

Disinggung mengenai dominasi kasus kematian, Sapto merincikan untuk Aceh Timur sejak tahun 2016 hingga 2018, ada delapan kasus kematian gajah dengan sebab diburu baik dengan cara diracun dan ditembak.

“Tiga gajah matinya karena di racun, diburu dan ditembak,” katanya.
Selain itu, meminimalisir potensi konflik dan kematian gajah Sapto menyarankan agar pembangunan barier gajah segera direalisasi secara maksimal. Dalam hal itu pula, Sapto menilai pihak perusahaan atau swasta belum berkontribusi baik dalam menangani perkara itu.

“Ini harus banyak peran aktif pihak swasta. Kita melihat peran swasta masih belum terwujud dalam melakukan pembangunan parit gajah,” kata Sapto seraya mengharapkan kasus kematian gajah diarea perusahaan tidak terulang lagi dan diberikan sanksi tegas.

Periksa Karyawan

Kepolisian Aceh Timur bakal meminta keterangan pada karyawan PT. Bumi Flora terkait kematian gajah liar dalam area perkebunan perusahaan tersebut.

“Terkait kasus kematian gajah itu kita akan meminta keterangan dari karyawan perusahaan nantinya,” tegas Kapolres AKBP Wahyu Kucoro.

Sementara itu, Kapolres Wahyu juga mengaku belum mengetahui penyebab kematian mamalia dilindungi itu.

“Upaya lain kita telah berkoordinasi dengan BKSDA. Untuk mengetahui penyebab kematian tim inafis dan BKSDA juga telah mengambil sampel organ gajah untuk diperiksa ke lab forensik,” kata Wahyu. (mag-75/mai)